Komunikasi “Terbaik” Sepanjang Ramadan



Senin, 10 April 2023 - 09:06:10 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Seorang muslim diajarkan keseimbangan hubungan dengan Allah SWT (Hablum Minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minan Nas). Seorang Muslim itu memang dituntut melaksanakan shalat, dzikir, baca Quran, dan ibadah ibadah lainnya tapi ia harus pula menjalin hubungan ‘komunikasi’ dan berhubungan baik dengan orang lain.

Akan sia-sia amalan seseorang mengerjakan ibadah siang dan malam, namun komunikasinya tidak ‘harmonis’ dengan manusia lain. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengutip sebuah kisah menarik. Pada zaman Nabi Saw, ada seorang wanita yang rajin beribadah, puasa dan shalat malam, namun oleh Rasul Saw ia digolongkan sebagai ahli neraka (Hiya Fin Nar) karena hubungan dengan manusianya jelek alias berakhlak buruk --suka menyakiti tetangga dengan lisannya (RisalahIslam).

Ternyata berkomunikasi ‘santun’ dengan orang lain sangatlah dianjurkan. Hal-hal kecil, seperti bahasa yang digunakan, sering mengganggu kenyamanan kehidupan sesama manusia akan menggugurkan pahala kebaikan seseorang.  Seorang Muslim yang menjaga baik hubungannya dengan manusia lain akan mendapatkan ridho Allah SWT.

Orang yang beriman yang sedang berpuasa, disamping menjaga makan, minum dan hal yang membatalkan puasa, dia juga ‘harus’ menjaga tuturannya. Dia tidak boleh menuturkan kata-kata yang tidak pantas selama bulan suci Ramadhan untuk menjaga pahala dari ibadah puasa yang dilakukannya.

Dalam konteks puasa Ramadan, menahan lapar dan haus mungkin mudah bagi sebagian orang. Yang sulit adalah menjaga lisan supaya tidak bicara kasar dan bergunjing (Beritasatu). Ucapan atau kata–kata seseorang yang ‘menyakitkan’ merupakan sesuatu yang lebih berbahaya dari sebuah pukulan fisik. Dan ‘pukulan’ dengan ‘tuturan’ akan terasa lebih lama dari ‘pukulan’ fisik.

Orang yang berpuasa kadang kadang cepat ‘marah’ (kompas) dan berakibat sering berbicara emosional dan mengeluarkan ‘tuturan’ tidak pantas yang mengurangi nilai puasanya. Memang, mengucapkan kata-kata yang buruk memang tidak membatalkan puasa, tetapi ucapan buruk itu mengurangi pahala puasa (Republika).

Menjaga lisan selama puasa adalah menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang berdosa, yang menyakiti sesama manusia, ucapan kita membuat orang lain menderita. Sebaliknya, ucapan kita membuat orang semangat beribadah, kata kata kita membuat orang bergembira, komunikasi kita membuat orang ‘sembuh’ dari penderitaan..

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman, "Seluruh amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk Ku dan Akulah yang langsung akan membalasnya. Puasa itu adalah perisai. Maka jika seorang dari kalian tengah berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat hal yang tidak terpuji. Dan jika ada seorang yang mencela atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia berkata kepada orang itu, 'Saya sedang berpuasa'." (HR. Bukhari)

Dalam Islam, harus disadari bahwa setiap tuturan yang terucapkan akan diminta pertanggungjawabannya. Kesadaran ini mestinya menjadi landasan kita dalam berkomunikasi, dan selektif dan penuh perhitungan dalam dalam bertutur kata. Berkomunikasi baik didunia nyata maupun maya bukan sekedar ‘mengucapkan’ sekadar untuk mengisi waktu luang menunggu berbuka, orang yang berpuasa harus meyakini bahwa ucapannya termasuk bagian dari amalan.

