DER Spiegel terpaksa menanggung malu. Gara-gara ulah wartawannya. Claas Relotius (33). Yang kelewat ambisius itu. Demi memproduksi cerita dahsyat. Relotius mengarang cerita. Dan menciptakan protagonis laporan investigasi.
Ada 14 artikel hasil manipulasi. Cerita karangan. Dan wawancara fiktif yang ia produksi. Dari 60 artikel yang ia buat untuk Der Spiegel. Sejak ia bergabung Sebagai Freelancer disana. Sejak tahun 2011 silam. Sebenarnya Relotius baru resmi direkrut Der Spiegel tahun 2017.
Sepandai-pandainya tupai melompat jatuh juga. Begitupula yang dialami Relotius. Gara-gara ulahnya. Der Spiegel geger. Jerman ikut geger. Relotius langsung dipecat Senin 17 Desember 2018, bulan lalu.
Di Jerman. Der Spiegel adalah majalah Investigasi yang terbit Mingguan. Berdiri pada tahun 1946. Didirikan oleh Rudolf Augstein. Seorang jurnalis Investigasi di Jerman. Ia meninggal pada 7 November 2002. Dua hari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-79.
Laporan investigasinya selalu dinanti-nanti. Fokus pemberitaannya terkait dengan penyalahgunaan kekuasaan. Dan penyelewengan kepentingan publik. Kalau di Indonesia, Der Spiegel tak ubahnya seperti Majalah Tempo.
Kantor Der Spiegel berdiri menjulang di HafenCity, Hamburg. Gedungnya mewah berarsitektur modern. Dengan jendela berbingkai baja putih dan fasad kaca. Mirip-mirip seperti gedung Graha Pena. Milik Jawa Pos Group. (Lihat fotonya di Google).
Bagi Jawa Pos. Bentuk bangunan Graha Pena itu ingin menggambarkan tentang jaringan. Transparansi. Dan komunikasi. Boleh jadi Itulah esensi Der Spiegel. Yang harus dipahami publik.
Augstein dan sejumlah jurnalis Der Spiegel pernah berurusan dengan Menteri Pertahanan Jerman. Franz Josef Strauss. Pada tahun 1961. Gara-gara investigasi Der Spiegel. Tentang skandal suap pembangunan fasilitas militer. Der Spiegel dituduh menyebarluaskan rahasia negara. Augstein langsung ditangkap. Dan ditahan selama 103 hari. Bersama sejumlah jurnalis Der Spiegel.
Penangkapan tersebut menjadi perhatian publik. Ribuan orang turun ke jalan. Memprotes penahanan tersebut. Isu kebebasan pers mencuat ke permukaan. Skandal ini kemudian diakhiri dengan mundurnya Strauss dari jabatan. Dan dibebaskannya para jurnalis Der Spiegel. Termasuk sang pemiliknya. Augstein.
Sejak saat itu Der Spiegel dikenal sebagai majalah mingguan investigasi terkemuka di Jerman. Ditangan Augstein, oplah majalah Der Spiegel tembus satu juta eksemplar.
Pertengahan Desember 2018 kemarin. Der Spiegel menerbitkan permohonan maaf yang sangat panjang kepada para pembacanya. Pada edisi Minggu ketiga Desember 2018. Der Spiegel juga langsung memecat Relotius. Wartawan investigasi andalannya itu.
Spiegelgate. Langsung jadi tranding topik. Di Media sosial Jerman. Malunya minta ampun. Image Der Spiegel sebagai majalah investigasi terkemuka langsung hancur. Der Spiegel dicemooh. Dihujat. Dicibir.
Tino Chrupalla. Anggota parlemen Jerman. Menulis di laman Facebook. Menyematkan Der Spiegel sebagai majalah pembohong. “Tuduhan ‘pers Pembohong’ tepat untuk kasus ini.” Tulisnya.
Bagaimana skandal Relotius ini terjadi?. Yang menyebabkan hancurnya kredibilitas Der Spiegel itu?. Yang menyebabkan karier Relotius itu langsung tamat?.
Berawal dari laporan investigasi yang ditulis Relotius. Tentang profil warga kulit putih Amerika. Yang kerap melakukan kejahatan dan pembunuhan di Perbatasan AS-Meksiko. Awal 2017 lalu. Ia menulis cerita penembakan yang dilakukan warga AS. Pada suatu malam. Terhadap warga Meksiko. Secara keji dan biadab. Berita itu seakan-akan mendeskreditkan Amerika. Yang dianggap tidak bisa menciptakan perdamaian. Disisi lain. Laporan investigasi itu menguntungkan Trump. Yang saat itu sedang kampanye hendak membangun tembok diperbatasan Meksiko.
