Oleh: Riska Khairunnisa Pasaribu, Fatonah, Rosellyna Samosir, Yuda, Dinda Ratih Nurhaliza, Rahmad Iqbal Maulana*
Pada dasarnya, Negara Indonesia sejak dahulu sudah mengenal sistem kebun sebagai sebuah sistem perekonomian tradisional yang menggunakan tanaman-tumbuhan diantaranya kopi, lada, kapur barus dan juga rempah-rempah, jauh sebelum kedatangna orang-orang Barat ke Indonesia, dahulu masyarakat memperkenalkan sistem perkebunan yang menggunakan tanaman-tanaman seperti tembakau, sawit, karet, teh dan tebu, yang diwujudkan dalam bentuk usaha yang berskala besar seperti penggunaan lahan yg luas, pembagian kerja, penggunaan tenaga kerja upahan, teknologi yang modern, dan pemasaran Internasional. Di negara Indonesia, sistem perkebunan mulai berkembang pesat seiring berakhirnya sistem tanam paksa tahun 1870. Walaupun tumbuhan-tumbuhan ekspor seperti kopi, lada, indigo (pewarna kain), tembakau, dan gula, sudah ditanam masyarakat pada sistem tanam paksa yang terjadi pada tahun 1830-1870. Namun dengan adanya sistem liberal dan juga umumkannya Undang-undang Agraria 1870, menjadi awal lembaran baru bagi sejarah perkebunan di Indonesia.
Belanda telah menguasai Kerinci dimulai pada tahun 1903, daerah ini dipertahankan sebagai daerah otonom, atau dalam arti luas daerah ini termasuk bagian Sumatera Barat serta bukan bagian dari negeri Jambi. Kerinci ditetapkan menjadi wilayah afdeeling tahun 1921 yang termasuk kedalam Keresidenan Sumatera Barat dimana memiliki tiga daerah onderafdeling diantaranya adalah Painan serta btg Kapas, Balai Selasa dan Indrapura, dan yg terakhir Kerinci.
Para penjajah Belanda telah melakukan ekspansi ekonomi di kab. Kerinci pada tahun 1925 melalui sebuah perusahaan yang bernama Namlodse Venotchhaaf Handle Veriniging Amsterdam dengan singkatan NV. HVA. Mereka melakukan penebangan hutan secara besar-besaran di kaki Gunung Kerinci tepatnya berada di daerah yang bernama Kayu Aro untuk dijadikan sebagai perkebunan teh. Kayu Aro pada masa itu masih menjadi bagian dari wilayah Sumatera Barat yang juga menjadi wilayah yang dijadikan sebagai perkebunan teh terluas di Sumatera Barat yaitu dengan ukuran sebesar 2.590 Ha (1940). Perkebunan teh Kayu Aro di Kab. Kerinci di Propinsi Jambi menjadi perkebunan teh tertua yang ada di Indonesia, telah dibuka antara tahun 1925-1928 oleh Perusahaan milik Belanda, Namblodse Venotschaaf Handle Veriniging Amsterdam atau NV HVA. Hingga kini, pabrik tersebut telah berusia sekitar 74 tahun dengan menghasilkan teh hitam Orthodox sebanyak ± 6 Juta kilogram per tahunnya.
Pada tahun 1928, dilakukan penanaman the dilakukan untuk pertama kalinya setelah dilakukannya pembukaan lahan tersebut. Penanaman the tersebut menunjukan hasil yang lumayan baik sehingga dua tahun kemudian telah memperlihatkan hasil penanaman teh yang memiliki pucuk-pucuk yang berkualitas tinggi. Untuk mengolah hasil produksi tersebut, pada 1931 didirikan sebuah pabrik yang terletak di Bedeng Delapan yang kemudian daerah ini menjadi pusat perkebunan teh Kayu Aro yang sekarang. Pada tahun 1934 hasil produksi perkebunan teh Kayu Aro mengalami peningkatan yang signifikan. Tercatat dari kenaikan mencapai 2x lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Perkebunan teh Kayu Aro memiliki luas tanaman hingga mencapai kurang lebih sekitar 2590 hektar pada tahun 1940, yang menjadikan perkebunan teh Kayu Aro pada masa itu sebagai perkebunan teh terluas di keresidenan Sumatra Westkust atau lebih di kenal dengan Sumatera Barat. Pada tahun 1959, perkebunan punya Belanda ini diambil alih oleh Pemerintah RI. Sejak saat itulah perkebunan Kayu Aro mengalami beberapa kali perubahan status dan juga manajemen. Berdasarkan pembahasan di atas penulis tertarik membahas Perkebunan teh kayu aro tahun 1925-1959.
Tulisan ini menggunakan metode penlitian sejarah dengan 4 tahap yaitu dimulai dengan heriustik, keriktik sumber, intepretasi dan bibliografi. Tahapan pertama mengumpukan sumber yang terkait dengan Perkebunan teh kayu aro tahun 1925-1959 sumber-sumber tersebut berupa; buku dan juga jurnal diantaranya tulisan Basuki Sigit Priyono, dkk (2008) dengan judul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Produktivitas Dan Kontribusi Penghasilan Tenaga Kerja Wanita Pemetik Teh Di PTP. Nusantara VI Kayu Aro Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi. kemudian tulisan RR Fitri yang berjudul Perkebunan Teh Kayu aro Kerinci 1925-1940 Sebagai Sumber Belajar Sejarah, selanjutnya ada tulisan dari Agustin Putri lestari dan Nirwan Il Yasin dengan judul Kehidupan Perkebunan Teh Kayu Aro Tahun 1925-1943 dan juga beberapa karya tulisan lainnya. Selanjutnya melakukan kiritik sumber pada diatas, Pada tahap ini penulis mencocokkan isi dari sumber-sumber yang didapatkan. Semakin banyak yang mengacu pada satu topik yang sama maka semakin kredibel sumber tersebut. Kemudian Interpretasi dengan membandingka sumber-sumber yang terkait. Dan tahapan terakhir ialah historiografi yaitu penyajian karya sejarah dalam bentuk tulisan.
A.Sejarah perkebunan teh kayu aro
Kerinci ialah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jambi . kabupaten kerinci mempunyai tradisi serta adat tata cara yang unik, serta memiliki kawasan wisata alam yang sanagt menarik untuk di kunjungi, karena memiliki kawasan wisata alam yang menarik mengakibatkan kab kerinci menjadi incaran wisatawan baik dari masyarakt local ataupun wisata asing. salah satu wisata alam yg ada di kab kerinci adalah perkebunan teh kayu aro kerinci. Perkebunan teh kayu aro di kabupaten kerinci ini yang ada provinsi Jambi ialah sebuah perkebunan teh tertua yang ada di negara Indonesia, dibuka antara rentang tahun 1925-1928 oleh perusahaan milik Belanda , Namblodse venotschaaf Handle Verninging Amsterdam (NVHVA). hingga kini ,pabrik ini telah berusia 74 tahun. menghasilkan teh hitam Orthodox lebih kurang 6 juta kilogram per tahunnya.
Orang-orang Belanda mengusai kerinci pada tahun 1903 , wilayah ini dipertahankan menjadi daerah otonom, dalam artian lain tidak termasuk bagian asal Sumatra Barat serta tidak pula termasuk bagian dari Jambi sebagaimana yang dikenal saat ini dalam artian lain salah satu kabupaten yg termasuk kedalam system adminitrasi pemerintahan Jambi sekarang. Kab.Kerinci ditetapkan menjadi wilayah afcleing tahun 1921 dalam keresidenan Sumatera Barat yang hanya mempunyai tiga wilayah onderafdeling yaitu painan dan batang Kapa, balai selasa dan Indrapura ,dan yg terakhir kerinci. Pihak pemerintah Hindia Belanda merintis pembangunan perkebunan teh di alam kerinci, serta secara historis awalnya perkebunan teh yg dikembangkan oleh perisahaan Belanda yang lebih dikenal dengan NVHVA singkatan dari Namlodse Venotchhhaaf Handle Veriniging Amsterdam pada tahun 1925.
Pembukaan huma perkebunan teh kayu aro telah mulai di tahun 1925 sampai pada 1928.kolonial Belanda melakukan perluasan ekonomi di wilyah kerinci di masa iu melalui sebuah perusahaan Belanda yg brnama NV. HVA( Namlodse Venotchaaf Handle Verninging Ansterdam). Perusahaan NV. HVA memanfaatkan hak efpacht pada memperluas huma perkebunan teh tadi. Luas lahan yang mencapai 2.590 ha. Luas huma yang ha berakibat perkebunan terluas pada keresidenan Sumatera Barat.penanaman tumbuhan teh pertama sesudah pembukaan lahan dilakukan di tahun 1929. tanaman teh berkembang dengan baik, sehabis dua tahun lalu, tumbuhan teh mulai membuat pucuk-pucuk yg berkualitas maka pada tahun 1931 perusahaan N.V.HVA mendirikan pabrik teh Kayu Aro buat menunjang kebutuhan produksinya. Pendirian pabrik teh tidak pribadi dapat berjalan mengingat pucuk-pucuk tumbuhan the belum siap dalam proses pemanenan. Pabrik mulai beroprasi satu tahun lalu tepatnya di tahun 1932. kondisi iklim perkebunan Kayu Aro tercatat bahwa, pada setahun curah hujan yang terjadi rata-rata 2.000 mm, hari hujan pada setahun homogen-homogen 200 hari, sinar matahari selama setahun rata-homogen 6 jam perhari, suhu udara berada di 170-230 serta suhu minimum mancapai 50 C, kelembaban Nsibi/Rh antara 70-95%. kondisi geografis ini sangat mendukung keberhasilan perkebunan teh Kayu aro Keberhasilan tiga perkebunan yang dibangun oleh perusahan-perusahaan partikelir Hindia Belanda ada pada wilayah ondernemingen Kerinci, mulai membangun prasarana pendukung perkebunan, terlihat dari pembangunan 16 Frengki Siregar, “Manajemen Perkebunan khusus di Ptpn Vi Kayu Aro Kerinci”, Laporan PraktekLapangan, (Jambi:UNJA,2014), hlm 51.jembatan beton di wilayah Lubuk Sahap, diikuti dengan pembangunan jembatan gantung di wilayah yg sama di tahun 1932.
Perkembangan perluasan perkebunan-perkebunan di daerah Hindia Belanda bukan hanya komoditi teh saja, mengalami sebuah kendala akbar. dampak krisis ekonomi tahun 1930 yang biasa diklaim masa depresi ekonomi melanda semua negara-negara di dunia, membuat turunya harga-harga komoditi industri pada pasaran dunia. Pemerintah Hindia Belanda mulaimelakukan siasat buat mengatasimasalah krisis tersebut dengan mengeluarkan peraturan Thee Aanplane Ordonnantie, Stbld, 1933 No 22, yang dimaksud buat mempertahankan harga teh dipasaran dunia, dengan menekan jumlah produksi perkebunan the tadi. dampak masa depresi ekonomi bagi perjuangan perkebunan teh pada keresidenan Sumatera Barat tidak telalu terpengaruh menggunakan adanya ordonnantie tadi.17 Dimasa depresi ekonomi dunia perkebunan teh keresidenan Sumatera Barat homogen-homogen luas arealnya mencapai 660 ha, sedangkan pada Jawa hanya mencapai 350 ha luas arealnya. teh itu sendiri di keresidenan Sumatera Barat mencapai 450 ton sementara di pulau Jawa hanya mencapai 165 ton.
Pada masa ini perkebunan-perkebunan di keresidenan Sumatera Barat mencapai lima belas perkebunan, diantaranya lima perkebunan teh mencapai produksi kelas I, tiga perkebunan mencapai produksi kelas II, empat perkebunan mencapai kelas III, satu perkebunan mencapai kelas IV, serta dua buah mencapai kelas V. Nama perekebunan dan luas wilayahnya yang masuk kedalam kelas kualitas teh terbaik di keresidenan Sumatera Barat Perkembangan perkebunan teh Kayu aro pada tahun 1934 telah mampu memproduksi hasil perkebunan dengan baik. Awal produksi perkebunan teh Kayu Aro hingga berkembang sampai sekarang, perkebunan Kayu Aro mampu menghasilkan jenis produksi teh hitam, yang tergolong kedalam kualitas terbaik kelas I. Hasil produksi perkebunan the Kayu Aro kemudian di ekspor ke daratan Eropa, yaitu Inggris, Belanda dan wilayah Eropa lainya. Produksi perkebunan teh Kayu Aro yang tercatat meningkat pertahunnya, hasil ini sangat memuaskan bagi perusahaan dimana dalam pertahunnya laba yang didapatkan selalu meningkat. Pada Saat Belanda meninggalkan kab. Kerinci, kebun serta pabrik teh diambil oleh para penjajah Jepang pada tahun 1940 an, dan pada waktu itu juga Jepang merekrut forty KK kepanjangan dari “Koeli Kontrak” yang bekerja di Kayu Aro untuk dipekerjakan sebagai Koeli di daerah Kebun Baru di Kecamatan Gunung Raya tersebut, para “ Koeli Kontrak” yang awalnya dipekerjakan oleh Belanda diambil alih oleh Jepang sebagai pekerja menanam tanaman Holtikultura, Kopi, Rami, Jagung dan Padi. keturunan para “Koeli Kontrak” masih hidup sampai sekarang menetap dan juga berbaur dengan para penduduk local lainnya di Kecamatan Gunung Raya dan penduduk neighborhood Pulau Sangkar Kecamatan Batang Merangin.
