Mengenang Nabi Muhammad SAW: Melalui Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW



Selasa, 20 November 2018 | 11:04:10 WIB



Yolanda Denitya Utami
Yolanda Denitya Utami

Oleh: Yolanda Denitya Utami*

Salah satu sahabat Nabi bertanya “Ya Muhammad kenapa engkau melaksanakan puasa senin?” Menurut sebuah hadis riwayat Muslim, di hari senin tepat kelahirannya, Nabi berpuasa. “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari aku diutus.” (HR. Muslim). Memang Muhammad dan para sahabatnya tidak merayakan hari lahirnya seperti yang kita lakukan saat ini, tetapi nabi Muhammad melaksanakannya dengan cara berpuasa sunnah.

Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun ini dirayakan pada tanggal 12 Rabiul Awal 1440 (kalender Hijriyah) atau 20 November 2018 (kalender masehi). Telah menjadi tradisi bagi umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad. Adapun tradisi yang dilakukan berupa perayaan seperti membaca kitab suci Al-quran, bersholawat, memuji Rasulullah, mendengarkan ceramah dll.

Siapakah yang pertama kali memulai tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad ?? Peringatan Maulid Nabi Muhammad pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Sultan Muzhaffar merayakan Maulid Nabi Muhammad ? secara besar-besaran, ia mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama. Bahkan sultan Muzhaffar menyembelih ribuan kambing dan unta untuk hidangan para hadirin yang turut serta merayakan Maulid Nabi Muhammad ?. Segenap ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh sultan Muzhaffar tersebut. Mereka berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi Muhammad yang dilaksanakan oleh sultan Muzhaffar.

Sampai sekarang pun peringatan Maulid Nabi Muhammad masih dilaksanakan dan di sambut dengan baik oleh umat Islam seluruh dunia.

Abu Lahab yang dijamin masuk neraka tetapi azabnya diringankan setiap hari senin karena senang menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Wallahu A'lam. Maka bersuka citalah kita umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tetapi jangan terlalu berlebihan dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad, sewajarnya saja. Jika terlalu berlebihan akan menjerumuskan kita kepada Bid’ah. Sesungguhnya merayakan Maulid Nabi Muhammad supaya kita tetap mengingat Nabi Muhammad ? selama-lamanya dan tidak lupa akan ajarannya.

 

*Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jambi





loading...








Jalan Dibuka Satgas TMMD, Desa Bakal Ramai

Jalan Dibuka Satgas TMMD, Desa Bakal Ramai

Selasa, 19/03/2019 10:44:32