Sebagai jurnalis handal. Relotius membuat laporan sangat detail. Berita itu kemudian dimuat Der Spiegel. Dengan judul utama “In a Small Town.”. Artikel dimuat dalam 23 halaman. Dalam tiga kali terbit. Relotius mencoba menjelaskan. Mengapa pemilih di kota Midwest yang khas. Berbondong-bondong datang mendukung Donald Trump menjadi presiden. Karena isu pembangunan tembok perbatasan itu.
Rupanya cerita-cerita itu fiktif. Hanya karangan Relotius saja. Ia memasukkan narasumber yang tak pernah ia temui dan diajak bicara. Ia menciptakan karakter para pelaku penembakan. Yang sebenarnya hanya imajinasi belaka. Deskripsi cerita ia peroleh dari media lain. Dari rekaman video. Ia mulai menciptakan cerita sendiri. Secara lebih dahsyat.
Juan Moreno. Rekan sesama jurnalis yang menjadi co-author (penulis pendamping) di salah satu artikel Relotius. Dialah yang berhasil membongkar kedok Relotius itu. Moreno curiga. Saat melakukan perjalanan ke Amerika. Untuk menulis berita lainya. Di lokasi dan TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang sama. Moreno banyak menemukan fakta berbeda. Moreno mengumpulkan bukti untuk membenarkan kecurigaannya.
Dari laporan Investigasi yang ditulis Relotius. Moreno menemukan. Dua sumber yang dikutip dalam kisah itu tidak pernah berbicara kepada Relotius. Selain itu, Relotius juga berbohong. Tentang melihat tanda yang menyatakan ” Mexicans keep coming out.” Padahal. Dari temuan Moreno dilapangan tanda itu tidak pernah ada.
Banyak unsur-unsur lain dari artikel itu yang tidak sesuai. Ketika Moreno memberi tahu Der Spiegel tentang kecurigaannya. Awalnya dia tidak dipercayai. Butuh waktu cukup lama bagi Moreno. Untuk meyakinkan dapur redaksi Der Spiegel. Bahwa laporan Investigasi Relotius banyak kejanggalan.
“Kisah Relotius berakhir dengan tembakan oleh para pria milisi,” kata Moreno.
Targedi penembakan itu justru ditulis dalam draf kedua. Bukan yang pertama.
“Ketika saya menyaksikan seseorang menembaki orang-orang Meksiko, saya tidak menyimpannya untuk berita kedua, itu lebih cenderung menjadi berita pertama,”kata Moreno.
Dalam satu laporan investigasi itu. Relotius mengirimkan sebuah foto. Tentang seorang pejabat kota sedang bersama kekasihnya. Sebelum tragedi berdarah di perbatasan Meksiko itu terjadi. Pejabat itu selalu membawa pistol Beretta. Setiap kali bekerja. Menurut Relotius. Pejabat itu mengaku belum pernah melihat lautan dan itu adalah kekasih pertamanya.
Padahal, foto itu berasal dari para penulis Fergus Falls. Yang membuat foto pejabat itu. Yang dalam perjalanan liburan ke lautan bersama kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu. Pejabat itu mengatakan tidak memiliki Beretta. Dan tidak pernah membawa senjata ke tempat kerja.
Gambar lain dalam artikel Relotius. Menunjukkan seorang pria yang digambarkan sebagai “pekerja pabrik batu bara.” Pada kenyataannya. Gambar itu adalah seorang pekerja United Parcel Service. Yang pernah mengelola gym lokal. Relotius juga memiliki gambar seorang wanita Meksiko. Yang ia klaim memiliki restoran Meksiko. Dan menderita penyakit ginjal. Pada kenyataannya, dia adalah seorang pelayan di restoran milik saudari iparnya. Tetapi tidak pernah diwawancarai. Dan tidak menderita sakit ginjal.
Dalam contoh lain. Relotius menggambarkan penduduk setempat menonton Super Bowl. Di tempat pizza yang tidak buka pada hari pertandingan. Relotius juga menulis seorang pengunjung lokal memiliki jendela yang menghadap ke pembangkit listrik tenaga batu bara. Padahal kenyataannya restoran itu berada di bawah tanah tanpa jendela.
Cerita yang paling banyak dipublikasikan Relotius ini. Sebenarnya bertujuan untuk mengungkap penderitaan para imigran. Dan keluarga minoritas di Amerika. Ia menciptakan framing dan narasi tingginya sikap anti Amerika. Oleh kelompok imigran. Relotius juga mengklaim telah wawancara lewat telepon dengan orang tua Colin Kaepernick. Kisah penipuan lainnya yang melibatkan seorang tahanan Yaman di Teluk Guantanamo.
