Perempuan Di Era Digital ! Menuntut Emansipasi Namun Juga Mengaminkan Diskrimimasi



Jumat, 12 November 2021 - 20:31:31 WIB



Menurut KBBI emansipasi dapat di definisikan sebagai pembebasan dari perbudakan; atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria): kata emansipasi juga kerap  digunakan untuk menjelaskan usaha-usaha untuk mendapatkan persamaan hak politik, kesetaraan gender, serta persamaan hak dalam bidang lainnya. Sedangkan emansipasi wanita ialah suatu proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan seorang wanita untuk berkembang dan maju di segala bidang dalam kehidupan masyarakat.

Raden Ajeng Kartini, merupakan tokoh sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia, terumata untuk kaum hawa. Ia adalah tokoh kebangkitan kesetaraan derajat perempuan yang dulu direndahkan. Di Indonesia awal tahun 1900 Masehi, wanita tidak diperbolehkan menempuh pendidikan tinggi, bahkan untuk para Ningrat sekalipun. Kartini berjuang sepanjang hidupnya untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang, serta hak pendidikan bagi semua orang, terutama untuk perempuan.  Kemudian emansipasi yang dimaksudkan oleh R.A Kartini agar wanita diakui kecerdasannya dan diberikan kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya, sehingga wanita tidak merendahkan diri dan tidak selalu di rendahkan derajatnya oleh kaum pria.

Melalui proses yang panjang itu dalam memperjuangkan Emansipasi yang dilakukan oleh R.A. Kartini adalah agar wanita mendapatkan hak atas pendidikan yang seluas-luasnya serta setinggi-tingginya. Dalam era digital kemajuan adalah suatu fakta dan setiap masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam digitalisasi haruslah mempunyai keinginan untuk maju baik dari pola pikir maupun tingkah laku. Oleh karena itu, di era ini juga menghargai kebebasan setiap individu demi mencapai kemajuan yang dicita-citakan.  Dulunya  perjalanan penuh emosional dari sosok Kartini yang harus melawan tradisi yang dianggap sakral, bahkan menentang keluarganya sendiri untuk memperjuangkan kesetaraan hak untuk semua orang di Indonesia terutama perempuan.  Namun hingga saat ini pola pikir yang terbelunggu dalam nilai-nilai patriarki masih tetap melekat   sehingga perempuan merasa terpojokkan posisinya di dalam masyarakat. Dan menimbulkan terjadi banyak diskriminasi gender di lingkungan masyarakat. Situasi ini merupakan indikasi lemahnya pemahaman masyarakat terhadap paham feminisme dan semakin diperparah dengan perempuan yang menyuarakan emansipasi malah memberikan stereotip buruk terhadap perempuan lain seperti beban ganda, marginalisasi ekonomi akibat konstruksi gender, startifikasi sosial yang menganggap perempuan berkedudukan lebih rendah dibandingkan laki-laki, serta kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat, dimana pelaku kekerasaan terhadap perempuan bukan hanya berasal dari laki-laki saja tetapi, menurut penulis pelaku tersebesar berasal dari kalangan perempuan itu sendiri. Perempuan yang menghakimi perempuan lain untuk seluruh stigma yang buruk tersebut sehingga masih banyak yang merasakan dampak dari budaya, stigma serta stereotip buruk yang  berkembang di daerahnya.  

Berikut stigma buruk yang terus berkembang di Indonesia :

Perempuan adalah penerima nafkah dari seorang pria atau suami. Implikasinya adalah kebebasan perempuan seakan-akan dibatasi dengan status seorang istri, seperti misalnya perempuan tidak diberi kesempatan untuk meneruskan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi atau mengembangkan bakat serta kemampuan yang perempuan miliki karena Sebagian besar dari mereka berstatus sebagai ibu rumah tangga dan cenderung tidak produktif sama sekali. Pekerjaan mereka hanya berkutat di mencuci, memasak, menyapu, dan membersihkan rumah. Di buku Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam karangan E.Linda Yuliani dijelaskan bahwa budaya patriarki yang masih terjadi di masyarakat membuat posisi perempuan menjadi terpojok. Selain itu ada stigma kalau perempuan pintar akan sulit mendapatkan jodoh.

