Guru Adaptif dan Growth Minset



Jumat, 06 Januari 2023 - 09:11:31 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Heraclitus, filsuf dari Yunani mengatakan “There is nothing permanen exept change”, di dunia tidak ada yang abadi, semua mengalami perubahan. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Itulah sebabnya Jeck Welch menegaskan, “Change before you have to”, berubahlah sebelum Anda dipaksa untuk berubah”.

Saat pandemi covid-19, ada perubahan ‘paling mendasar’ dalam pembelajaran, yang biasanya tatap muka, beralih ke tatap maya, tentu guru menggunakan teknologi untuk melakukan pembelajaran ini. Pembelajaran memakai berbagai macam aplikasi pembelajaran: e-learning, zoom, video call, google meet, whataps, dsb. Sudah beberapa kali guru ‘diuji’ menggunakan perangkat teknologi: SEB (safe exam browser), google form, dll.

Pandemi ‘memaksa’ pelaku pendidikan untuk melakukan perubahan dan mempercepat terjadinya perubahan itu. Kini PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sudah dicabut pemerintah (Republika).

Apakah guru ‘kembali’ ke pembelajaran ‘awal’ atau menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi? Atau masih konsisten dengan ‘zona nyaman’?

Dari serentetan ‘peristiwa’ ini, pesannya adalah guru ‘wajib’ menguasai teknologi apapun kegunaannya. Ditemukan ada 3 profil guru dalam menyikapi perkembangan teknologi: 1) guru yang menyadari betapa pentingnya teknologi untuk pembelajaran, tanpa ada ‘instruksi’, langsung belajar mandiri; 2) guru yang menunggu ‘perintah’ atasan untuk belajar, belajar seperlunya untuk ‘kebutuhan waktu itu; 3) tidak begitu tertarik dengan perkembangan teknologi, yang ‘ditekuni’ hanya ‘bermain di medsos.

Pendidikan dan pembelajaran terus berubah dengan cepat.Harapan semua pihak, pembelajaran harus disesuaikan agar kebutuhan siswa terpenuhi dan pembelajaran berlangsung mudah dengan berbagai perangkat digital.

Guru mestinya menyadari bahwa tidakada yang abadi, tidak ada yang tetapkecualiperubahanitusendiri. Demikianlahrealitas pendidikan, berubahterus-menerustanpahenti.Perubahan merupakansuatukenyataan yang tidakdapat dielak.Segalasesuatu yang terkondisi, akanselalumengalamiperubahan (Kemenag). 

Perubahan pembelajaran bukan hanya terjadi di luar diri guru seperti perubahan tahun, bulan, hari, jam, detik, tapi juga bergantinyaa siswa, buku pelajaran, metode pembelajaran, bertambahnya media pembelajaran. Perubahan yang sangat cepat juga terjadi di dalam diri guru baik dari sisi fisik maupun mental, rasa, perasaan, dll.

Kalau guru merasakan begitu banyak perubahan, maka itu tandanya guru sudah memasuki sebuah periode yang dikenal dengan nama era disrupsi, di mana terjadi perubahan besar dan mendasar hampir di setiap bidang kehidupan. Perubahandisrupsiidentik menyerupailedakangunung, bukanperubahansepertimenitianaktangga.Artinya, perubahan yang begitucepatdanmenyeluruhsepertimenggantiekosistem lama denganekosistem yang barudanberbedasamasekali (Kemenag). 

Ditemukan, secara umumnya ada beberapa persepsi menghadapi perubahan: kaget, takut, ciut, tidak peduli, marah, sedih, pasrah, atau menyesuaikan diri. Dalamkonteks pembaharuan, guru yang dapat‘bertahanhidup’, bukanlahguru yang paling kuatbertahan, melainkanguru yang dapatmenyesuaikandiridenganperubahanzaman.