Moreno memulai penelitiannya sendiri. Melawan kehendak editor Der Spiegel. Dan hampir dipecat karena tuduhannya yang berulang kali itu. Kecurigaan Moreno tidak pernah dipercaya oleh bosnya. Editor Der Spiegel selalu membela Relotius. Dan malah menuding Moreno memfitnah.
Moreno berhasil meyakinkan Der Spiegel. Dengan bukti-bukti sahih. Dan Der Spiegel menyimpulkan Relotius telah berbohong. Kedok Relotius selama bertahun-tahun akhirnya terbongkar. Relotius tak bisa mengelak. Ia pun akhirnya mengaku. Ozlem Gezer, wakil kepala bagian “Gesellschaft” (masyarakat) Der Spiegel. Atasan langsung Relotius langsung memecatnya.
Sialnya, Relotius malah mengungkap fakta lain. Yang makin menjatuhkan kredibilitas Der Spiegel. Bahwa sebenarnya tidak hanya satu artikel. Tapi ada 14 artikel hasil manipulasi. Dari 60 artikel yang pernah ia tulis untuk Der Spiegel.
Awal tahun 2017 misalnya. Relotius mewawancarai Traute Laufrenz yang berusia 99 tahun. Yang merupakan satu dari kelompok perlawanan anti-Nazi, di Charleston. Yang satu-satunya masih hidup. Tetapi sebagian dari teks dan rincian kapan wawancara itu berlangsung hasil karangan Relotius. Ia melakukan penipuannya dengan sengaja. Memasukkan narasumber dalam cerita yang belum pernah ia temui atau ajak bicara. Menceritakan kisah mereka atau mengutipnya.
Relotius adalah salah satu jurnalis Jerman paling handal. Ia langganan memperoleh penghargaan bergengsi bidang jurnalistik. Saat kedoknya terbongkar. Ia baru 16 hari menerima penghargaan European Press Prize. Yaitu penghargaan bagi jurnalis di 47 negara di Eropa. Ia pernah mendapatkan penghargaan tersebut di tahun 2013, 2015, dan 2016.
Jurnalis usia 33 tahun itu juga pernah terpilih sebagai “Journalist of the Year”. Versi CNN di tahun 2014. Ia juga memenangkan European Press Prize tahun 2017. Ia mendapatkan penghargaan bergengsi Deustcher Reporterpreis 2018 di Berlin. Untuk kategori reportase terbaik. Deutscher Reporterpreis merupakan ajang penghargaan tahunan yang diberikan kepada para jurnalis terbaik di Jerman.
Penghargaan Reporter of the Year Jerman itu. Untuk laporan investigasi tentang seorang anak muda di Suriah. Ada lagi laporan investigasinya yang masuk nominasi. Tentang anak-anak irak yang diculik ISIS. Dan anak-anak yatim piatu di Suriah yang dipekerjakan paksa di toko pakaian Turki. Sialnya, laporan-laporan itu rupanya karangan belaka.
Sebelum bergabung Der Spiegel. Relotius telah menulis berita investigasi untuk beberapa koran dan majalah. Antaralain Cicero. Neue Zurcher Zeitung am Sonntag. Financial Times Deutschland. Die Tageszeitung. Die Welt. Süddeutsche Zeitung Magazin. Weltwoche. Zeit Online. Dan Frankfurter Allgemeine Sonntagszeitung.
Der Spiegel menyatakan skandal itu sebagai titik terendah dalam sejarah 70 tahun majalah itu berdiri. Serikat jurnalis Jerman menyatakan hal itu sebagai skandal penipuan terbesar jurnalisme. Sejak buku harian Hitler. Yang diterbitkan majalah Stern pada tahun 1983. Yang kemudian terbukti sebagai sebuah pemalsuan.
Relotius sebenarnya tidak 100 persen mengarang cerita. Fakta-fakta kasus yang ditulis memang ada. Dan benar terjadi. Hanya saja, ia memanipulasi fakta itu. Dengan menambah cerita-cerita fiktif. Atau imajinasi belaka. Supaya laporan investigasi lebih dahsyat.
Di Luar Negeri. Relotius bukan yang pertama. Sebagai jurnalis yang membuat cerita karangan itu. Janet Cooke misalnya. Pernah memenangkan Pulitzer. Sebuah penghargaan tertinggi dan nomor satu di dunia bidang jurnalistik. Ia menulis cerita di Washington Post. Tentang seorang pecandu heroin berusia delapan tahun. Yang rupanya itu hanya fiksi.
Puluhan cerita yang sama dramatisnya. Dan juga palsu. Karya Stephen Glass. Yang diterbitkan The New Republic. Juga pernah terjadi. Lalu Jayson Blair. Seorang wartawan New York Times. Yang akhirnya mengundurkan diri pada tahun 2003. Karena ketahuan membuat sebuah artikel fiktif.
