Kepemimpinan Pembelajaran, Belajar Dari Seloko



Senin, 06 Februari 2023 - 08:33:20 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Kata seloko identik dengan kata seloka dalam bahasa Indonesia. Junaidi T. Noor (2013) mengatakan seloko bagi masyarakat Ras Melayu Jambi sudah tidak asing lagi. Seloko merupakan tradisi lisan yang terwariskan dari kakek ke bapak, dari bapak ke bisa ke aku atau yang lain atau bisa terhenti atau tersamar karena jarang didengar, jarang diungkapkan diruang publik atau antar lingkungan keluarga.

Ditemukan beberapa ‘karakter’ seloko adat: 1) ungkapan yang mengandung pesan, amanat petuah, atau nasihat yang bernilai etik dan moral; 2) meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi; 3) dapat berupa peribahasa, pantun, atau pepatah-petitih (Nurhasanah, 2004)

Kemudian, 4) merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan. (Armansyah, 2017),  sebagai sarana sosialisasi agar dapat menyesuaikan diri dalam tata pergaulan masyarakatnya secara penuh (Atmadewita, 2008); 5) bukan hanya sekedar sebagai konteks budaya tetapi juga menafsirkan manusia dalam teks (Mursyidah, 2012: 273).

Karena seloko merupakan petuah, amamat dan nasehat kehidupan yang merupakan kebudayaan Melayu Jambi, maka nasehat nasehat itu bisa dimplementasikan kedalam pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Guru bisa menjadikan seloko sebagai ‘penyemangat’ diri dalam melaksanakan proses pembelajaran, karena memang pendidikan itu bagian dari budaya.

Guru boleh saja menerapkan pendekatan ‘kekinian’, pendekatan yang disesuaikan dengan perkembangan terkini, pendekatan paling mutakhir dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi seperti pendekatan ilmiah, problem based learning, project based learning, inquiry, descovery, pendekatan kontekstual, dll.

Tapi jangan lupa, guru juga bisa merujuk pada pendekatan yang ada dalam budaya setempat, yakni pendekatan pembelajaran ‘kedisinian’: pendekatan yang melibat konteks kehidupan siswa dan keariefan lokal dan adat setempat.

Ada beberapa alasan mengapa seorang guru harus mempertimbangkan konsep kedisinian; (1) sebagian waktu siswa berada di tengah masyarakat yang memiliki adat istiadat, tradisi tertentu; (2) di tengah masyarakat, tentu siswa hidup dalam tradisi yang menyatu dengan kehidupan siswa; (3) semakin dekat pendekatan pembelajaran dengan kehidupan siswa, diyakini, semakin ‘nyaman’ siswa dalam belajar; (4) perkembangan pesat ilmu dan teknologi hanya bisa dikendalikan dengan mendekatkan siswa dengan adat istiadat yang ada di tengah masyarakat (Ikhsan, 2021).

Dalam pendidikan, seloko layak dijadi acuan moral bagi guru dalam menjalankan tugasnya: “Pemimpin itu hendaknya ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnya rimbun tempat belindung ketiko hujan, tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo, pegi tempat betanyo, balik tempat babarito”.

Dalam pembelajaran, guru sebagai pemimpin itu hendaknya seperti sebatang pohon batangnya besar tempat bersandar, daunnya rimbun tempat berlindung ketika turun hujan, tempat berteduh ketika panas, akarnya besar tempat bersila, pergi tempat bertanya, pulang tempat berpesan.

Di ruang guru, “Lembai Sekepeh Entak Sedegam” (Lembai sekipas hentak sebunyi). Guru harus berkolaborasi dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Guru bekerja sama, merasa senasib seperjuangan dengan guru lain. Dalam menjalankan tugasnya, jarak yang jauh, beban kerja yang berat tidak akan terasa karena dilakukan bersama-sama, saling membantu dan saling menghargai satu sam lain. Bila ditemukan ada problem pembelajaran, didiskusikan dan dicari solusi bersama, sehingga beban yang berat menjadi ringan dan masalah yang rumit menjadi mudah. Dengan demikian, akan tercipta suasana kerja yang tenang dan damai yang pada gilirannya akan menghasilkan masyarakat yang bersatu, seia sekata dan hidup yang rukun (Arman, 2015).

Di zaman, teknologi informasi yang serba digital, “Ambil Benih Campaklah Sarap” (Ambil benih buanglah sampah). Ambillah sesuatu yang baik dan bermanfaat kemudian buanglah sesuatu yang tidak baik. (Arman, 2015). Banyaknya informasi yang beredar, ambil yang baik baik saja dan tidak usah dipakai informasi yang tidak bermanfaat. Guru harus bisa membedakkan mana data yang bermanfaat dan berguna dan mana yang tidak baik (buruk).

Informasi yang melimpah dan semuanya kelihatan bermanfaat, maka “Dikit menjadi pembasuh banyak menjadi musuh”. Mengajar itu tidak boleh berlebihan, mengajar sesuai dengan kebutuhan dan akan memberikan manfaat kepada siswanya, “banyak menjadi musuh”, segala sesuatu dikerjakan atau dipergunakan secara berlebihan akan membuat siswa bosan, merugikan diri sendiri dan juga siswa, mengajar melebihi waktu yang diberikan, memberi tugas melebihi kapasitas siswa, dsb.

Guru itu harus cerdik; Cerdik idak membuang kawan, gemuk idak membuang lemak, tukang idak membuang kayu, gedang idak melando, panjang akal idak melilit. Guru dikatakan pandai bila  meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; Nan buto penghembus lesung, Nan pekak pelepeh bedil, Nan lumpuh penunggu rumah, Nan patah pengejut ayam, Nan buruk pelantak gawe, Kain baju penendeng miang, Emas perak penedeng malu, Idak babereh atah dikisai (Jambi).

Guru yang dikatakan pandai tersebut mungkin saat ini lebih tepat disebut menempatkan siswa sesuai dengan keahlian dan kompetensi. Sehingga tidak ada potensi, bakat dan minat siswa yang terabaikan sehingga pembelajaran berjalan menyesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Guru juga haruslah tahu kiat: Tahu dikilat cermin nan ke muko, tahu dikilat beliung ke kaki (Jambi). Guru harus tahu maksud atau masalah sebelum melaksanakan pembelajaran, dia memahami apa yang akan diajarkan, kepada siapa dia mengajar. Dan yang tidak kalah penting, guru itu harus ‘futuristik’, dia bisa mengetahui apa yang bakal terjadi dengan anak didiknya; Sekilas ikan di ayik, tentu janton dek betino olehnyo.

Dalam kontek lain, seloko juga memberikan indikator yang seharusnya tidak dilakukan: Pertama, guru ‘ujung tanjung’ (Kompasiana), guru yang suka mengambil muka, berdusta, tidak jujur. Dia selalu ingin jadi pahlawan. Kedua, guru ‘ayam gedang’, yaitu guru suka menonjolkan diri dari ilmunya, tidak mau belajar, selalu ingin pendapatnya didengar, kalau tidak dia akan ‘merajuk’.

Ketiga, guru ‘buluh bambu’ (Hadi), yaitu guru yang nampak elok dari luar, tapi didalam tidak berisi, penampilan menyakinkan, tetapi ilmu tidak masih kurang. Keempat, guru ‘ketuk-ketuk’, yaitu guru yang baru bergerak, bila disuruh, bila ada pimpinan, bila terdesak. Bukan hanya karena pemalas, tetapi juga karena kurang ilmunya dan keberaniannya. Kelima, guru ‘tupai tuo’, guru yang bersifat ‘terlalu’ rendah diri, tidak berani menunjuk kinerja terbaik, bekerja ‘ala kadarnya’.

Keenam, guru ‘busuk aring’, yaitu guru yang berhati licik. Halal dan haram sama saja baginya. Tugasnya hanya menggugurkan kewajiban, datang hanya untuk presensi. ‘Beliau’ rajin masuk kelas, tapi bukan untuk mengajar, tanpa persiapan, mengajar ‘sekendak hati’.

  • Guru kekinian harus, tapi didukung dan diperkaya dengan guru ‘kedisinian’ agar pembelajaran lebih dekat dengan siswa. Wallahu a'lam bish-shawab!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi