JAMBERITA.COM - Organisasi mahasiswa yang di dirikan oleh Lafran Pane beserta kawan-kawan sudah jauh mengikuti dinamika bangsa dan pergolakan pemikiran hingga di umur yang HMI makin besar yang kader dan cabangnya tersebar dimana-mana.
Tentunya dengan capaian maupun prestasi di ruang publik tidak bisa kita pungkiri bahwasanya alumni-alumni HMI sudah mengisi ruang-ruang publik dan berhasil menunjukkan bahwa kita punya kualitas.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) organisasi yang beranggotakan kaum elit intelektual (Mahasiswa) sudah yang kaya akan teori gagasan dan reflektif kebangsaan.
Lalu bagaimana wajah HMI Hari Ini ? Sikap tahu diri juga harus kita tanamkam dalam diri kita (kader).
Tak ter-elakkan Daya kritis melemah, gagasan menipis dan intelektual menurun. Ke-islaman? Ya tentu pada dasarnya kita tidak punya kuasa hal untuk menilai siapa yang beriman dan tidak.
Ruang dialog, warung kopi dan wadah diskusi lainnya ataupun kegiatan lain sudah banyak yang tidak produktif lagi untuk HMI kedepannya. Bisa kita cek secara mendalam di dalam diri kader, banyak di antara kita yang sudah meninggalkan prinsip dasar. Kader-kader sudah mulai kehilangan ideologi dan bingung tentang arah juang.
Jangan kan itu, pembahasan tentang Nilai-Nilai dasar perjuangan sudah takut untuk di diskusikan dan 4 (empat) materi wajib sudah mulai di tinggalkan oleh kader-kader HMI yang katanya militan hari ini, di tambah lagi literatur dalam dunia teori, bahan bacaan dan refleksi dinamika kebangsaan sudah apatis.
Corak keilmuan sebagai cendikiawan muslim sudah hilang, Gagasan-gagasan tentang kebangsaan hari ini sudah meredup. Hari ini kader-kader HMI sampai pada titik buta akan polemik sosial, meninggalkan masyarakat tertindas dan bingung mau bagaimana kedepannya.
Sampai kapan kondisi ini kita rawat? Sibuk dalam dinamika internal, lupa upgrade diri, belum update informasi, tak peduli sosial dan tak indahkan kebenaran dan tentunya harapan awal yang di gagas tentang terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT sangat sulit untuk kita capai.
Dengan kondisi yang sudah serumit ini, tentunya harus kita pertegas bahwasanya kita adalah pewaris gagasan bangsa, menyumbangkan pemikiran untuk kemajuan menyumbangkan tenaga atas dasar kerakyatan dan memastikan tujuan HMI pasal 4 terwujud. Pastinya bukan seperti membalikkan telapak tangan, tentunya juga dengan ikhtiar kader-kader yang ada untuk memperbaiki personal membangun gagasan dan mempertajam gerakan.
Pewaris gagasan bangsa seharusnya hadir sebagai literatur sosial dan penyelesaian dinamika sosial solilusi dari permasalahan. Corak keilmuan dan keislaman sudah harus di tebalkan bukan hanya slogan saja, pembahasan-pembahasan strategis bagaimana HMI, bangsa dan keumatan kedepan sudah harus di pertajam.
Indonesia hari ini, Jambi terutamanya sudah mulai kehabisan gagasan dan golongan muda sebagai pendorong perkembangan suatu wilayah.
Jika kondisi ini tidak segera di rubah, maka inilah wajah Bangsa ini kedepannya, sekali lagi penulis tegaskan bahwa HMI adalah pewaris gagasan bangsa dan kitalah kader-kader HMI yang akan merubah kesinjangan yang ada, jangan lagi sibuk dengan pecah belah dan konflik internal. Kita sudah saatnya fokus untuk mewujudkan tujuan HMI.
Penulis : Aktivis HMI Andre Setiawan
Bupati Tanjab Barat Tinjau Rumah Warga Program Bedah Rumah BAZNAS
Ketua Komisi III Albert Chaniago Hadiri Peringatan Hari Buruh di Tanjab Barat
FKIK UNJA Sukses Gelar Pelatihan Kepemimpinan Nasional AMSA-Indonesia 2026 di Jambi
Implementasi Nilai - Nilai Sumpah Pemuda di Era Pandemi Covid - 19



