Tim Ekonomi Andalan Presiden Prabowo, Pertumbuhan 2 Digit



Rabu, 07 Agustus 2024 - 20:07:13 WIB



Oleh Antony Z Abidin.

Prabowo Subianto, Presiden RI 2024-2029 terpilih, ditantang sejumlah menteri negara tetangga. Jika dalam 5 tahun pemerintahannya, sekali saja pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8%, mereka akan mentraktir makan malam. Jika terjadi sebaliknya, PS-lah yang traktir. 

Tantangan itu tentulah dijawab  dengan enteng: setuju. Karena tantangan tersebut sudah menjadi obsesi yang internalize, mendarah daging dalam proses sosialiasi seorang putra begawan ekonomi dari keluarga pejuang. Leluhurnya, kakek dan ayah serta 2 pamannya yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan adalah pejuang  sejati.

BACA JUGA: Langkah Kuda Jendral Prabowo Subianto: Kabinet Dua Digit (1)

Pertumbuhan ekonom yang ingin dicapainya:  rata-rata 7% pada 5 tahun pertama dan periode 5 tahun berikutnya tumbuh 10% atau 2 digit selama sepuluh tahun berturut-turut, seperti tertuang dalam buku karangannya  “Paradox Indonesia dan Solusinya” (cetakan  pertama 2017, cetakan ketiga 2022).

Bagaimana Presiden ke-8 itu mewujudkan missi perjuangannya itu. Tentulah pertama-tama dengan menyusun Tim Ekonomi yang kuat dan tangguh. Acuannya tak jauh dari apa yang dilakukan Pak Harto, mertua dan kakek putra tunggalnya Didid Hediprasetyo. Misalnya Menteri Pertahanan Kabinet Pembangunan I (1968-1973) adalah langsung Presiden RI Jendral Suharto. Jabatan itulah yang dipegang PS ketika bergabung dalam pemerintahan Presiden Jokowi sampai ia terpilih menjadi presiden.

Role model Tim Ekonominya tidak akan jauh dari apa yang didesain Prof Sumitro bersama mantan murid2nya.

Ayahnya, yang pernah menduduki berbagai jabatan penting sepanjang tahun 50an selain menjadi pendidik selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1951-1957), berseberangan pendapat dengan Presiden Sukarno. Prof Sumitro bersama Sjafrudin Prawiranegara,  Letkol Ahmad Husein dll tanggal 15 Februari 1958 mendeklarasikan Pemerintah Revelusioner Repubik Indonesia (PRRI).

Setelah berakhirnya pemerintahan Sukarno, digantikan pemerintahan Orde Baru, Presiden Suharto memanggil Prof Sumitro untuk menduduki jabatan Menteri Perdagangan pada Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Pada saat yang sama, Prof Widjojo Nitisastro, murid  begawan ekonomi itu menempati posisi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional merangkap sebagai Ketua Bappenas.

Tim Ekonomi pemerinahan awal Orde Baru didominasi para ekonom UI, anak didik Prof Sumitro ketika menjadi Dekan FEUI. Mereka adalah Widjojo Nitisastro  Ali Wardhana, M. Sadli, Emil Salim, Subroto yang ditempatkan sebagai menteri dalam Kabinet Pembangunan I. Prof Sumitro bagaikan “God Father” dari para muridnya yang sebelumnya melanjutkan studinya di University of California, Berkeley.

Sejak saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia melaju. Tahun 1984 Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia mulai swasembada. Periode Widjojo menjadi Menko EKUIN 1973-1978 dan Menko EKUIN merangkap Ketua Bappenas 1978-1983 pertumbuhan ekonomi sangat cepat, di atas minimum 5%.

Pada tahun 1988-1991 produk domestik bruto (PDB)  Indonsia tumbuh rata-rata 9% setiap tahun. Tahun 1991-1994 melambat rata-rata 7%, namun setelah itu meningkat lagi. Sampai datang bencana Krisis Keuangan Indonesia yang merambat ke Indonesia dengan puncaknya kejatuhan Orde Baru pada tahun 1998.

Prabowo Subianto mengecam resep IMF yang keliru ketika itu: menyerahkan rupiah ke mekanisme  pasar, BUMN harus dijual, perdagangan luar negeri harus dibuka lebar serta  dukungan pemerintah dalam pengembangan industri strategis antara lain industri agro dan industri penerbangan harus dihentikan. “Setelah ’98, sebagai bangsa, kita melupakan jati diri kita. Kita tinggalkan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, kita tinggalkan ekonomi Pancasila” (Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia).

