Oleh: Muhammad Esa Pratama*
Kerinci apakah tidak asing di kuping kalian? khususnya masyarakat Jambi. Kerinci adalah salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jambi, Indonesia, yang berbatasan dengan provinsi Bengkulu, dan provinsi Sumatra Barat. Kerinci memiliki keanekaragaman budaya dari musik, makanan tradisional, tarian tradisional dan lain-lain. Kerinci memiliki sebuah tarian tradisional yang bernama Tari Rangguk Ayak, tari Rangguk Ayak merupakan tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Penamaan Rangguk berasal dari dua kata yang digabung menjadi satu, yaitu "uhang" yang berarti orang dan "ganggok" yang artinya angguk, sehingga kata rangguk berarti mengangguk.
Pada awal penciptaan dan perkembangannya, tarian ini hanya dibawakan oleh kaum pria. Namun, mulai 1950-an, tari Rangguk Ayak juga dipentaskan oleh perempuan. Tari Rangguk Ayak digunakan sebagai media dakwah untuk menyiarkan agama Islam. Oleh sebab itu, penampilannya berupa perpaduan antara gerak dengan pantun yang dinyanyikan berisi tentang kehidupan sosial masyarakat dan berhubungan erat dengan syiar Islam.
Menurut cerita yang berkembang, Tari Rangguk Ayak diciptakan oleh seorang ulama setempat setelah kembali menunaikan ibadah haji. Saat itu, ia tertarik dengan tradisi yang berkembang pada masyarakat Arab, khususnya yang dimainkan generasi pemuda setempat, yaitu menabuh rebana sambil mengangguk. Tari Rangguk tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat desa di Jambi. Pasalnya, tarian ini selalu dipertontonkan pada upacara adat maupun upacara keagamaan. pertunjukan Tari Rangguk biasanya dikaitkan dengan identitas desanya.
Tarian Rangguk Ayak mengandung banyak nilai estetika dan nilai spiritual yang bersumber ajaran Islam. Hal itu tercermin dalam gerakan-gerakan kepala yang mengangguk-angguk, irama musik berupa tabuhan rebana, serta diselingi dengan pantun puji-pujian. Uniknya, gerakan tari yang ditampilkan oleh para penari diambil dari beberapa gerakan makhluk hidup, seperti liukan tumbuh-tumbuhan, gerak riang hewan, dan lenggak-lenggok manusia yang dipadukan menjadi satu. Gerakan-gerakan tersebut mengandung nilai spiritual sebagai ungkapan rasa syukur dan ketakwaan kepada Sang Pencipta.
Dalam perkembangannya, gerakan Tari Rangguk disesuaikan dengan suasana dan tempat tari tersebut ditampilkan. Jika tari dibawakan untuk hiburan, para pemainnya menabuh rebana dan mengangguk sambil duduk melingkar. Namun, apabila tari dipertunjukkan untuk menyambut tamu, tarian dilakukan dengan posisi berdiri berbaris rapi sambil memukul rebana, sementara kepala mengangguk-angguk kepada tamu sebagai simbol ucapan selamat datang. Selain sebagai hiburan dan menyambut tamu, Tari Rangguk juga ditampilkan pada pesta adat masyarakat Kerinci seperti pada acara pengangkatan atau pemberian gelar adat.(*)
Penulis adalah: Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jambi*
Implementasi Nilai - Nilai Sumpah Pemuda di Era Pandemi Covid - 19
Problem Pinjol Ribawi hanya Selesai dengan Penerapan Islam Kaffah


Perkuat Sinergi Daerah, Kanwil Kemenkum Jambi Mantapkan Kerja Sama dengan Pemkab Tanjab Barat

