Oleh: M. Ali Surakhman*
Dari jejak beberapa tahun yang lalu dari cerita duduk bersila sambil meneguk kopi bertemu katanya seorang pengelana sejarah sebut saja namanya WW yang ingin menyelesaikan sebuah buku yang berkisah tentang Sri Budha, buku yang terbit seketika, lalu menghilang, walaupun isinya luar biasa, dari duduk bersila keluarlah kisah Poros Maritim Nusantara, Jalur Rempah, sampai ke Ekspedisi Sungai Batang Hari, yang terakhir ini bukan perbincangan baru karena sudah dijadikan konsep beberapa kawan dan tertulisnya tahun 2014 masih kita simpan dan penggagasnya masih hidup semua dari beberapa perbincangan ini, dibawa si pengelana ke ibu kota, sehingga menjadi sebuah konsep program menjadi sebuah festival, karena kata festival tak membumi maka ia menjadi “Kenduri”, lalu kenduri apa ?, untuk mengingat pulau ini tak lepas dari sungai yang melahirkan peradaban, dimana saat itu “Sungai adalah jalan Raya dan Samudera Gelanggangnya” dan peradaban tersebut tak bisa lepas dari “Hulu dan Hilir”, karena pulau ini dulunya sering di sebut Suwarnadwipa, maka ide dasarnya Kenduri Suwarnadwipa.
Dari perdebatan panjang Suwarnadwipa, Sriwijaya, Suwarnabhumi dan belum putusnya kesepakatan sejarah, kemudian untuk menasbihkan peradaban hulu dan hilir, “Mengembalikan Sirih Pada Tangkainya, Pinang Pada Tampuknya”, ia menjadi Kenduri Suwarnabhumi. Dan para pencerita tadi tak pernah lagi muncul, mungkin saja ciri khas para pengelana itu,” cukup meninggalkan jejak dari tapak tapak penggelanaannya”.
Memasuki tahun kedua Kenduri Suwarnanbhumi, walaupun belum menemukan pakem yang pas, dan daerah belum bisa menterjemahkan garis merahnya, bagaimana pesan pesan nilai nilai dari kisah Suwarnabhumi ini bisa menjadi satu kekuatan penghubung antara pusat dan daerah, antara birokrat dan rakyatnya, sehingga nilai nilai tersebut hidup di memori para kawula muda menjadi api penyemangat yang baik dalam bernasionalisme.
Ada baiknya kita baca lagi isi prasasti Padang Roco adalah suatu prasasti yang ditemukan pada tahun 1911 di hulu sungai Batanghari, kompleks percandian Padangroco, nagari Siguntur, kecamatan Sitiung, kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Prasasti ini merupakan suatu lapik (alas) arca Amoghap??a yang pada empat sisinya terdapat manuskrip (NBG 1911: 129, 20e). Prasasti ini dipahatkan 4 baris tulisan dengan aksara Jawa Kuna, dan memakai dua bahasa (Melayu Kuna dan Sanskerta) (Krom 1912, 1916; Moens 1924; dan Pitono 1966). Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.198-6468 (bagian alas atau prasasti) dan D.198-6469 (bagian arca).
Pokok prasasti
Pokok dari prasasti tersebut adalah sebagaimana yang diterjemahkan oleh Prof. Slamet Muljana[1]:
Bahagia ! Pada tahun ?aka 1208[2], bulan B?draw?da, hari pertama bulan naik, hari M?wulu w?ge, hari Kamis, Wuku Mada?kungan, letak raja bintang di baratdaya ..... ..
......... tatkalai itulah arca paduka Amoghap??a loke?wara dengan empat belas pengikut serta tujuh ratna permata dibawa dari bh?mi j?wa ke swarnnabh?mi, supaya ditegakkan di dharmm??raya,
sebagai hadiah ?r? wi?war?pa kum?ra. Untuk tujuan tersebut p?duka ?r? mah?r?j?dhir?ja k?tanagara wikrama dharmmottunggadewa memerintahkan rakry?n mah?-mantri dyah adwayabrahma, rakry?n ?ir?kan dyah sugatabrahma dan
samagat pay?nan ha? d?pankarad?sa, rakry?n damun pu w?ra untuk menghantarkan p?duka Amoghap??a. Semoga hadiah itu menciptakan gembira segenap rakyat di bh?mi m?layu, termasuk br?hma?a, ksatrya, wai?a, s?dra dan terutama pusat segenap para ?ryya, ?r? mah?r?ja ?r?mat tribhuwanar?ja mauliwarmmadewa.
Transliterasi teks prasasti
Salam sejahtera.
Dia, yang memelihara keyakinan dengan ada, Dia, yang memiliki jiwa yang agung, Dia, yang berbudi agung yang selalu dicintai, Dia, yang mengetahui pokok kitab suci, Dia, yang paling unggul, yang sangat taat dan melatih diri, dan Dia yang berkarakter agung, Dia, yang semua ini karena sandoha Anda dan keinginan Anda, Dia yang mengetahui dan mengalahkan musuhnya, Dia yang membenci (kegelapan) perpecahan, Dia yang paling hebat, Dia adalah ?dityavarmodaya.
Dia yang diberkahi dengan semua kebajikan, Dia yang sangat berpengalaman dalam perdagangan senjata, dan fasih dalam segala ilmu, Dia bagaikan samudra kebajikan seperti yang diharapkan oleh umat Buddha, Dia yang kenal bagaimana menangani hal-hal dengan bijaksana, Dia yang mengisi tubuh dan nafsunya dengan kesucian, Dia yang [...][Catatan 1] sampai apa-apa, Dia yang sudah memperoleh kekayaan dan emas, Dia Deva (K?atriya) Tuhan, para Patih.
Pratista kehormatan Buddha sudah dilakukan oleh Acarya (Pendeta guru) Dharma?ekhara, atas nama Gaga?agañja, Dia yang rendah hati seperti Mañju?r?, sudah ditahbiskan untuk keselamatan (persatuan) dan kebahagiaan dari semua makhluk oleh Devair Amoghap??a, Dia Raja yang Agung ?dityawarmman.
saat Matahari pada orbitnya pada tahun 1269 Saka[Catatan 2], [...][Catatan 1] saat bulan purnama pada waktu posisi bintang di utara; yoga di Siddhi, dan setengah jam K?ru?ya; muh?rta svar?t; memulihkan keadaan sebelumnya[Catatan 3]; [...][Catatan 1].
Salam (untuk anda), dari dukungan seluruh dunia, yang menguasai emas, yang mengetahui segala tingkatan hidup dan sosial.
Dia yang memiliki ilmu mendalam tentang Mahayana yang tiada terbatas, Dia yang sudah menaklukan bahaya dan mengumpulkan seluruh permata dari jari-jari musuhnya, Dia di antara para penguasa di dunia ini, Dia yang sudah sampai keagungan.
Mahar?j?dhir?ja ?r?mat ?r?-Uday?dityavarmma Prat?papar?krama R?jendra Maulim?li Varrmmadeva, Dia yang berkuasa untuk dikenal semua.
di negeri yang memiliki emas, indah dengan kicauan burung dan gajah serta aroma hutan menyenangkan yang dihiasi oleh peri surga dengan kolam yang dikunjungi oleh M?ta?gini?a dan Asura'.
Tuan dari semua Dewa, sandoha yang sangat berlimpah h?h? [...][Catatan 1].
h?h?h?h?, yang dinikmati [...][Catatan 1], indah bagaikan bulan purnama saat posisi rasi bintang yang patut, yang dihiasi oleh kegunaan hatinya, dan di bawah nama Udayawarmmagupta, pemimpin dari semua penguasa dunia, yang sudah melepas dari wujud Jina datang ke bumi untuk membantu dunia menghapus perasaan hampa di M?ta?gini (ratu).
Semoga [...][Catatan 1] dari M?ta?gini yang melindungi bumi ini dari pembusukan, menikmati harta yang sudah dikumpulkan karena prestasinya sebagai prajurit, dengan kekuatan kemurahan (pengampunan), Dia yang bersabar, Dia yang menahan diri, Dia yang rendah hati dari keturunan yang sangat patut, Dia, Patih [...][Catatan 1] yang sudah menunjukkan keunggulannya dalam menghukum orang jahat.
Patung yang berdiri ditempat pemujaan Buddha (Jina) ini adalah Tuan yang Agung Amoghapasa sebagai sinar Udaya (Matahari terbit) yang indah.
Dengan tangan (kekuasaan) [...][Catatan 1] yang setuju dengan kebenaran, mereka yang sudah sampai ketenaran dengan menaklukkan musuh-musuh kerajaan, yang memiliki penampilan bagaikan seperti anak panah Tuhan, demi kemenangan tertinggi untuk Malayapura, yang berpengalaman dalam segala hal, yang unggul dan diberkahi dengan banyak kebajikan, Dia adalah deva-tuhan, para (patih) adipati.
Udaya yang bersinar di atas gunung (Matahari terbit)[Catatan 4], berbakti untuk Udaya [...][Catatan 1] Udaya yang rendah hati, yang ditakuti musuh, yang agung di bumi ini.
Dibaca berkali kali, dan kita tidak akan memperdebatkan penafsiran masing masing kita, terserah bagaimana menafsirkanya, namun maksud yang baik dari sebuah Kenduri, adalah menjahit dan merajut bagian bagian yang terpecah, sehingga menjadi sebuah ikatan, kekuatan, walau berbeda warna dan ragam, warna dan ragam menjadi penambah estetika dan keindahan dalam sebuah ekosistem kebudayaan, kita berharap kenduri ini bukan sekedar seremoni seromoni saja, namun dengan energi besar yang akan dikeluarkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih baik, hakikat silahturahminya bisa didapat, pesan mendidik bagi kawula muda bisa sampai. Dan bisa mengakomodir 10 objek pemajuan Kebudayaan dari Kabupaten Kota di Provinsi Jambi yang dilalui Kenduri Suwarnbhumi ini, dan implementasi UU No 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan dapat terus berjalan.
Namun belajar dari yang lalu sebuah kerja bisa berhasil, bisa tidak, bisa maksimal, bisa juga sekedar ada, dan yang sering kita lupakan cara cara tua bagaimana memulai sebuah hajatan, yaitu ritual memohon berkah pada Pemilik Alam Semesta, pemilik tanah, air, hutan dan laut, dan terjemahan prasasti diatas bukan sekedar hiasan tulisan ini, namun untuk dimaknai, bicara Suwarnabhumi berarti bicara pulau ini, bicara aliran airnya, bicara di mana sumbernya, dimana ibunya, dimana puncaknya ?, puncak Suwarnabhumi, puncak pulau emas yang mengalirkan emas sampai ke hilir, semoga kita bisa “Mengembalikan Sirih Pada Pangkalnya, Pinang Pada Tampuknya”, Semesta Memberkati Kita Semua.
HILANGNYA PERANAN KATO NAN AMPEK DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DIMINANGKABAU
Geger Simpang Siur Lahan, Benarkah Anggaran Rp12 M Bengkak Jadi Rp15 M? Ini Fakta Mengejutkannya!

