Perbandingan Nyata Dikalangan Masyarakat Antara Perbankan Syari’ah dan Bank Konvesional



Kamis, 10 September 2020 - 19:15:45 WIB



Mira Khoiriya
Mira Khoiriya

Oleh: Mira Khoiriya *

 


Bank Syariah dan Bank Konvesional yaitu Bank Syariah menerapkan pembagian kerugin sementara bank konvesional tidak. Dalam sistem Perbankan di Indonesia memang terdapat dua macam sistem operasional perbankan,yaitu bank konvesional dan bank syariah.

Menurut UU No.21 tahun 2008 tentang perbankan syariah, Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip hukum islam syariah. Bank syariah tidak didasarkan pada orientasi laba dengan menerapkan bunga seperti pada bank konvesional. Selain itu, berikut informasi mengenai perbedaan Bank Syariah dengan bank konvesional menurut AIMS.
Pertama, sistem perbankan syariah memiliki produk sebagai aset nyata, uang hanyalah alat tukar, sedangkan sistem perbankan konvesional menggunakan uang sebagai produk selain alat tukar dan menyimpan nilai.

Kedua, laba pada pertukaran barang dan jasa pada bank syariah adalah dasar untuk mendapatkan laba, sementara nilai waktu adalah dasar mendapatkan laba untuk membebankan bunga atas modal.

Keempat, Bank syariah mewajibkan eksekusi perjanjian untuk pertukaran barang dan jasa sementara bank konvesional tidak memiliki perjanjian tertentu.

Kelima, Bank Syariah menerapkan pembagian kerugian sementara bank konvesional tidak.
Keenam, memberi kontrol atas inflasi sehingga tidak ada harga tambahan yang dibebankan oleh perusahaan. Sebalikknya, bank konvesional menaikkan harga barang dan jasanya karena inflasi.
Kedelapan, jumlah ekpor neto menjadi positif karena meningkatkan karena peningkatan PDB riil pada bank syariah, sehingga mengurangi beban utang luar negeri dan melemahkan mata uang lokal.

Meskipun demikian, sistem perbankan syariah dan perbankan konvesional secara bersama-sama mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.

Keunggulan Bank Syari’ah

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1991 silam, ststistik perbankan syariah nasional menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Data otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2018 menyebutkan bahwa pertumbuhan bank syariah lebih unggul 4-5% dibandingkan bank konvesional.
Sembilan keunggulan bank syariah dibandingkan bank konvesional.

Berpedoman pada prinsip-prinsip Syariah.

Kelebihan pertama, segala kegiatan operasionalnya dilakukan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dan aturan islam, dengan pengawasan ketat dari MUI dan pemerintah.

Lembaga keuangan berbasis syariah sendiri tidak mengenal sistem bunga dalam pelaksanaannya, sebagaimana sudah didtetapkan dalam syariat menggunakan sistem bagi hasil yang transparan.
Hal ini tentu bisa menjadi pilihan bagi calon nasabah seperti anda yang masih ragu ragu menggunakan produk keuangan dari bank konvesional dengan sistem yang masih belum diyakini kehalalanya.

Sistem Pembagian keuntungan

Dalam kegiatan perbankan syariah dikenal istilah al-mudharabah (bagi hasil), artinya bank memberikan bagi hasil kepada nasabah yang diperoleh dari keuntungan aset atau dana yang diinvestasikan.

Besarnya bagi hasil ini sudah disepakati sejak awal akadpun pihak bank menjalankan seluruh kegiatan operasionalnya dengan menggunakan hasil keuntungan tersebut.

Pengelolahaan dana sesuai Syariat

Prinsip islami dalam kegiatan perbankan syariah juga ditetapkan dalam hal pengelolahan dana nasabah maupun aset milik bank itu sendiri.Inilah salah satu keunggulan bank syariah dibandingkan bank umum.

Jika bank konvesional cenderung menginvestasikan dananya pada lini bisnis apa saja, bank syariah berlaku sebaliknya.

Dalam memilih lini bisnis untuk dijadikan tempat berinvestasi bank syariah cenderung selektif dan berhati hati.

Menggunakan Prinsip Akad

Kebalikan dari bank konvesional yang seluruh proses transaksinya berpedoman pada hukum yang berlaku saat ini, bank syariah mengedepankan prisip akad sebagai alat utama untuk menjembatani kegiatan finansialnya dengan nasabah.

Akad yanh dipakai dalam perbankan syariahpun sangat beragam, sepeeti:

Mudharabah (Bagi hasil)
Rahn
Qard
Musyarakah (berkongsian)
Murabahah
Ijarah (sewa menyewa)
Wakalah (keagenan)
Salam
Istishna’
Hawalah
Wadiah
Ada kewajiban Zakat 2,5%

Kewajiban mengeluarkan zakat sebesar 2,5% dari total harta kekayaan (aset) yang dimiliki juga diterapkan oleh lembaga keuangan syariah.

Setiap tahunnya, bank syariah mengeluarkan zakata sebesar 2,5% untuk diinfakkan kepada yang yang membutuhkan.

Saat anda menggunakan jasa Bank Syariah, berarti anda juga turut membangun kesejahteraan masyarakat luas.

100 Persen halal

Kredit yang diberikan oleh bank syariah mempunyai persyaratan yang mewajibkan dana digunakan untuk aktivitas yang halal, bisnis yang dibiayai bank syariah, juga tidak boleh beresiko mengandung kegiatan yang diharamkan oleh agama islam.

Hal ini sama sekali tidak membatasi nasabah bank syariah harus muslim, justru agama apapun boleh, asal halal pemakaiannya. Meskipun nasabah tersebut muslim, tapi jika pemakaian dana atau usaha yang dijalankannya tidak halal, maka dia tidak diperkenankan untuk mengambil kredit di Bank Syariah.

Manajemen finansial yang lebih aman

Tragedi finansial kredit subprime tahun 2007 nyaris tidak mengoyangkan investasi yang berbasis syariah. Disaat banyak bank investasi dan bank bank yang besar bangkrut maupun membutuhkan kucuran dana, banyak bank syariah baru yang justru bermunculan atau buka cabang.
Krisis ekonomi justru telah membuktikan bahwa manajemen finansial berbasis syariah jauh lebih aman dibandingkan ekonomi liberal yang dinanut bank konvesional.

Bank syariah sudah dilengkapi fasilitas Net Banking

Bank syariah di Indonesia saat ini sudah mengadopsi teknologi yang populer digunakan masyarakat. Bank syariah juga memberikan fasilitas berupa kemudahan melakukan transaksi perbankan melalui internet.

Memberi saldo tabungan yang rendah

Salah satu keuntungan dari menabung dibank syariah adalah hampir semua bank syariah nasional memberlakukan saldo tabungan yang rendah kepada nasabah nasabahnya. Nilai saldo minimal itu tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka yang ingin memiliki tabungan dengan saldo mengendap yang nilainya kecil.

Perolehan Keuntungan Bank Syariah dan Konvesional

Kedua bank sama-sama memberikan keuntungan bagi nasabahnya. Hanya saja pemberian keuntungan kedua Bank ini berbeda bentuk. Menurut undang undang Nomor 10 Tahun 1998 Bank Konvesional merupakan Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional sementara itu, Bank Syariah, dijalanakan berdasarkan prinsip keuangan yang berlaku dalam agama islam. Lalu berdasarkan prinsip ini, bagaimana kedua jenis bank ini mendapatkan keuntungannya?

Bank Syariah: Keuntungan berasa dari pendekatan bagi hasil. Dimana yang dimaksud dengan bagi hasil disini adalah keuntungan bank dari berbagai jasa yang disediakan, seperti bagi hasil usaha dan biaya administrasi dari pinjaman.

Bank Konvesional: Keuntungan berasal dari bunga serta dari kegiatan inti operasional bank, berupa pengelolaan uang nasabah. Sebagaimana bank syariah, bank konvesional juga menetapkan biaya administrasi untuk kegiatan pemberian pinjaman.

Proses Transaksi Perbankan

Bank Syariah: Transaksi berdasarkan Al-Quran dan hadist dan telah difatwakan oleh majelis ulama Indonesia (MUI). Jenis transaksinya antara lain akad al-mudharabah (bagi hasil), al-musyaraqah (perkongsian), al-musaqah (kerja sama tani), al-bai’i (bagi hasil), al-ijarah (sewa menyewa), dan al-wakalah (keagenan).

Bank Konvesional: transaksi berdasarkan pada hukum yang berlaku dinegara Indonesia.
Mana Lebih Menguntungkan?

Sebenernya Bank Konvesional maupun Bank Syariah ada keuntungan dan resiko masing masing. Jika anda tidak keberatan dengan sistem bunga dan ingin mendapatkan keuntungan dari simpanan yang tetap, maka bisa menggunakan jasa bank konvesional.

Sedangkan, jika anda lebih suka ketenangan dalam kegiatan perbankan karena mengikuti aturan agama islam, maka bisa menggunakan jasa bank syariah. Selain itu, karena posisi nasabah yang dianggap sebagai mitra, keuntungan dari simpanan dana anda bisa lebih besar saat bank mendapatakan laba yang besar.(*)

 


Penulis adalah: Mahasiswa UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Prodi Ekonomi Syariah*







loading...