Mereka dikenal sebagai jurnalis-jurnalis andal. Berhasil membangun reputasi sebagai jurnalis yang disegani. Karena berhasil menggondol sejumlah penghargaan bergengsi dalam dunia jurnalistik. Sayangnya, penipuan yang mereka lakukan membuat seluruh reputasi tersebut runtuh.
Der Spiegel salah satu majalah terlaris di Eropa. Langsung terguncang oleh skandal Relotius itu. Yang terbukti memalsukan cerita selama bertahun-tahun. Banyak kisah palsu tentang AS dan Timur Tengah yang dipalsukan.
Di saat kepercayaan publik kepada jurnalis kembali tumbuh. Skandal jurnalisme justru muncul di Der Spiegel. Di sebuah majalah investigasi kelas wahid di Eropa itu.
Relotius mengakui sejumlah penipuan yang telah dilakukan. Ia beralasan melakukan itu sebagai upaya untuk menghindari kegagalan. Relotius lanngsung mengembalikan empat penghargaan Deutscher Reporterpreis. Yang telah ia terima. CNN pun mencabut penghargaan “Journalist of the Year” yang diberikan ke Relotius itu.
Apa yang menimpa Der Spiegel. Menjadi noda hitam dalam sejarah jurnalisme. Butuh waktu bagi Der Spiegel untuk memulihkan kepercayaan publik. Tidak hanya kepada Der Spiegel. Tapi juga jurnalisme secara umum. Padahal dalam laporan 2018 Edelman Trust Barometer. Tingkat kepercayaan publik terhadap jurnalis mulai meningkat setahun terakhir. Seiring merosotnya tingkat kepercayaan publik kepada media sosial.
Obsesi pribadi Relotius yang terlalu besar. Untuk membuat karya terbaik dan takut gagal dalam kompetisi. Membuat ia nekat mengarang cerita. Pangkal skandal Relotius adalah keserakahan. Seperti pengakuannya sendiri. Skandal Relotius adalah korban ambisi. Dan dipicu persaingan keras para jurnalis. Untuk menghasilkan cerita dahsyat dalam karier mereka.
Apa yang dilakukan Der Spiegel juga patut dicontoh. Dengan menginvestigasi kesalahan internal. Dan mengumumkannya kepada publik lalu minta maaf. Sebenarnya, bisa saja Der Spiegel memecat Relotius. Tanpa harus mengumumkan ke publik. Apalagi sampai minta maaf. Cukup diam-diam saja. Apalagi publik tidak tahu cerita sesungguhnya. Apalagi laporan itu juga sudah terjadi bertahun-tahun yang lampau.
Tapi begitulah Der Spiegel. Untuk sebuah kesalahan internal ia tetap mengumumkan ke publik. Bahwa mereka salah. Karena telah memproduksi cerita-cerita fiktif. Kalaupun harus mengorbankan kredibilitas. Tapi Der Spiegel tidak bisa menyimpan kebohongan. Ia wajib mengumumkan kesalahannya ke publik. Kesalahan yang telah dilakukan wartawannya itu. Supaya media-media lain tidak ikut mengalami kesalahan serupa. Akibat ulah Relotius itu.
Jurnalisme boleh keliru, tapi tidak boleh berbohong. Sehingga pembaca tetap percaya bahwa mereka menjunjung nilai-nilai jurnalisme. Sebab Spiegel pasti melakukan proses cek sebelum publikasi.
Kasus Relotius memberi pelajaran. Bahwa jurnalisme tetap menyimpan kelemahan. Maka menjadi penting selalu menyimpan kecurigaan pada produk jurnalistik. Ekosistem yang sehat terjadi ketika publik, narasumber, dan jurnalis tetap skeptis pada fakta yang mereka baca.
Relotius jelas merancang semua cerita bohongnya dengan rapi. Sampai penelitian tim cek fakta Der Spiegel tidak mengendus niat jahat itu. Kecuali Juan Moreno. Skandal Relotius menjadi alarm bagi seluruh media, termasuk media di Indonesia. Khususnya media lokal di Jambi. Relotius atau Moreno?. Akan selalu ada di tengah kehidupan jurnalis. Bagaimana Der Spiegel? Rasanya tidak mudah bagi media untuk bisa meniru Der Spiegel itu. (Muawwin/jambilink)
Rumah Super Mewah dan SPBU Hadir Sebagai Bangunan "Monumental" Kota Sungai Penuh
Perkuat Pelaporan - Program Kekayaan Intelektual, Kadiv Yankum Jambi Datangi DJKI Kemenkum RI


