Cara Perbankan Syariah Melakukan Strategi Pemasaran Produk Untuk Menarik Minat Nasabah



Kamis, 10 September 2020 - 13:37:00 WIB



Tiara Agustin
Tiara Agustin

Oleh: Tiara Agustin*

 

 

Strategi pemasaran bank syariah menjadi menarik untuk disimak karena penerapan kesyariatan Islam dalam produk yang ditonjolkan kepada para nasabah. Oleh karena itu, semua bank syariah sudah tentu menjaring nasabah yang beragama Islam. Mereka akan menjadi sasaran untuk menggunakan berbagai produk perbankan dengan prinsip syariah.Pihak bank syariah tentu saja harus menjamin kemurnian dan ketaatan dalam menjalankan prinsip syariah di bidang perbankan. Dengan begitu, para nasabah terutama yang benar-benar ingin menabung dan menyimpan dananya yang terbebas dari bunga bank yang diharamkan, dapat terwujudkan semua itu.Sementara itu, bank syariah juga tidak menutup bagi para nasabah dari agama dan kepercayaan lain. Silakan untuk bergabung dan memanfaatkan berbagai produk perbankan dengan prinsip syariah. Nasabah non Islam pasti juga sudah mengetahui secara umum tentang prinsip syariah yang diterapkan. Dengan begitu, mereka akan mengetahui untung ruginya jika menyimpan dananya di bank syariah.

Salah satu strategi pemasaran bank syariah yaitu dengan produk

Perlu Anda ketahui perkembangan perbankan nasional dengan prinsip syariah di Indonesia cukup mengesankan. Bahkan, semakin banyak berdiri bank dengan nama belakang syariah, meskipun pada awalnya bank tersebut menganut paham konvensional. Tidak ada masalah karena merupakan salah satu strategi perbankan untuk menjaring banyak konsumen. Bagitu juga untuk bank syariah, terdapat beberapa strategi pemasaran yang diterapkannya, antara lain sebagai berikut.Produk (Product)dalam strategi marketing mix, langkah yang pertama dilakukan adalah strategi produk. Hal ini penting karena yang akan dijual adalah produk dan konsumen akan mengenal perusahaan melalui produk yang ditawarkan. Dalam artian sederhana produk dikatakan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Sementara itu, pengertian produk menrut Philip Kotler adalah “ sesuatu yang dapat di tawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian untuk dibeli, digunakan atau dikonsumsi, sehingga dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan.”

Didalam perbankan syariah produk bank syariah diindonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok   Produk penghimpunan dana  yang pertama Prinsip Wadiah ,prinsip wadiah ini  dibagi menjadi 2, yaitu yang pertama wadiah yad amanah wadiah ini di perbankan syariah di aplikasikan untuk penitipan barang tersebut.adapun beberapa barang yg bisa dititipkan antara lain adalah harta benda,dokumen,dan harta benda yang lain.

Yang kedua  wadiah yad dhamanah wadiah ini adalah akad pnitipan barang atau uang dimana pihak penerima titipan dengan atau tanpa izin pemilik barang dapat memanfaatkan barang atau uang yang dititipkan dan harus bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan barang tersebut,dalam perbankan syariah akad ini di aplikasikan oleh bank syariah lewat produk giro maka implikasinya sama dengan Qardh dimana nasabah bertindak sebagai peminjam uang dan bank bertindak sebagai yang dipinjami.

Selain menggunkan prinsip wadiah untuk strategi pemasaran produk perbankan syariah    juga menggunkan prinsip mudharabah.

Prinsip Mudharabah pengertian tentang mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama sebagai pemilik modal dan pihak kedua sebagai pengelola modal. keuntungan dan kerja sama tersebut dibagi untuk kedua belah pihak sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian. Ada beberapa ahli berpendapat salah satunya adalah M. Abdul Mannan, Mudharabah adalah saat tenaga kerja dan pemilik dana bergabung Bersama-sama sebagai mitra usaha untuk kerja.Kesimpulannya adalah bahwa hal-hal pokok yang terdapat dalam mudharabah, yaitu ada pemilik dana (Bank), ada orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha/bisnis yang membutuhkan dana. Dengan kerja sama atau kesepakatan untuk mencari keuntungan, keuntungan yang diperoleh kemudian dibagi para pihak sesuai perjanjian, pemilik dana (bank) menanggung kerugian yang tidak disebabkan oleh pengelola, asalkan dana pokok tidak berkurang. Mudharabah tidak dilarang dalam Syariah, hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi SAW.

