JAMBERITA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat adanya inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,52 persen pada Juni 2026. Sementara itu, tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) berada di angka 1,79 persen. Kenaikan harga bensin, bawang merah, dan emas menjadi motor utama pergerakan inflasi bulan ini.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, menjelaskan beberapa fenomena penting di balik angka inflasi tersebut dalam rilis resmi BPS pada Rabu (01/07/2026) siang.
Menurut Aidil, setidaknya ada empat komoditas utama yang mendorong inflasi pada Juni tahun ini, pertama adanya kenaikan harga bensin.
"Kenaikan terjadi secara menyeluruh pada jenis bahan bakar non-subsidi seperti Pertamax dan Pertadex. Hal ini dikarenakan meningkatnya harga minyak dunia serta adanya ketetapan harga dari pemerintah," ujar Aidil.
Selanjutnya harga bawang merah melonjak. Secara m-to-m, Aidil mengatakan, harga bawang merah merangkak naik akibat tingginya permintaan yang tidak diimbangi dengan pasokan. Gangguan cuaca di daerah produsen seperti Pulau Jawa dan tingginya biaya distribusi akibat kenaikan harga bensin memperparah kondisi ini.
Kemudian secara year-on-year (y-on-y), harga emas terus meroket tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. "Terakhir kenaikan harga cabai merah. Serupa dengan bawang merah, cabai merah mengalami lonjakan secara tahunan (y-on-y) akibat cuaca ekstrem di daerah penghasil dan membengkaknya ongkos angkut," terang Aidil.
Meski mencatat inflasi, Aidil memaparkan bahwa inflasi bulanan (m-to-m) sebenarnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan Mei 2026 yang sempat menyentuh angka 0,75 persen.
"Jadi ada penurunan sebetulnya secara m-to-m. Namun secara y-on-y kita mengalami kenaikan 3,85 persen, lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 lalu dan juga lebih tinggi dari bulan Mei 2025. Dan tren kenaikan ini terjadi di seluruh provinsi," jelasnya.
Dari 38 provinsi di Indonesia yang hampir seluruhnya mengalami inflasi, posisi Provinsi Jambi berada di urutan ke-18 secara nasional.
Jika dibedah berdasarkan kelompok pengeluaran secara m-to-m, sektor Makanan, Minuman, dan Tembakau masih mendominasi dengan andil 0,25 persen (inflasi kelompok sebesar 0,76 persen).
Di posisi kedua ditempati oleh sektor Transportasi (termasuk bensin) dengan andil 0,16 persen, meskipun inflasi kelompoknya terhitung tinggi yakni 1,30 persen. Perbedaan andil ini disebabkan oleh bobot diagram timbang kelompok makanan yang jauh lebih besar.
Di sisi lain, hanya ada dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi (penurunan harga) pada bulan Juni, yaitu kelompok Kesehatan dan Perawatan Pribadi Lainnya. Sementara secara y-on-y, deflasi hanya terjadi pada kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar -4,06 persen dengan andil -0,27 persen.
Berikut daftar komoditas pendorong dan penahan inflasi. Yakni : Secara m-to-m pendorong inflasi ialah Bensin (0,18%), bawang merah (0,05%), bawang putih (0,05%), bayam (0,04%), jengkol (0,04%), tomat (0,03%), kue basah (0,03%), kangkung (0,03%), wortel (0,03%), dan nasi dengan lauk (0,02%).
Sementara itu untuk penahan inflasi berupa daging ayam ras (-0,08%) karena harga di bulan Juni lebih murah dari Mei, angkutan udara (-0,03%) berkat banyaknya promo libur sekolah, cabai merah (-0,03%), emas perhiasan (-0,01%), dan ikan nila (-0,01%).
Secara y-on-y untuk pendorong inflasi ialah emas perhiasan (0,49%), cabai merah (0,39%), bensin (0,20%), nasi dengan lauk (0,19%), bahan bakar rumah tangga (0,19%), daging ayam ras (0,17%), minyak goreng (0,15%), jeruk (0,14%), sigaret kretek mesin (0,11%), dan bawang merah (0,10%). "Penahan inflasinya kentang (-0,04%), baju setelan anak (-0,04%), kaos tanpa kerah anak (-0,03%), dan jengkol (-0,03%)," kata Aidil.
Inflasi secara y-on-y Provinsi Jambi sebesar 3,85 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,48. Inflasi tertinggi terjadi di Muara Bungo sebesar 4,72 persen dengan IHK sebesar 113,83 dan terendah terjadi di Kota Jambi sebesar 3,60 persen dengan IHK sebesar 111,49.
Sedangkan secara m-to-m inflansi kabupaten Kerinci 0,72 persen dengan andil komoditas utama pendorong inflansi berupa bensin (0,27 persen) dan penahannya kentang (-0,06 persen). Kemudian Kota Jambi 0,51 persen, dengan andil komoditas utama pendorong inflansi juga bensin (0,16 persen) dan penahannya daging ayam ras (-0,10 persen)
Untuk Muaro Bungo 0,04 persen dengan andil komoditas utama pendorong inflansinya juga bensin (0,14 persen) dan penahannya angkutan udara (-0,18 persen) "Secara umum, komoditas bensin merata menjadi pemicu utama inflansi di seluruh wilayah pantauan IHK di Provinsi Jambi pada Juni 2026 ini," pungkas Aidil. (tts)
SAH Sebut Koordinasi Waka DPR RI Sufmi Dasco dengan Petinggi Ekonomi Bukti DPR Bekerja untuk Rakyat
Bupati Fadhil Arief Hadiri Upacara Hari Bhayangkara Ke-80 di Lapangan Alun-Alun Batang Hari
Raih Podium Perdana, Valrossi dan CRF250R Melesat di Kejurnas Motocross Bekasi
Jangan Asal Gas! Yuk Kuasai Teknik Berkendara Aman Bersama Safety Riding Sinsen
Tampil Lebih Percaya Diri Bersama All New Honda Vario 125, Makin Untung dengan Promo HEY!
Selaraskan Aturan Belajar ASN - Risiko Bencana, Kemenkum Jambi Harmonisasi 4 Ranperbup Tanjabtim