B.Perkebunan the kayu aro bagi masyarakat kerinci
Perkebunan teh Kayu Aro menjadi arti penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat Kerinci terlebih rakyat kecamatan Kayu Aro sendiri. Dibukanya perkebunan milik swasta Hindia Belanda ini turut membuka lapangan pekerjaan baru bagi masrakat masa Hindia Belanda bahkan sampai kini . Perkebunan yg besar membuka pelung jenis pekerjaan yg majemuk. banyak penduduk yang menggantungkan kehidupanya berasal perkebunan ini. Masyrakat disekitar perkebunan poly menggantungkan kehidupan mereka menggunakan menjadi buruh pemetik teh pada perkebunan tersebut. Selain menjadi pemetik perkebunan teh banyak pula masyrakat yang menjadi buruh pabrik, homogen-rata pekerja buruh pabrik adalah pria sedangkan buruh pekerja pemetiknya didominasi sang kaum wanita. Perkebunan Kayu Aro menjadi aset bagi kabupaten Kerinci itu sendiri. Dijadikannya perkebunan teh Kayu Aro menjadi agrowisata pada kabupaten Kerinci berdampak akbar bagi pendapatan wilayah.
Perkebunan ini pula berdampak pada mobiltas pembangunan essential bagi proses ekonomi pada Kerinci. Dibangunnya wahana-prasarana seperti telefon, jembatan penghubung 2 wilayah dan dibukanya jalan-jalan Kerinci menuju Sumatera Barat serta Jambi masa Hindia Belanda, bisa menopang distribusi kebutuhan ekonomi pasar hingga kini . rumah sakit yang dibangun oleh perusahaan masa Belanda mampu memenuhi kebutuhan kesehatan bagi rakyat srkitar perkebunan. Selaian berdampak terhadap kehidupan rakyat sekitar, perkebuna teh Kayu Aro. mirip yang kita ketahui bahwa kebudayaan serta adat Jawa masih cukup kental pada Kecamatan Kayu Aro seperti yang penulis jumpai berbagai tata cara Jawa yang masih digunakan pada Kecamatan Kayu Aro contohnya, Tradisi Perkawinan, Pemakaman, Ritual Kenduri, Slametan, yg memakai norma atau tradisi dari suku Jawa, akibat kesenian nya juga berbau tradisi atau kebudayaan jawa mirip Jaran Kepang (Kuda Lumping), Wayang Kulit, masih banyak kita temui. dalam perkembangan selanjutnya di tahun 1967 ada juga aliran kepercayaan yang timbul pada Kayu Aro, yaitu peredaran agama Kejawen Saptha darma. berasal urain diatas bahawa perkebunan teh Kayu Aro membawa akibat yang besar bagi perkembangan warga sekitar serta pembangunan daerah pada Indonesia. akibat positif perekebuanan teh Kayu Aro ini memang diraskan asal dulu hingga kini baik dibidanng sosial maupun ekonomi warga sekitar. Perkebunan teh Kayu Aro kini menjadi keliru satu tujuaan wisata pada daerah kerinci jambi.
Kebun Teh Kayu Aro dibangun sang pemerintah colonial Belanda di lebih kurang tahun 1928 begitu juga dengan pabriknya. huma yg dahulu berupa hutan yang kemudian diubah sebagai sebuah perkebunan yang mulanya ditanami kopi. karena hasilnya kurang memuaskan, Belanda akhirnya mengganti tanaman kebun ini menjadi tumbuhan Teh. Penanaman teh mengambarkan yang akan terjadi yang baik sehingga 2 tahun kemudia memperlihatkan hasil penanaman the menggunakan pucuk-pucuk yg berkualitas. pada tahun 1934 hasil produksi perkebunan teh Kayu Aro semakin tinggi tajam. Perkebuna teh Kayu Aro memiliki luas tumbuhan mencapai 2590 hektar di tahun 1940, yang berakibat perkebunan teh Kayu Aro sebagai perkebunan teh terluas di Keresidenan Sumatra Westkust. Perkembangan teh Kayu Aro di tahun 1934 telah bisa memproduksi hasi perkebunan yg baik. Awal produksi perkebunan teh Kayu Aro berkembang sampai sekarang. Perkebunan ini membuat kualitas yang terbaik. Teh Kayu Aro artinya sebuah hadiah alam Kerinci yang latif serta populer pada pasaran global, karena teh Kayu Aro mempunyai aroma serta cita rasa yang spesifik, orisinil tanpa campuran zat kimia atau bahan lainnya.(*)
Penulis adalah: Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi*
Tingginya kasus main hakim sendiri dan hubungannya dengan Pancasila
Perkuat Capaian RB dan SAKIP, Kanwil Kemenkum Jambi Gelar Rapat Pengelolaan Kinerja B06

