Potret Kemiskinan dan Ketimpangan Jambi Terkini



Senin, 01 Agustus 2022 - 16:04:17 WIB



Oleh: Risma Hapsari, S.ST., M.Si.

 

 

BPS (1/8/2022) baru saja merilis angka kemiskinan dan tingkat ketimpangan Jambi kondisi Maret 2022, persentase penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 7,62 persen, menurun 0,05 persen poin terhadap September 2021 dan menurun 0,47 persen poin terhadap Maret 2021.

Jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 279,37 ribu orang, menurun 490 orang terhadap September 2021 dan 14,49 ribu orang terhadap Maret 2021. Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2021 sebesar 10,50 persen, naik menjadi 10,51 persen pada Maret 2022. Sementara persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2021 sebesar 6,28 persen, turun menjadi 6,19 persen pada Maret 2022.

Dibanding September 2021, jumlah penduduk miskin Maret 2022 perkotaan naik sebanyak 1,2 ribu orang (dari 126,10 ribu orang pada September 2021 menjadi 127,34 ribu orang pada Maret 2022). Sementara itu, pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan turun sebanyak 1,7 ribu orang (dari 153,75 orang pada September 2021 menjadi 152,03 ribu orang pada Maret 2022).

Garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan nonmakanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

Garis Kemiskinan pada Maret 2022 tercatat sebesar Rp 545.870,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp 411.537,- (75,39 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp 134.333,- (24,61 persen). Pada Maret 2022, secara rata-rata rumah tangga miskin di Jambi memiliki 4,75 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp 2.592.883,-/rumah tangga miskin/bulan.

Pada Maret 2022, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama. Beras masih memberi sumbangan terbesar di perdesaan yakni sebesar 20,41 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 15,00 persen. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar di perkotaan yaitu sebesar 15,77 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 15,66 persen. Komoditi lainnya adalah daging ayam ras (5,49 persen di perkotaan dan 4,42 persen di perdesaan), cabe merah (4,07 persen di perkotaan dan 4,50 persen di perdesaan), telur ayam ras (3,87 persen di perkotaan dan 3,64 persen di perdesaan), mie instan (2,83 persen di perkotaan dan 2,12 persen di perdesaan), bawang merah (2,27 persen di perkotaan dan 2,34 persen di perdesaan), dan gula pasir (2,25 persen di perkotaan dan 2,65 persen di perdesaan), dan seterusnya.

Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, pakaian jadi perempuan dewasa, dan pakaian jadi laki-laki dewasa.

Pada Maret 2022, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Jambi yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,320. Angka ini meningkat 0,005 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2021 yang sebesar 0,315 dan menurun 0,001 poin dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,321.

Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2022 tercatat sebesar 0,351, naik dibanding Gini Ratio September 2021 yang sebesar 0,347 dan turun dibanding Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,354. Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2022 tercatat sebesar 0,292, naik dibanding Gini Ratio September 2021 yang sebesar 0,284 dan Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,288.

Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 21,14 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2022 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 19,79 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan rendah. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 22,36 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.

Ekonomi di Jambi kian membaik dan ekonomi Indonesia tahun 2022 diperkirakan masih akan mendapat banyak tantangan, baik dari faktor global maupun nasional. Tantangan itu akan berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi yang belum akan terakselerasi seperti yang diharapkan.

Namun, yang juga masih perlu mendapat perhatian adalah masalah ketimpangan ekonomi. Angka indeks rasio gini Jambi sudah menurun, sudah berada dibawah angka 0,350.

Sejarah memberi pelajaran bahwa banyaknya kekisruhan yang terjadi di banyak wilayah atau negara lain bersumber dari masalah ketimpangan ekonomi. Sehingga, ketimpangan ekonomi bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Arti penting penghapusan ketimpangan dalam target pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) kini semakin mengemuka.

Banyak usaha telah dilakukan untuk mengatasi ketimpangan. Kebijakan pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur dan berbagai bentuk usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sangat disambut baik dan selalu ditunggu hasilnya. Kebijakan-kebijakan itu dapat berdampak positif untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan.

