JAMBERITA.COM - Petani komoditi pinang di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sedang mengalami masa-masa sulit.
Pasalnya di saat harga sedang tinggi di tingkatan pengepul pada kisaran harga Rp12.000 per kg. Apesnya, tandan buah segar (TBS) pinang memasuki musim trek.
Kondisi ini membuat para petani pinang kesulitan ekonomi dengan menipisnya hasil Panen.
"Rata-rata dari luasan sehektare panen satu hingga ton, sekarang cuma bisa panen sisa sebanyak 20 sampai 30 kg sekali panen per hektare," ungkap Rohim petani pinang di Sungai Gebar, Kuala Betara, Tanjab Barat, Kamis (22/8/2019).
Dampak dari minimnya hasil panen membuat petani pinang di Tanjabbar mesti putar otak mengatasi kesulitan ekonomi dengan cara mencari pinjaman uang ke tengkulak sementara menunggu berakhirnya musim trek.
"Musim trek seperti ini biasanya bisa sampai dua bulan ke depan. Jadi terpaksa ngutang dulu ke Bos tengkulak biar agak bernapas," timpal petani lainnya, Slamet mengakali kebutuhan dapurnya.
Hal ini diakui salah satu pengepul pinang, Amat, ia mengatakan dirinya terpaksa memberi pinjaman ke petani, karena pertimbangan rerata petani yang ngutang merupakan pelanggan lama.
"Kalau pas lagi masuk musim trek ya kita harus ada toleransi. Hampir rata-rata ngutang untuk kebutuhan belanja sehari-hari. Nanti bayarnya dicicil pas panen berikutnya," ujar Amat.
"Kalau saya sih gak masalah yang penting saling pengertian. Solanya pelanggan sudah seperti keluarga sendiri," pungkasnya. (Henky)
Lomba Mancing Forkopimda dan OPD di Pelabuhan RoRo Meriahkan HUT ke-81 RI dan ke-61 Tanjab Barat
Bupati Tanjab Barat Buka Lomba Sauk’an Layangan, Hidupkan Kembali Permainan Tradisional di WFC ?
Hari Pramuka ke-65, Bupati Tanjabbar Ajak Generasi Muda Wujudkan Dasa Darma dengan Aksi Nyata
Wabup Amir Sakib Hadiri Rakernas Apkasi Smart Regency And Forum 2019 Di Bali
Obat Kadaluwarsa Senilai Rp370 Juta di RSUD Daud Arif Kualatungkal Dimusnahkan
Gubernur Al Haris Dorong Turnamen Padel Berkelanjutan, Jadi Ruang Prestasi dan Kebersamaan Masyaraka


