JAMBERITA.COM - Prestasi itu tak selalu lahir dari pita gunting dan tenda megah peresmian. Kadang, ia datang diam-diam dalam bentuk selembar SK PPPK Penuh Waktu yang digenggam erat oleh ribuan tenaga honorer di Kabupaten Batang Hari.
Bertahun-tahun mereka mengabdi tanpa kepastian. Mengajar di kelas, mencatat data di bawah terik matahari, hingga menjaga kantor sampai larut malam—namun status mereka tetap menggantung. Bupati Muhammad Fadhil Arief datang memutus mata rantai ketidakpastian itu.
Mengangkat hampir 5.000 orang menjadi PPPK penuh waktu bukan sekadar formalitas birokrasi atau angka di atas kertas. Ini adalah soal kemanusiaan:
Seorang ibu guru dan tenaga kesehatan akhirnya bisa memeluk anaknya sambil berbisik, “Nak, kuliahmu aman.”
Petugas lapangan yang bertahun-tahun menahan malu saat ditanya tetangga, “Kerja di mana?”, kini bisa menjawab dengan kepala tegak.
Di saat honorer di tempat lain masih terlantung-lantung sebagai pekerja paruh waktu—dengan gaji tak menentu dan kecemasan tahunan soal perpanjangan kontrak—Batang Hari mengambil langkah berani. Ketika martabat manusia-manusia kecil ini diangkat, sesungguhnya daerah tersebut sedang naik kelas.
Muara Bulian yang Hidup: Dari Kota Mati Menjadi Ruang Publik yang Humanis
Mari lihat Muara Bulian malam ini. Dulu, Ibu Kota Batang Hari ini seolah memiliki jam malam yang kaku; setelah sore lewat, kota langsung sepi dan terlelap cepat. Sekarang, wajahnya telah berubah total.
Kota yang elok bukan soal cat baru di gedung kantor bupati. Kota yang elok adalah ketika warganya merasa aman dan bahagia di ruang publik.
Lampu jalan tak lagi sekadar pajangan. Taman-taman kota kini hidup dengan canda tawa warga yang duduk mengobrol, dan trotoar telah kembali ke fungsi aslinya sebagai milik pejalan kaki.
Bupati Fadhil paham logika sederhana ekonomi kerakyatan: ruang publik yang nyaman akan memanggil perputaran uang dengan sendirinya. Kini, ibu-ibu dan bapak-bapak bisa berjualan di sudut alun-alun dengan tenang tanpa perlu merasa was-was dikejar Satpol PP. UMKM yang dulunya bergerak sembunyi-sembunyi, sekarang berani menggelar lapak secara terbuka. Dagangan laku, dapur mengepul, dan semangat bertahan hidup tumbuh subur lewat rasa cinta terhadap kota ini.
Lampu Stadion dan Pemimpin yang Berani Berkeringat
Di tengah kota yang mulai bernyawa itu, ada satu titik terang yang paling jujur: lampu stadion alun-alun yang terus menyala hingga malam. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele untuk ukuran proyek daerah. Namun, cobalah bertanya kepada anak muda Batang Hari.
Setelah seharian lelah bekerja atau pulang sekolah, mereka kini memiliki "ruang ketiga" setelah rumah dan tempat kerja. Sebuah tempat untuk berlari, jatuh bangun, dan berteriak merayakan gol. Di sinilah karakter mereka ditempa, keringat dicucurkan, dan tali persaudaraan dirajut.
Menariknya, Fadhil Arief bukan tipe pemimpin yang hanya menonton dari balik kaca mobil dinas. Ia rajin turun langsung, ikut menggocek bola dan berkeringat bersama rakyatnya di lapangan tersebut. Pemimpin yang berani berkeringat bareng rakyat adalah pemimpin yang menolak menciptakan jarak. Lewat lampu stadion yang terus menyala itu, Fadhil seolah menitipkan pesan kuat: anak muda Batang Hari punya masa depan yang terang, asalkan mereka diberi ruang untuk tumbuh.
Penutup: Menyentuh Denyut Nadi Rakyat
Dari kepastian SK PPPK penuh waktu bagi para honorer, transformasi wajah kota yang elok, hingga lampu stadion yang tak pernah padam—ketiga hal ini sepintas tampak berdiri sendiri-sendiri. Namun, jika ditarik garis lurus, ketiganya memiliki satu benang merah yang sama.
Fadhil Arief telah membuktikan kapasitasnya sebagai pemimpin dengan prioritas yang tepat sasaran. Kebijakan yang ia ambil tidak mengawang-awang di atas menara gading birokrasi, melainkan merasuk langsung dan menyentuh denyut nadi kehidupan masyarakat kecil di Batang Hari.
Oleh: Ramadhani (Sekretaris JMSI Provinsi Jambi)
Rapat Paripurna Ketiga DPRD Tanjab Barat Samakan Persepsi Legislatif - Eksekutif
Kemenag Muaro Jambi Gencar Sosialisasi Sertifikasi Halal Bagi Pelaku Usaha
Opini : Bupati Fadhil Arief di Mata Ramadhani, Memuliakan Manusia Ketika Martabat Honorer Diangkat
Rupiah Capai Rp18.023, Pemerintah disarankan Jaga Kepercayaan Pasar & Perkuat Mesin Penghasil Devisa
Harga Sawit Jambi Mulai Pulih, Ketegasan Pemerintah Dinilai Jadi Kunci
Idul Adha Jadi Mesin Ekonomi Nasional Meski Daya Beli Mulai Tertekan
Kanwil Kemenkum Dorong Pembentukan Sentra KI dan Perlindungan IG ke BRIDA