Manusia tidak dapat lepas dari komunikasi. Lihat saja, 75% - 90% waktu kita (dari bangun), tidur, kita habiskan untuk berkomunikasi. “We cannot not communicate” (Paul Watzlawik). Kita tidak akan mampu tidak komunikasi, kelihatannya memang benar, apalagi di era digital saat ini.

Rasulullah Muhammad SAW selalu mempertimbangkan dengan siapa dirinya berbicara (Bakti). Ini mengindikasikan Beliau memahami kapasitas mitra tuturnya. Komunikasi yang dilakukan Rasulullah memperhatikan konteks percakapan: dengan siapa berbicara, dimana, kapan, topik apa. Dengan ‘menghitung’ konteks percakapan, ilmu, pesan yang disampaikan Rasulullah SAW bisa diterima, dicerna dengan mudah tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

Agar komunikasi kita berjalan dengan lancan dan member pahala kepada kita, maka kita perlu memperhatikan bagaimana Al-Qur’an memandu kita dalam berkomunikasi. Pertama, Qaulan Kariiman (mulia), sampaikanlah sesuatu dengan kata-kata yang mulia, hindarilah kata-kata yang hina, seperti mengejek, mengolok-ngolok hingga menyakiti perasaan orang lain. Berkomunikasi yang mu­lia tercermin dari pesan, cara serta tujuan yang mulia dan disampaikan dengan penuh hormat.

Kedua, Qaulan ma’rufan (baik), “Berkatalah yang baik atau diam” itu pesan Rasullulah kepada umatnya (UIN SGD). Hindari tuturan ‘unfaedah’, apapun yang diucapkannya harus selalu mengandung nasehat, menyejukkan hati bagi orang yang mendengarnya. Jangan biarkan lisan ini mencari-cari kejelekan, kesalahan dan hanya bisa mengkritik orang lain.

Ketiga, Qaulan Syadidan (lurus dan benar). Usahakan berkata benar, jujur jangan berdusta. “Katakanlah kebenaran itu, meskipun sangat menyakitkan”, sebuah pesan sangat fenomenal Rasullulah. Sampaikanlah kebenaran dengan penuh tanggung jawab. Jangan pernah merasa takut, ragu dan bicara tegas bila dasar hukumnya Al-Quran dan hadits (Marwah).

Keempat, Qaulan Balighan (tepat), katakan sesuatu dengan tepat, tidak boleh bertele. Menurut al-Ishfahani, ‘ucapan yang tepat’ memiliki kriteria: 1) pesannya sampai dengan sempurna; 2) tuturanya sesuai dengan ‘kebutuhan’ dan relevan dengan topik pembeicaraan; 3) kosa kata yang digunakan merupakan ‘lingua Franca (bahasa sehari hari) sehingga mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar; 4) sesuainya gaya bahasa dengan sikap lawan bicara.

Kelima, Qaulan Layyinan (lemah lembut, santun), katakanlah dengan penuh kelembutan, jangan membentak, apalagi meninggikan suara. ‘Hukum alam’, tidak ada ‘manusia’ yang nyaman berbicara dengan orang yang bahasanya kasar. Rasullulah SAW selalu bertutur kata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya Republika).

Komunikasi ini menyentuh hati (BeritaSatu). Tuturan yang santun pasti diawali dari ‘niat baik’ dan ‘suasana hati’ orang yang berbicara. Niat baik dan suasana hati yang mendorong kita untuk ‘mengeluarkan’ kata kata dengan nada penuh kesantunan. Kalau komunikasi sudah berjalan santun, maka kesepahaman, inshaallah, akan segera tercapai.

Keenam, Qaulan Maysura, ungkapkanlah sesuatu yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami. Sampaikan dengan kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembi­rakan (Bahrudin).

Dipertengahan puasa ramadan tahun ini, kita kuatkan niat untuk ‘berkata kata’ yang baik apalagi di media sosial. Wallahu a'lam bish-shawab!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi