jamberita.com-Universitas Jambi (UNJA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama pengembangan model multiusaha penanaman kelapa sawit dan komoditas pangan dalam skema optimalisasi lahan berkelanjutan di Lantai 7 Gedung UNIFAC Kampus Mendalo, Kamis (19/2/2026). Seperti dilansir dari laman resmi unja.ac.id, penandatanganan ini dihadiri sejumlah pejabat tinggi kedua institusi.
Kerja sama ini hadir di tengah tekanan ketahanan pangan nasional yang semakin mendesak. Indonesia selama ini menghadapi dilema klasik, kebutuhan pangan terus meningkat, sementara pembukaan lahan baru kerap berbenturan dengan isu lingkungan dan konflik agraria. Model multiusaha yang digagas UNJA dan YIARI menawarkan pendekatan berbeda: mengoptimalkan lahan yang sudah ada tanpa harus memperluas area atau merusak ekosistem.
Dekan Fakultas Pertanian UNJA, Dr. Forst. Bambang Irawan, S.P., M.Sc., IPU, menegaskan bahwa lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk satu komoditas sebenarnya menyimpan potensi besar jika dikombinasikan dengan tanaman pangan sejak tahun pertama tanam.
"Kalau konsesi HTI saja sejak tahun pertama dikombinasikan dengan tanaman pangan, persoalan pangan Indonesia bisa selesai. Tidak perlu membuka lahan baru. Nanti akan saya kirimkan hitungannya. Untuk Jambi saja, potensi lahannya bisa mencapai sekitar 60 hingga 70 ribu hektare," ungkap Dr. Bambang.
Angka 60 hingga 70 ribu hektare itu bukan angka kecil, dan itu baru dari Provinsi Jambi saja. Jika model multiusaha ini berhasil dan diterapkan secara nasional di seluruh konsesi HTI yang tersebar di berbagai provinsi, potensinya tentu jauh lebih besar lagi.
Wakil Rektor UNJA Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa optimalisasi lahan adalah langkah strategis yang tidak bisa lagi ditunda di tengah isu ketahanan pangan yang terus menguat.
"Di tengah menguatnya isu ketahanan pangan, jika optimalisasi lahan ini berjalan dengan baik, maka efisiensi pemanfaatan sumber daya juga akan tercapai," ujar Prof. Revis.
Keterlibatan YIARI dalam kolaborasi ini pun membawa dimensi tersendiri. Yayasan yang selama ini dikenal kuat di bidang rehabilitasi satwa dan lingkungan itu kini masuk ke ranah yang lebih strategis, memastikan pengembangan lahan berjalan seiring prinsip kelestarian alam dan pengelolaan kehutanan yang bertanggung jawab.
Penandatanganan MoU ini turut dihadiri Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Mursalin, S.TP., M.Si., serta Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul beserta beberapa anggota YIARI.
Kolaborasi UNJA dan YIARI diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antarpihak guna mempercepat optimalisasi lahan, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, serta mendukung program ketahanan pangan dan pengelolaan kehutanan yang berkelanjutan di Provinsi Jambi. (mnt)
Sertifikat SHM Diblokir Sepihak, Warga Terdampak 'Zona Merah' Jambi Mengadu ke DPR RI
Selain STIE YA Bangko, Kanwil Kemenkum Juga Gandeng STIKES Merangin Bentuk Sentra KI - MoU
MoU & PKS Kemenkum - STIE YA Bangko Jadi Langkah Strategis Lindungi Inovasi Pertuguruan Tinggi
Gebrakan Baru UNJA! Rektor Prof Helmi Bocorkan Strategi Rahasia di Balik Lonjakan Prestasi 2026
Lawan Kanker Paru dengan AI: Mahasiswa FKIK UNJA Sabet Juara Nasional di Ajang SARCOMA 2026
Kisah Inspiratif Munairah : Mahasiswa KIP Kuliah UNJA Taklukkan Keterbatasan - Raih Cumloude
Perkuat Komoditas Unggulan, Kemenkum Jambi Audiensi dengan Pemkab Merangin Bahas IG Kayu Manis



