Undang Para Sesepuh dan Tuan Guru, AKBP Guntur: Kita Ingin Tercipta Kerukunan Lahir Batin



Minggu, 02 Februari 2020 - 15:22:27 WIB



JAMBERITA.COM - Tidak ingin kasus intoleransi beragama yang terjadi di Minahasa Utara melebar hingga ke Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Kapolres Tanjab Barat AKBP Guntur Saputro mengambil inisiatif melakukan dialog kerukunan antar umat beragama dengan mengundang para sepuh tokoh agama, para Tuan Guru, Kyai, tokoh masyarakat, MUI, FKUB, Forkopimda, dan Kesbangpol di Mapolres Tanjab Barat, Minggu (2/2/20).

"Yang kita inginkan tercipta kerukunan lahir batin bukan sekedar retorika. Hari ini kita adakan silaturahmi antar lintas beragama sekaligus menyikapi isu nasional di Minahasa Utara agar kejadian tersebut tidak smpai terjadi di tempat kita ini, dan jangan sampai terprovokasi informasi yang blum tentu benarnya. Dan hari ini kami minta para tokoh agama dan masyarakat menyampaikan hal ini supaya situasi menjadi dingin," kata Kapolres Tanjabbar, AKBP Guntur Saputro,

Guntur meluruskan, apa yang terjadi di Minahasa Utara berupa aksi pengrusakan Mushalla Al Hidayah oleh sekitar 50 orang secara spontan, pada 29 Januari 2020 lalu, berawal dari ada kegiatan jamaah tabligh. Saat itu kegiatan mengantongi Izin untuk 10  jamaah, ternayata yang hadir 20 orang. Itulah yang kemudian jadi akar masalah.

Sehingga datang sekelompok warga melakukan penolakan hingga terjadi perselisihan, pertikaian. Dinding, kaca Mushola pecah rusak, namun tidak terjadi jatuh korban jiwa.

"Polri dan TNI segera lakukan mediasi antara pengurus musholla dengan warga. Sempat ada aksi solidaritas ingin mendatangi tempat tersebut. Tapi kepolisian berhasil meyakinkan hal itu tidak perlu dilakukan, karena Indonesia ini negara hukum, siapa pun pelanggar kita hukum dan oknum sekitar 10 orang itu sudah ditangkap. Karena semua orang sama di mata hukum," jelas Kapolres.

Jika ada persoalan hukum, Guntur mengatakan hendaknya diserahkan ke aparat yang berwenang supaya kerukunan terjaga dan jangan sampai masyarakat terpecah belah.

"Siang ini kita sepakat tetap menjaga kerukunan kedamaian dan tidak terpengaruh provokasi, hoax di medsos dan saling menghargai menghormati, menjaga toleransi dan jika ada masalah diserahkan ke penegak hukum," ujar kapolres.

Mewakili Bupati Tanjabbar, Staf ahli Mulyadi  menyampaikan hal senada agar masyarakat jangan sampai mudah terprovokasi, karena ada aparat hukum, yang punya wewenang.

"Apalagi kita sudah dikenal dengan identitas sebagai Kota Bersama. Artinya mari tetap kita jaga kerukunan yang selama ini sudah ada. Saya yakin kita tanjabbar tidak ada lah perang suku atau perang agama. Paling sebatas soal kenakalan remaja," kata Mulyadi.

Sementara KH Hasan Basri mewakili suara para sesepuh alim ulama  Tanjab Barat, mengatakan bahwa sejak ia metep di Tanjabbar, sejak tahun 1974 kehidupan masyarakat berjalan rukun, aman dan damai.

"Belum pernah saya dengar ada kerusuhan mengenai agama dan suku. Jadi malu kita kalau berubah tidak aman. Karena kita sudah dicap aman. Di wilayah kita sudah ada penjagaan di masing-masing wilayah. Jadi insya Allah tidak ada itu yang berbuat kerusuhan," ujar KH Hasan Basri.

Mewakili para Tokoh Alim Ulama turut hadir para tuan guru KH Abdul Hakim, KH Mustanir Busro, KH Suhaimi, Ustd Nasrullah, dan Dandim 0419 Tanjab Letkol Inf Erwan Susanto, dan perwakilan FKUB. (Henky)




Tagar:

# TANJABBARAT

Artikel Rekomendasi