Pada kasus pelecehan seksual, perempuan justru menjadi pihak yang disalahkan, entah itu berkaitan dengan cara berpakaian, tingkah laku, waktu kejadian pelecehan, atau penghakiman yang tidak menempatkan laki-laki sebagai pelaku. Dasar dari penghakiman tersebut adalah merupakan sesuatu yang normal untuk laki-laki melakukan pelecehan seksual karena mereka memiliki libido atau syahwat yang tinggi, letak permasalahannya justru terdapat dengan baik atau terhormat. Para korban pun akhirnya diberi label oleh lingkungan sosial dengan label yang jelek atau bahkan hina. Perempuan akan disalahkan karena pakaian atau apapun itu yang mengundang lak-

Membiarkan jika ada laki-laki bersiul dan menggoda kaum perempuan yang melintas di jalan ( CatCalling ), tindakan mereka seolah-olah menjadi hal yang lumrah dan wajar sebab sebagai laki-laki, mereka harus berani menghadapi perempuan, laki-laki dianggap sebagai kaum penggoda sementara kaum hawa adalah objek atau makhluk yang pantas digoda dan tubuh perempuan dijadikan sebab dari tindakan kekerasan itu sendiri.

Kaum janda seringkali ditempatkan sebagai wanita pada posisi yang rendah, lemah, tidak berdaya dan membutuhkan belas kasih, sehingga dalam kondisi sosial budaya seringkali terjadi ketidakadilan dan diskriminasi, termasuk pada stigma. Perempuan menjadi objek yang disalahkan atas terjadinya sebuah perceraian. Beberapa persepsi muncul pada kasus perceraian, bahwa kesalahan terdapat pada perempuan yang tidak mau bersabar sedikit menjaga keutuhan rumah tangganya. Padahal persoalan perceraian tidak lepas dari kedua belah pihak. Bukan hal yang asing lagi Padahal menyandang status sebagai seorang janda bukan perkara mudah bagi seorang perempuan, sebab status tersebut memunculkan trauma yang berkepanjangan, bahkan banyak perempuan disalahkan atas kondisi yang demikian.

Untuk menghadapi tantangan bagi perempuan dalam menjalankan peran dan fungsinya di era digital tentu tidak mudah. Peran pendidikan dalam bentuk literasi digital sangat diperlukan dalam menjawab tantangan tersebut. Bambang Soesatyo menggambarkannya dalam pesan yang ditulis oleh Kartini kepada Nyonya Van Kool pada Agustus tahun 1900. “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik, dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.” (Prani Pramudita)

Menjadi seorang feminisme (yang memperjuangkan emansipasi wanita) dapat dilakukan dengan menekankan pentingnya pendekatan dan pemberdayaan ekosistem dalam mewujudkan gerakan literasi, apalagi di masa pandemi ini. “Dengan menggunakan berbagai sumber informasi, multi media dan multi dimensi, harus diimbangi dengan kemampuan menafsirkan dan menggunakan informasi tersebut, berpikir dan menanggapi informasi secara kritis, berkesadaran dan bertanggung jawab bahwa hal utama yang perlu diperhatikan adalah pola, bagaimana memanfaatkan teknologi dalam keseharian kita terbiasa mencari berita dengan sengaja mengunjungi laman tertentu misalnya, atau menerima saja  berita darigrup–gruppercakapan.

Perempuan dalam memperjuangkan emansipasi dapat mengajak kaum perempuan lain untuk dapat memanfaatkan teknologi, tidak hanya secara maksimal, tetapi juga bijaksana. Dalam memanfaatkan media sosial, misalnya, menggaris bawahi pentingnya membuka diri, belajar kepada generasi muda yang lebih memahami. Begitu pun dalam pengelolaan konten media sosial, baik itu untuk tujuan politik, bisnis, maupun sosial, agar pengguna akun lebih banyak bercerita, bukan sekadar membagikan foto. Perkembangan dunia digital juga dapat membuka peluang atau kesempatan bagi kaum perempuan untuk mengembangkan potensi diri yang dimilikinya untuk menunjukkan bahwa perempuan dapat lebih unggul dibanding kaum pria Apabila perempuan dapat saling mendukung memanfaatkan apa-apa yang berpotensi pada dirinya, maka ia sebenarnya berkemampuan mengatasi berbagai benturan ataupun kendala, ia akan menjadi pribadi yang mantap dalam melangkah di medan laga kehidupan.(*)



Artikel Rekomendasi