berdasarkan aplikasinya prinsip mudharabah, terdiri dari yang pertama adalah Tabungan berjangka,tabungan ini merupakan jenis tabungan dengan jangka waktu tertentu, mulai dari enam bulan hingga 20 tahun. Tabungan berjangka biasanya ditarik secara otomatis dari rekening terdaftar Anda setiap bulan (transaksi auto debit).dan yang kedua yaitu Deposito berjangka,deposito ini adalah produk sejenis tabungan dimana uang yang disetorkan dalam deposito berjangka tidak boleh ditarik nasabah dan baru bisa dicairkan sesuai tanggal jatuh.

Strategi pemasaran produk di perbankan syariah juga menggunakan produk penyaluran dana dan di dalam situ juga mencakup prinsip-prinsip nya.

Produk penyaluran dana mencakup 2 prinsip dan satu produk jasa,prinsip yang pertama yaitu prinsip jual beli transaksi jual beli dalam ekonomi syariah adalah pertukaran suatu nilai (value) atau harga dengan nilai benda yang setimpal yang sudah termasuk dalam unsur iwad di dalam nya. Apa bila ada tambahan atau kenaikan harga jual yang tidak mengandung Iwad maka tersaksi jual beli tersebut masuk dalam catagory riba.

Pada transaksi pinjaman atau utang, interest yang didapat tidak terdapat iwad, karena tidak mengandung risiko, kalau kita meminjam uang di bank, kita harus menggadaikan properti kita sebagai jaminan, kalau kita tidak dapat membayar utang pada bank, dengan mudahnya bank dapat menyita dan menjualnya untuk menutupi utang kita. Bank meminjamkan uangnya pada kita, dan mendapat jaminan barang milik kita, sehingga pihak bank tidak menanggung risiko apa pun. Sementara itu kalau kita menitipkan uang kita pada Bank, kita tidak bisa meminta jaminan pada bank walaupun kita percaya, bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya tidak memakai sistem riba di setiap transaksinya..

Prinsip jual beli ini dibagi lagi menjadi 3 jenis yaitu yang pertama adalah pembiayaan mudharabah apa itu pembiayaan mudharabah? Pembiayaan Mudharabah adalah Penyediaan dana atau tagihan untuk kerja sama usaha antara dua pihak dimana pemilik dana (shahibul mal) menyediakan seluruh dana,sedangkan pengelola dana  bertindak selaku pengelola dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Adapun sebagian ketentuan dari pembiayaan mudharabah ini yaitu pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh lks kepada pihak lain untuk usaha yang produktif,dalam pmbiayaan ini lks sebagai shahibul maal(pemilik dana) membiayai 100% kebutuhan suatu proyek,jangka waktu usaha tatacara pengembalian dana dan pembagian keuntungan di tentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak,jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

Yang kedua Bai salam,apa yang dimaksud dengan bai salam ini? Suatu benda yang sifatnya dalam tanggungan atau memberi uang didepan secara tunai,barangnya diserahkan kemudian  untuk waktu yang ditentukan.secara lebih rinci salam didefinisikan dengan bentuk jual beli dengan pembayaran dimuka dan penyerahan barang di kemudian hari.

Yang ketiga bai istisna, bai istishna sudah dikenal sejak dahulu kala di zaman Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Di salah satu riwayatnya, Rasulullah diceritakan memesan cincin dari perak. Bentuk pemesanan barang tersebut masuk ke dalam akad istishna. Lalu, akad ini pun di zaman-zaman selanjutnya disepakati oleh ulama sebagai salah satu akad perdagangan yang sesuai dengan syariat islam.contoh transaksi dengan bai istisna yaitu misalnya rumah apabila dipesan sesuai dengan keinginan anda, termasuk dalam akad istishna. Misalnya, ingin rumah dengan 3 kamar, desainnya minimalis, dan ada kolam renangnya. Untuk memenuhi keinginan ini, Anda bisa memesan rumah KPR di perbankan syariah yang menyediakan fasilitas tersebut,Pakaian apabila anda ingin pakaian kustom sesuai dengan selara, juga termasuk dalam istishna.

Adapun prinsip-prinsip nya,prinsip yang pertama yaitu prinsip sewa (ijarah) prinsip sewa ini adalah transaksi yang dilandasi dengan adanya manfaat.jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli namun perbedaannya terletak pada objek transaksinya bila pada jual beli objek transaksi nya adalah barang,maka pada ijarah objek transaksi nya adalah jasa,pada akhir masa sewa  bank dapat saja menjual barang yang disewakannya kepada nasabah.

Yang kedua  prinsip bagi hasil , prinsip ini merupakan alternative oprasional yang dapat di terapkan dalam kegiatan perbankan untuk menghindari riba dengan berbagi dalam untung dan rugi yang berdasarkan syariah islam.

Dan yang terakhir yaitu menggunakan    Produk jasa, apa itu produk jasa? Selama ini, masyarakat sebenarnya sudah menikmati banyak hasil dari penawaran produk jasa. Menurut Kotler, pengertian produk jasa adalah tindakan dari satu pihak ke pihak lain yang terkait produksi dari produk fisik maupun tidak.Sejalan dengan pendapat ini, Zethamel dan Bitner pada tahun 1996 merumuskan bahwa jasa atau servis merupakan aktivitas ekonomi yang tidak menimbulkan adanya produk secara fisik, namun berimbas pada kesehatan, kesenangan atau keuntungan yang bersifat “tidak terlihat”.

Berdasarkan pengertian-pengertian produk jasa tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk ini tidak bisa dilihat atau dinyatakan dalam bentuk benda. Produk jasa ditawarkan kepada konsumen berdasarkan kemampuan produsen.di dalam produk jasa ini dibagi lagi dalam beberapa jenis yaitu, Yang pertama pengambilan utang piutang (hiwalah)Hiwalah adalah transaksi pengalihan utang piutang. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan utang piutang. Dalam praktek perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya.

Yang kedua yaitu pelimpahan/gadai (rahn) Pelimpahan atas suatu kekuasaan (barang) oleh nasabah kepada bank untuk mendapatkan sejumlah dana (uang) dan oleh karenanya bank berhak atas sejumlah imbalan.

Yang  ketiga yaitu pinjaman uang (Qardh) Qard adalah pinjaman uang. Aplikasi qard dalam perbankan antara lain untuk pinjaman talangan haji, dimana nasabah talangan haji diberikan pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan haji. Nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatannya naik haji. Atas jasa bank memberikan dana talangan tersebut bank dapat memperoleh fee (ujrah).

 Yang keempat yaitu perwakilan (wakalah) Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan (pekerjaan) dari nasabah kepada bank dan atas jasanya tersebut bank berhak meminta imbalan tertentu. Atau dengan kata lain wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama. Contoh: pembukaan L/C dan transfer uang. Secara teknis perbankan wakalah adalah akad pemberian wewenang/kuasa dari lembaga/seseorang (sebagai pemberi mandat) kepada pihak lain (sebagai wakil, dalam hal ini bank) untuk mewakili dirinya melaksanakan urusan dengan batas kewenangan dan dalam waktu tertentu. Yang kelima yaitu penjaminan (kafalah) Produk di perbankan syariah yang menggunakan skema kafalah adalah produk bank garansi. Dalam kafalah atau adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain , terdapat pengalihan tanggung jawab nasabah kepada bank dan atas jasanya bank berhak meminta imbalan. Contoh: kafalah digunakan dalam produk kartu kredit syariah.

Jadi kesimpulan dari pembahasan yang diatas adalah semua bank syariah sudah tentu menjaring nasabah yang beragama Islam. Mereka akan menjadi sasaran untuk menggunakan berbagai produk perbankan dengan prinsip syariah.Pihak bank syariah tentu saja harus menjamin kemurnian dan ketaatan dalam menjalankan prinsip syariah di bidang perbankan. Dengan begitu, para nasabah terutama yang benar-benar ingin menabung dan menyimpan dananya yang terbebas dari bunga bank yang diharamkan, dapat terwujudkan semua itu.Sementara itu, bank syariah juga tidak menutup bagi para nasabah dari agama dan kepercayaan lain.(*)

 

 

Penulis adalah:  Mahasiswa UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi Fakultas ekonomi dan bisnis Islam prodi perbnakan syariah*







loading...