Big Data Seharga Rp400 Miliar



Selasa, 15 Januari 2019 - 08:17:47 WIB



KAGET campur heran. Banyak orang mengalami itu. Gara-gara munculnya Gojek. Aplikasi pintar itu. Ada lagi aplikasi lainnya. Yang sejenis. Grab dan Uber. Sama-sama pintar. Punya cara kerja yang sama. Ya, Transportasi Online. Yang kini banyak digandrungi orang. Terutama kalangan milenial. Memudahkan kerja. Untuk antar jemput. Pemesanan makanan. Mengantar barang. Sampai pijat badan. Hehehe…

Cara kerjanya tidak terlalu rumit. Instal dulu aplikasinya. Dari situ data-data kita mulai terkonfirmasi. Setelah masuk aplikasi. Tinggal pilih menu. Mau antar jemput atau pemesanan makanan. Atau pijat tadi. Soal pembayaran. Sudah tercantum langsung biayanya. Caranya juga praktis. Mau bayar cash atau pakai Go-Pay. Informasi tarif pembayaran otomatis muncul dilayar HP. Aplikasi segera memproses pesanan. Dengan menggunakan algoritma yang rumit. Secara otomatis aplikasi melakukan pencarian driver terdekat. Sesuai pesanan.

Soal aplikasi pintar ini. Tidak banyak lagi yang kaget. Mungkin. Tapi masih banyak yang heran. Dari mana transportasi online itu dapat untung? Bahkan, para dirver juga banyak yang heran. Mereka tak mampu berfikir. Apalagi harus menjelaskan. Bagaimana perusahaan startup ini mengeruk untung.

Gojek misalnya. Tiap bulan bakar uang sampai USD30 juta. Atau setara Rp 400 Miliar. Untuk apa?. Gojek gelontorkan dana sebanyak itu?

Untuk mendapatkan database. Gojek mau membakar uangnya ratusan miliar. Untuk investasi jangka panjang. Database itu. Banyak pula yang bertanya. Untuk apa database?

Bagi sebagian orang. Tidak pernah tahu. Pentingya database. Dari database itu. Pemilik Gojek akan mengcreate ekosistem. Mengcreate transaksi. Memetakan kecenderungan orang. Dari situ mereka kuasai ekonomi negara. Atau wilayah tertentu. Kuasai database. Kuasai ekonomi negara. Kelihatannya sederhana. Tidak masuk akal. mungkin begitu asumsi kita. Orang awam.

Tidak Bagi gojek. Database penting. Biarlah rugi Rp 400 miliar perbulan. Tapi nanti untung bertriliun-triliun perhari. Bukan perbulan. Kalaulah ini berhasil. Tamatlah kita?.

Sebenarnya tak perlu khawatir. Gojek adalah startup asal Indonesia. Startup pertama hasil kreasi anak bangsa.  Gojek kini punya armada satu juta pengemudi. Termasuk sepeda motor, mobil dan truk. Se Indonesia. Dengan 125 ribu mitra usaha. Dan 30 ribu penyedia jasa. Gojek memfasilitasi lebih dari 100 juta transaksi. Setiap bulannya. Diluar itu, Grab adalah startup asal Singapura. Sementara Uber dari Amerika Serikat.

Tiga startup ini berkompetisi. Bersaing. Mencari database sebanyak-banyaknya. Membuat transaksi sebanyak-banyaknya. Basis data yang dicari. Misalnya komponen informasi yang tersimpan. Antaralain data driver, koordinat lokasi, data gopay, data konsumen, kecenderungan konsumen dan lain-lain.

Tapi, kita menjadi khawatir. Karena saham Asing sudah masuk Gojek. Pada Agustus 2016, investor asing menyuntikkan dana sebesar 550 juta dolar AS atau setara Rp 7,2 triliun ke Gojek. Seperti KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, dan Capital Group Markets. Pada awal 2017, Tencent dan JD.com masuk lagi. Ini adalah dua perusahaan raksasa asal Cina. Tencent adalah pesaing kuat Alibaba (Jack Ma). Tencent menginvestasikan dana 150 juta dolar AS atau Rp 2 triliun. Perusahaan e-commerce JD.Com, ikut masuk ke Gojek. Dengan dana 100 juta dolar AS atau setara Rp 1,3 triliun.

