Oleh : Dr. Noviardi Ferzi*
Sektor pertanian harus mendapat perhatian khusus dan jangan sekali-kali diabaikan. Sektor ini merupakan tempat bergantung bagi kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa jumlah penduduk yang bekerja per Agustus 2020 sebanyak 128,45 juta orang. Dari angka tersebut, terbanyak bekerja di sektor pertanian dengan 38,23 juta orang tenaga kerja atau sekitar 29,76 persen.
Dalam rilisnya, BPS menyebutkan nilai ekspor pertanian periode Januari-Juli 2021 mengalami pertumbuhan positif, yakni 8,72 persen (YonY). Kenaikan terjadi karena ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah mengalami peningkatan.
Pembangunan sektor pertanian penting karena menghasilkan produk pangan yang menjadi pangan pokok kita. Jika produksi pangan terganggu, bisa mendorong menaikkan harga, dan ini bisa menimbulkan instabilitas politik jika harga pangan naik. Dan jika kita impor, maka ada negara kita terindikasi kedaulatan pangan turun dan perut kita tergantung pada negara lain.
Dua tahun masa Pandemi sektor pertanian menjadi penyelamat ekonomi nasional. Semestinya ini menjadi trigger bagi pengambil kebijakan bahwa sektor pertanian masih strategis dan jangan mengabaikan penguatan pertanian.
Produksi, pangsa, dan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian tumbuh positif selama pandemi Covid-19 pada kuartal pertama 2020 sampai awal kuartal tiga 2021. Pertumbuhan positif di sektor ekonomi tradisional itu bisa dikategorikan sebagai penyelamat ekonomi nasional karena sektor-sektor strategis seperti industri dan jasa terjun bebas menghadapi wabah.
Pertanian khususnya ketahanan pangan masih bertumpu pada level menengah kecil, kalau sektor ini tidak dijadikan ruang ekonomi, maka ini akan dibawa kemana?
Maka mau tak mau pemerintah dan masyarakat harus membina ruang ini sehingga menjadi kekuatan ekonomi di Indonesia.
UMKM merupakan sektor yang harus pulih lebih dulu. Karena, 99 persen pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM dan penyerapan tenaga kerjanya mencapai 97 persen
Bagi UMKM merupakan sektor yang sangat potensial untuk digarap adalah sektor pertanian. Berdasarkan data, sektor pertanian ini trennya tetap positif. Karena pangan itu tetap dibutuhkan meski pandemi menerjang.
Pemerintah telah melakukan berbagai kolaborasi. Diantaranya, alokasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Rp123,46 triliun untuk UMKM dan berbagai program lintas stakeholders telah ditempuh sebagai langkah gotong-royong untuk memastikan UMKM bertahan di tengah dampak Covid-19 yang menyesakkan
Masalah pangan merupakan sektor strategis karena konsumen di Indonesia sangat besar. Untuk itu, kita berharap petani dan UMKM pemula agar terus berinovasi bukan hanya menguasai pasar di Indonesia saja, melainkan ekspor untuk komoditas-komoditas tertentu.
Tantangan Dunia Pertanian
Akan tetapi pertanian memiliki berbagai macam kendala. Pertama, sumber daya manusia (SDM) di sektor tersebut kurang menguntungkan karena di dominasi pendidikan rendah. Petani pun banyak berusia uzur yang sudah tidak masuk kriteria produktif. Sehingga ke depan kita perlu mencari cara bagaimana generasi muda masuk ke sektor pertanian.
Persoalan kedua adalah harga pertanian yang selalu jatuh di saat musim panen. Hampir semua komoditas berlaku demikian. Tentunya ini merugikan petani Indonesia.
Selanjutnya adalah nilai tukar yang rendah, bahwa meningkatnya produksi pertanian ternyata tidak serta merta membuat penghasilan petani bertambah.
BPS mencatat pada 2020 nilai tukar petani (NTP) naik tipis 0,74 persen. Apabila dipilah dari subsektor, kenaikan hanya di perkebunan. Akhir tahun lalu komoditas sawit naik signifikan. Itulah yang membuat NTP tumbuh.
Keempat adalah upah riil buruh tani. Nominal kenaikannya sangat tipis dan tidak signifikan. Itu semua, habis ditelan inflasi.
Dengan kata lain, daya beli buruh tani sangat rendah. Yang terjadi kemudian buruh tani tidak lagi menarik dan mereka pindah menjadi buruh bangunan.
Terakhir adalah kemiskinan terpusat di pedesaan. Memang tahun lalu warga tidak mampu lebih banyak kenaikannya di kota. Akan tetapi dari persentase, kedalaman, hingga keparahannya lebih banyak di desa.
Bahkan kalau kita lihat, sumber utama dari rumah tangga miskin Indonesia adalah pertanian. Jadi ini adalah beberapa PR yang perlu diperhatikan.
Mengajak Milenial Untuk Bertani
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) bidang pertanian masih harus terus digenjot. Pasalnya, belum banyak generasi milenial yang memandang pekerjaan di bidang pertanian memiliki masa depan yang menjanjikan atau bahkan bisa berkontribusi besar terhadap negara.
Ke depan pemerintah perlu terus mendorong generasi milenial untuk lebih mencintai dunia pertanian. Lebih dari itu, bersama-sama membangkitkan kembali sektor pangan di Tanah Air.
Upaya untuk membangun kembali kepercayaan generasi muda pada masa depan pekerjaan di bidang pertanian juga masih terus dilakukan. Salah satunya melalui intervensi perguruan tinggi terutama yang memiliki program studi bidang pertanian.
Beberapa perguruan tinggi sebenarnya sudah melakukan inovasi dan upaya transformasi dengan memanfaatkan teknologi. Penggunaan drone untuk melakukan pemetaan kondisi tanah, tanaman, hingga mengetahui jenis hama tanaman, dan pupuk yang tepat untuk digunakan.
Perlu eksplorasi lagi bagaimana melakukan terobosan agar dunia pertanian di Indonesia dapat terus berkembang dan anak-anak kita generasi milenial ini bisa lebih mencintai dunia bertani dan mau ikut terlibat mewujudkan ketahanan pangan di dalam negeri. Ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional. Salah satu upayanya dengan melibatkan generasi milenial untuk menjadi petani modern dan sekaligus membangun ketahanan bangsa dan negara.
* Pengamat
Tembok Konektivitas antara Politik dan Bank Pembangunan Daerah
Polemik Penerapan Hukum Mati Sebagai Solusi Dalam Sistem Demokrasi
Dugaan Kartel di Balik Harga Minyak Goreng yang melambung tinggi
Kajian Politik: Akseptabilitas, Titik Temu antara Popularitas & Elektabilitas


Genjot Kinerja Pembinaan Hukum, Kakanwil Jajaran Ikuti Arahan BPHN