Meski demikian, diperlukan usaha yang lebih luas dan komprehensif, dan tentu dengan sasaran yang jelas. Prinsip dasar mengatasi masalah ketimpangan bukanlah dengan menahan pertumbuhan dan perkembangan kelompok yang lebih kaya, tetapi justru mempercepat perkembangan kelompok yang lebih miskin; di samping perlunya ada transfer sumber daya yang sehat, adil, dan produktif dari yang kaya kepada yang miskin dan bukan sebaliknya.

Oleh sebab itu, memahami bahwa strategi pembangunan ekonomi yang bersifat makro merupakan syarat keharusan mengatasi ketimpangan. Akan tetapi, itu saja tidak cukup. Syarat kecukupan akan terpenuhi jika lebih banyak ditumbuhkembangkan strategi mengatasi ketimpangan dari bawah; dari kelompok masyarakat yang lebih tertinggal itu sendiri.

 

 

Kemandirian

Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam mengurangi kemiskinan adalah kurangnya semangat kemandirian. Sehingga, perlunya membangun keinginan untuk maju secara mandiri dan keinginan menjadi mandiri dengan meraih kemajuan.

Semua ingin keluar dari kemiskinan, tetapi banyak yang berharap keluar dengan cara dibantu pihak lain. Hal ini akan menimbulkan mental peminta-minta, dan bukan mental pejuang hidup yang tangguh.

Semangat maju mandiri ini akan mengubah sikap untuk tidak mulai dari apa yang tidak atau belum ada (modal, pasar, teknologi), tetapi dengan bersyukur dan mulai mendayagunakan apa yang sudah ada (tenaga, teman-teman, alam sekitar, dan sebagainya).

Selain itu, yang perlu dipahami bahwa kelompok miskin bukan kelompok yang tidak memiliki apa-apa, tetapi kelompok yang memiliki sedikit. Yang sedikit itu dapat menjadi titik awal mengembangkan kegiatan produktifnya.

Ibarat benih yang kecil dapat tumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat, jika ditanam, dipupuk, dan dipelihara. Perlu ada yang menginspirasi, menemani, dan mendampingi proses tumbuh kembang itu. Peran sesama warga masyarakat akan sangat besar. Pemerintah memang dapat melakukan banyak hal, meskipun tidak semua.

Keberdayaan Individu

Mengurangi ketimpangan dari bawah, sangat penting untuk membangun keberdayaan individu dan kelompok miskin menghadapi tuntutan perkembangan. Tidak pada tempatnya jika pembangunan dari bawah menafikan kenyataan pragmatis yang ada.

Keberdayaan usaha yang dijalankan oleh kelompok miskin akan menjadi faktor kunci keberhasilan mereka sendiri. Di samping itu, kesediaan untuk memanfaatkan teknologi dan perubahan cara masyarakat berperilaku terutama dalam hal pemanfaatan teknologi digital perlu dipahamkan sejak dini.

Proses pemberdayaan masyarakat dari bawah tidak akan berjalan hanya dalam hitungan hari atau bulan. Mungkin dibutuhkan beberapa tahun dalam proses yang berkesinambungan agar perkembangan tahap demi tahap dapat terjadi.

Kelompok miskin akan ”naik kelas” setingkat demi setingkat. Namun, harus diingat bahwa kenaikan itu bukan berarti mereka tidak berisiko ”jatuh lagi”. Oleh sebab itu, lingkungan usaha yang kondusif bagi perkembangan mereka sangat diperlukan.

Indonesia adalah kelompok-kelompok masyarakat, dusun-dusun, desa-desa, dan pranata sosial masyarakat bawah yang terhimpun menjadi satu. Indonesia akan besar dan kuat jika ditopang kekuatan ribuan kelompok-kelompok kecil itu untuk bekerja secara bersama-sama.

 

 

Penulis adalah: Statistisi Muda, BPS Provinsi Jambi



Artikel Rekomendasi