Pada akhir Januari 2018, Google, melalui perusahaan induknya, Alphabet. Juga menyuntikkan modal ke Gojek. Tidak disebutkan secara pasti nilai investasinya. Tapi, Google tidak masuk sendirian. Google menggandeng Temasek Holding. Perusahaan online asal Tiongkok Meituan-Dianping. Serta sejumlah investor lama Gojek. Untuk bersama-sama menggelontorkan dana segar. 1,2 miliar dolar AS atau Rp 16 triliun. Dari dalam negeri, PT Astra International Tbk turut melakukan suntikan dana. Nilainya sebesar 150 juta dolar AS atau setara Rp 2 triliun.

Jika ditotal, 97% saham Gojek sudah lepas. Mayoritas dikuasai China. Saham Anak bangsa hanya tersisa 1 %. Ada yang 2 %.  Artinya. Anak bangsa memiliki saham kecil. Sebaliknya, Asing punya saham terbesar.

Bayangkan. Investor masuk dengan dana USD1 billion. Mengambil alih langsung 97%. Yang founder disisain 3%. Besok mereka masuk lagi. Membeli saham lagi. Kepemilikan founder turun lagi . Lama-lama selesai. Habislah Gojek.

“Ini masalah kita semua. Kita berpikir senang kalau ada investor asing. Tapi jangan lupa, begitu mereka kuasai, 5-10 tahun lagi perusahaan ini akan membesar, menghasilkan deviden,” ungkap Chairul Tanjung, bos Trans Corp dalam Seminar Nasional dan Kongres ISEI XX 2018 di Bandung, Jumat (10/8/2018) lalu.

CT mengungkapkan rasa khawatir. Ihwal Gojek itu. Yang mayoritas sahamnya sudah milik asing itu. CT mencontohkan dividen saat ini. Mencapai Miliaran dollar. Dibayarkan Indonesia ke luar negeri.

“Itu juga yang membuat kita defisit. Sudah (kepemilikan saham orang Indonesia) tambah kecil, tambah kecil, dan akhirnya akan hilang,” tuturnya.

CT mengingatkan. Jangan berpikir Gojek itu milik anak bangsa. Jangan berpikir Tokopedia itu milik anak bangsa. Jangan berpikir semua yang ada saat ini milik anak bangsa.

“It’s a real Bulshit…!!,” kata CT.

Kenapa? Karena model bisnisnya membuat hal seperti itu. Kata CT. Dulu diawal-awal pemerintah berjanji mempersulit investasi asing. Faktanya justru malah buka pintu lebar untuk asing. Sementara pemerintah menganaktirikan pengusaha dari negeri sendiri.

“Perusahaan seperti Gojek itu kan harusnya bisa di bantu pemerintah, sehingga tak perlu lepas 97% sahamnya ke china, ini soal komitmen,”ulas CT.

Kekhawatiran CT. Adalah kekhawatiran kita semua. Para investor mau membakar uangnya. Untuk mendapatkan database tadi. Kalaupun harus bayar mahal. Tidak jadi masalah. Sebagai investasi jangka panjang. Dari database itu mereka nanti mencoba mengcreate yang namanya ekosistem. Lewat gopay misalnya. Abang-abang ojek cuma jadi alat Gojek. Untuk mencapai tujuannya. Intinya adalah transaksi.

Semua jenis produk yang dikeluarkan. Ujungnya untuk transaksi. Dan database pelanggan. Kuasai informasi kuasai dunia. Kuasai perputaran uang, anda kuasai seluruh dunia. Ini yang sedang diterapkan Gojek, Grab dan Uber. Itulah yang dilakukan Jack Ma. Di China. Kuasai e-commerce, lalu buat J&T, perusahaan logistik keren 1 hari sampai. Buat apa? Buat melihat lebih jeli peta pergerakan uang. Dan transaksi di grass root. Dan apa selanjutnya?.

Ujungnya, mereka semua akan membuat lembaga keuangan non bank. Untuk kuasai transaksi, database, dan dunia. Siapa yang menguasai informasi akan menang. Dari situ mereka mau menguasai ekonomi Indonesia. Lewat transaksi. Lewat database. Kalau ini berhasil, tamat-lah kita. Karena Gojek sudah jatuh ketangan Asing. Inilah yang dikhawatirkan CT. Pengusaha besar itu.(muawwin/jambilink/diolah dari berbagai Sumber)

 



Artikel Rekomendasi