Sebagai negara yang kaya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia namun sejak lama kekayaan itu mengalir deras ke luar negeri, mengakibatkan rakyat Indonesia setelah hampir 80 tahun merdeka masih tetap belum merdeka secara ekonomi. Bank Dunia menaksir kekayaan sumber daya alam Indonesia mencapai USD 1,5 triliyun, sekitar Rp 22.000 trilyun, terkaya ke 11 dunia dari sisi sumber daya alam.

Dulu kekayaan Indonesia dinikmati penjajah, sehingga VOC bisa menjadi perusahaan dengan nilai tertinggi di dunia. Sekarang, kekayaan Indonesia hanya dimiliki segelintir orang saja.

Suatu paradoks, Indonesia hanya memiliki 1/3  dari cadangan devisa Singapura USD 370 milyar, negara kecil tetangga Indonesia yang tidak memiliki sumber daya alam. PDB per kapita Singapura USD 59.797 setara dengan Rp 70 juta per bulan. Sebaliknya pendapatan rata-rata rakyat Indonesia hanya sekitar Rp 4,5 juta/bulan. Malaysia USD 10.401, sekitar Rp 12 juta/bulan.

Kondisi ini membuat Indonesia terancam  dalam kondisi yang dinamakan “middle income trap”, perangkap hanya tetap pada status negara berpenghasil menengah, tidak bergerak maju.

Indonesia menurut Prabowo Subianto, harus segera capai pertumbuhan ekonomi 2 digit, rata-rata 10% secara berkelanjutan. Hanya dengan pertumbuhan dua digit selama 10 tahun berturut-turut, yang diawali dengan pertumbuhan rata-rata 7% selama 5 tahun, Indonesia bisa keluar dari kondisi “middle income trap” tersebut.

Dengan fondasi ekonomi awal Orde Baru yang ditanamkan begawan ekonomi Prof Sumitro Djojohadikusumo beserta murid-muridnya itu, dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dimulai 20 Oktober 2024, ekonomi Indonesia diharapkan bisa tumbuh kembali dan bahkan dipacu masksimal.

Airlangga Hartarto, seorang teknokrat yang berprestas alumni Universita Gajahmada dan Pennsyvania University, universitas terkemuka Indonesia dan universitas kelompok Ivy Leaggue ranking 11 dunia, sangat berpotensi akan membawa kesuksenan Tim Ekonomi Kabinet mendatang.

Selaku Menko Perekonomian, pemimpin partai terbesar pendukung Presiden Prabowo Subianto dan putra seorang tokoh yang  menduduki berbagai jabatan  menteri pada era Orde Baru yaitu Ir Hartarto, tentunya diharapkan mampu mengemban  missi Presiden Prabowo tersut Mensukseskan  pertumbuhan ekonomi 2 digit tersebut.

Menko EKUIN dan Ketua Bappenas seperti yang pernah dijabat Prof Widjojo Nitisastro adalah posisi yang sangat tepat untuk mewujudkan pertumbuan eknomi 2 digit.  Tim Ekonomi dapat dipilih  para ekonom dan teknokrat jebelon universitas tebaik di Indonesia dan dunia.

Dari Amerika, cukup banyak lulusan Ivy League dan sejumlah alumni universitas top Amerika lainnya dengan prestasi dan kemampuan yang sudah teruji. Mereka dapat dipilih untuk memperkuat Tim Ekonomi itu. Demikian juga  alumni universitas terbaik dari Inggris, Perancis, Jepang dan bahkan univeresitas terbaik di China dll, dapat didayagunakan sebagai perancang percepatan pembangunan di Bappanas maupun dalam posisi strategis di Kabinet dan Lembaga2 penunjang percepatan petmbuhan ekonomi.

Tim Ekonomi Kabinet Perjuangan itu, tidak hanya alumni FEUI dan Berkeley, tetapi  terdiri dari putra2 terbaik Indonesia bangsa terpilih. Mereka adalah orang-orang cerdas,  berintegritas,  berpengalaman dan berprestasi dari universitas tebaik di seluruh dunia.

Presiden Prabowo, putra pejuang dan begawan ekonomi itu, berani bertaruh untuk mencapai pertumuhan ekonomi 8% pada periode 5 tahun pertamanya, sebagai fondasi dan prasarat utama pertumbuhan ekonomi 2 digit tahun-tahun selanjutnya untuk mencapai Indonesia Emas pada seratus tahun Indonesia Merdeka. Indonesia bebas kemiskinan, maju, adil dan makmur. Semoga! 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Artikel Rekomendasi