JAMBERITA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi merilis pemutakhiran data perkembangan cuaca dan iklim untuk wilayah Provinsi Jambi sepanjang tahun 2026. Masyarakat diimbau bersiap menghadapi transisi cuaca ekstrem serta potensi kekeringan.
Berdasarkan analisis dasarian II Februari 2026, mayoritas wilayah Jambi sebenarnya berada pada kategori curah hujan rendah hingga menengah. Namun, BMKG memberikan catatan khusus bagi sebagian kecil wilayah di Kabupaten Sarolangun, Bungo, Kerinci, dan Tebo yang masih mengalami curah hujan kategori tinggi.
Kepala BMKG Provinsi Jambi Ibnu Sulistyono melalui Ketua Tim Data dan Informasi, Jaya Martuah Sinaga menyampaikan, awal musim kemarau di Provinsi Jambi diprediksi akan masuk secara bertahap mulai awal Mei hingga awal Juni 2026. Sebelum memasuki kemarau penuh, Jambi akan melewati masa peralihan atau pancaroba pada April hingga Mei.
"Waspadai cuaca ekstrem selama pancaroba, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir, terutama pada siang menjelang sore hari," ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Untuk periode Maret hingga Mei 2026, curah hujan umumnya berada di kategori menengah (100–300 mm/bulan). Namun, potensi hujan sangat tinggi (di atas 300 mm/bulan) masih menghantui wilayah Sarolangun, Bungo, dan Merangin hingga April mendatang.
Memasuki pertengahan tahun, Jaya mengatakan, indeks kesesuaian iklim menunjukkan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jambi diprediksi masuk dalam zona risiko menengah pada Juni, dan meningkat ke risiko Tinggi pada Juli hingga Agustus 2026.
"Oleh karenanya waspada musim kemarau di tahun ini karena lebih kering dan lebih panjang. Sudah ada tanda-tandanya, periode sekarang aja sudah terasa panas bedengkang, " tuturnya.
Menanggapi kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan beberapa poin rekomendasi penting, diantaranya ialah berupa Panen Air. Dimana masyarakat disarankan mulai gerakan memanen air hujan dan pemerintah diharapkan bersiap melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sedangkan untuk mencegah Karhutla, lanjut Jaya, Pemerintah daerah dan warga dilarang keras melakukan pembakaran lahan. Persiapan menghadapi kekeringan, penurunan tinggi muka air, dan krisis air bersih harus dilakukan sejak dini. "Dan menghimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi terkini mengenai prakiraan cuaca dan iklim melalui situs web dan media sosial atau Info BMKG," pungkasnya. (tts)
Artikel Rekomendasi