Dalam agama, dinyatakan bahwa ada dua jenis perubahan dalam hidup seseorang. Pertama, Attaghyiir al ijbary (perubahan yang memaksa kita untuk berubah) dan yang kedua; Attaghyiir al ikhtiari (perubahan yang direncanakan). Perubahan al Ijbary adalah perubahan yang memaksa kita untuk berubah, mau tidak mau, suka tidak suka harus berubah, tidak pilihan lain. Pandemi covid 19, telah ‘memaksa’ kita untuk mengubah di segala lini kehidupan. Sedangkan perubahan al ikhtiari adalah perubahan yang memang sudah direncanakan. (KH.Marsudi Syuhud)

Profesi guru disebut sebagai pekerjaan yang terus berubah baik ‘dipaksakan’ maupun direncanakan. Tentu, guru yang melakukan perubahan yang dapat hidup dan bertahan dalam profesi ini. Guru yang hanya berpangku tangan, dan hanya ‘digerakkan’ oleh ‘bunyi bel’ untuk bergerak dipastikan akan kewalahan menghadapi siswanya.

Sebenarnya, tugas guru itu tidak hanya harus berubah tapi juga harus mengubah. Berubah diri dengan menyesuaikan diri dan mengubah orang lain juga untuk berubah, keduanya sebuah keharusan dan saling dibutuhkan dan ditunggu tunggu dalam pendidikan.

Jadi, guru yang ‘dirindukan’ siswa ditentukan oleh kemampuannya memahami, merespons dan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Charles Darwin; ”Eksistensi manusia tidak ditentukan dari power atau kekuatan yang dimilikinya, melainkan ditentukan dari kemampuannya beradaptasi”.

Perubahan bagi guru menjadi mutlak dalam pembelajaran: 1) perubahan merupakan tanda kehidupan (`alamt al-hayah). Ini berarti, hidup tanpa perubahan sama dengan mati; 2) perubahan adalah watak dari alam ini. Setiap benda, termasuk manusia terkena hukum perubahan. Tak ada yang tidak berubah di alam ini, kecuali perubahan itu sendiri; 3) di balik setiap perubahan terkandung harapan. (Republika)

Tidak ada pilihan lain, guru harus mampu bersikap adaptif dengan segala macam perubahan untuk memastikan siswanya ‘nyaman’ dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan konten pembelajaran, namun memastikan potensi yang dimiliki siswa dapat tumbuh dan berkembang untuk masa depan mereka.

Guru adaptif merupakan ‘designer’ pembelajaran. Guru mendisain kegiatan pembelajaran dengan melibatkan dan memperhatikan ‘kesukaan’ siswa secara positif. ‘Suara hangat’ dan pendekatan guru dalam pembelajaran menjadi penyemangat siswa dalam belajar. Itulah kenapa guru tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Dengan teknologi, muncul berbagai variasi dalam pembelajaran, siswa memiliki banyak pilihan dalam belajar. Dengan perubahan ini, guru dan siswa berkolaborasi membuat kegiatan pembelajaran yang menantang dan menyenangkan. Selalu ada hal baru dan kejutan ‘akademik’ dalam setiap pertemuan di raung kelas.

Guru yang adaptiftidak hanya ‘pandai’ menggunakan teknologi, tapi yang paling penting mengubah polapikir. Dan ini awal dari tumbuh growth mindset, pola pikir guru yang memahami bahwa kemampuan atau bakat yang dimiliki hanyalah sebuah permulaan (Ahmad). Bagi guru, kemampuan dan bakat dapat terus diasah dengan kerja keras, terus belajar dan adaptif dengan lingkungan kekinian.

Guru yang memiliki growth minset memandang bahwa proses pembelajaran yang bermakna sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Guru ini tidak ingin terlihat pintar, nampak hebat, lihai dalam menyikapi permasalahan, tapi menghargai proses dan menjadikan kegagalan bukan akhir dari segalanya tapi sebagai tangga untuk melangkah ketahap berikutnya (Carol S. Dweck).

Guru adaptif ‘berani’ menyesuaikan diri sesuai dengan keadaan kekinian. Dia terus belajar dan mencoba hal baru, tidak takut gagal, tidak anti kritik, setiap masalah pasti ada jalan keluar, tidak malu bertanya, tidak mengumbar ‘isi hati’ di medsos. Ada guru seperti ini? Wallahu a'lam bish-shawab!

*) PenulisadalahPendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi