Jika Mahasiswa adalah Agent of Change, mengapa tidak semestinya?



Kamis, 10 September 2020 - 15:21:24 WIB



Fransisko Chaniago, S.sos., M.Pd
Fransisko Chaniago, S.sos., M.Pd

Oleh: Fransisko Chaniago, S.sos., M.Pd*

 

 

Setelah membaca dan melihat beberapa tulisan yang bermaksud menghidupkan semangat baru bagi mahasiswa tentunya menciptakan tulisan yang sederhana ini untuk membangkitkan semangat kita sebagai mahasiswa yang akan menjadi penerus sebagai pondasi kokoh menjaga sekaligus merawat Negara Indonesia.

Kita tahu bahwa Bapak Soekarno adalah Presiden Pertama pada tahun 1945 sampai pada tahun 1967. Beliau adalah pemimpin pergerakan kebangsaan sekaligus pemikir masalah kebangsaan dan kenegaraan yang paling berpengaruh, maka pernyataan beliau sering digaungkan oleh mahasiswa sampai sekarang.

“Beri aku 1000 orangtua maka akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku 10 Pemuda, maka akan ku guncangkan dunia” Soekarno.

Bukanlah jumlah sepuluh pemuda melainkan menggambarkan betapa dahsyatnya atas apa yang bisa dilakukan oleh pemuda dalam melakukan perubahan karena, dengan 10 pemuda dapat melahirkan generasi-generasi penerus yang mampu mengubah dunia.

Mahasiswa memiliki peran sebagai generasi penerus, generasi pengganti, dan generasi pembaharu. Ketiga peran tersebut adalah hakikatnya harus ada pada jati diri seorang mahasiswa dalam melakukan perubahan di setiap sejarah kekacauan Bangsa.

Mungkin pernah terngiang di telinga kita dengan pernyataan “setiap orang ada masanya dan disetiap masanya nanti ada orangnya. Mahasiswa di ultimatum atau dijuluki sebagai Agent of Change generasi yang diharapkan agar menjadi penerus, menjaga, sekaligus memajukan Negara Indonesia agar mampu bersaing dengan Negara-negara yang ada di dunia.

Mahasiswa juga dipandang sebagai asset yang paling berharga bagi Negara, yang diharapkan mampu menjadi penetral ketika pemerintah dan masyarakat tidak saling bersinergi, mengkritik pemerintnah dengan cara demonstrasi ketika terjadi kekeliaruan dalam menjalankan tugas, serta menagih janji pemerintah agar tersalurnya hak rakyat karena mahasiswa juga bagian dari masyarakat.

Demoralisasi tidak dipungkiri telah merasuki ranah kehidupan mahasiswa. Demoralisasi yang dimaksud adalah seperti kasus penyimpangan moral seperti pergaulan bebas, tindakan anarkis, narkoba, dan masih banyak lainya. Hal demikianlah yang dapat merubah haluan mahasiswa untuk menjalankan tugas dan kewajibanya serta mencapai tujuan yang diharapkan oleh Bangsa.

Proses beramal menjadi bagian utama dalam menanamkan karakter pada diri mahasiswa melalui tujuh tahapan yaitu: memperbaiki diri sendiri, membentuk keluarga muslim, membimbing masyarakat, memerdekakan tanah air, membenahi pemerintahan sehingga terbentuk pemerintahan yang Islami, mengembalikan eksistensi negara bagi umat Islam, dan terakhir kepeloporan internasional dengan melakukan dakwah di seluruh negara.

Menarik sekali seorang pemikir Islam Hasan Al-Banna beliau adalah seorang guru dan seorang reformis Mesir sosial dan politik Islam, yang terkenal karena mendirikan Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis. Hasan Al-Banna ini memiliki pemikiran tentang pemuda beliau menyatakan bahwa, Pemuda Islam adalah sosok pemuda yang memiliki iman, ikhlas, semangat, dan amal yang menyatu sebagai karakter dirinya dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Tentunya dasar keimanan adalah fikiran yang cerdas, dasar keikhlasan adalah nurani yang jernih, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat.

Dari pembahasan di atas, tentunya memiiki maksud untuk menimbulkan kesadaran agar menjadi mahasiswa yang benar-benar menjalankan perananya sebagai generasi penerus, generasi pengganti, dan generasi pembaharu. Karena ketiga peranan tersebut adalah hakikatnya ada pada jati diri seorang mahasiswa dalam melakukan perubahan di setiap sejarah yang terombang-ambing di Negara kita Indonesia.(*)

 


Penulis merupakan Dosen Fakultas Syariah UIN STS Jambi(*)







loading...