Asa Anak Penderita Thalasemia Dapatkan Pengobatan RS Lewat BPJS: Aturan Jangan Hambat Layanan



Sabtu, 21 Mei 2022 - 15:24:41 WIB



JAMBERITA.COM-  Akhir tahun lalu orang tua dari penderita Thalasemia mendatangi DPRD Kota Jambi untuk mengeluhkan penghentian layanan terhadap penderita Thalasemia. 

Ini karena penghentian layanan bagi penderita Thalasemia dan Hemofolia di RSUD Abdul Manap, sebagai satu-satunya rumah sakit yang menyediakan pelayanan tersebut. Setelah dilakukan pertemua, akhirnya semua rumah sakit bisa memberikan layanan bagi penderita thalassemia.

Namun, keluhan belum berhenti begitu saja. Ini karena seringnya berubah aturan dari BPJS. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah rumah sakit terancam tak bisa mengklaim tagihan dari pengobatan thalassemia karena aturan yang berlaku mundur.

Keluhan ini disampaikan saat Halal bi Halal yang digelar Ratu Munawarah dengan Perhimpunan Orang tua Penderita Thalaemia di Kediamannya baru-baru ini.  

Menanggapi hal ini, Dokter Spesialis Anak Dr Sabar Hutabarat SpA yang menjadi dokter RS Abdul Manap yang banyak merawat anak-anak penderita Thalasemia mengatakan memang banyak keluhan yang diterima terkait pelayanan terhadap anak-anak penderita thalassemia.

“Sebelumnya sempat dihentikan pelayanan tapi sudah bisa tidak lagi di rumah sakti Abdul Manap tapi bisa di rumah sakit lain. Tapi saya juga dapat telepon dari pihak rumah sakit seperti di salah satu rumah sakti ada 25 pelayanan yang tidak bisa diklaim karena aturan BPJS yang berlaku mundur,” kata dr Sabar.

Jika sudah begini, maka Ia khawatir rumah sakit akan takut memberikan layanan ke anak-anak penderita halasemia karena kondisi ini.

Soal contoh mudah berubahnya aturan BPJS ini, Dr Sabar mengatakan misalnya syarat untuk melakukan tranfusi HB dibawah 9. Sebelumnya dibawah 10. Ini menyebabkan kondisi anak tidak dalam kondisi yang baik. Sehingga membutuhkan tambahan tranfusi darah yang lebih banyak

“Jelas, kita mengharapkan proses pertumbuhan jika diatas 10. Jika Dibawah 9. Bisa lebih banyak tranfusi.Bisa 3 kantong sehari. Ini aakn membebani jatungnya dan juga jika 3 kantong ini menyangkit kesediaan darah di PMI, belum lagi ini anak-anak yang tidak mudah untuk melakukan tranfusi darah berlama-lama. Satu kantong itu butuh waktu 4 jam, berarti kalau 3 kantong bisa 12 jam,” lanjut dr Sabar.

Selanjutnya penderita thalassemia juga harus mendapatkan rekomendasi dari konsultan anak hematolog. Padahal sebelumnya cukup spesialis anak saja. Di  Jambi belum ada dokter terkait sehingga harus membawa anaknya ke Palembang. “Walaupun rekomendasi ini hanya untuk sekali saja. Tapi ini makan biaya karena harus ke Palembang lagi. Meski kami sudah menyikapinya dengan bersurat ke rumah sakit di Palembang agar mempermudah mereka,” lanjut dr Sabar.

Soal keluhan rumah sakit yang klaimnya terancam tak dibayar karena perubahan turan, Dr Sabar mengakui ada yang menyampaikan kepadanya. Padahal rumah sakti sebenarnya tidak banyak untung di proses tranfusi darah. Satu kali tranfusi itu biasanya butuh biaya Rp970 ribu sementara modal sekali trnafusi itu 800 ribuan. “Paling tidak rumah sakit jangan sampai rugi. Karena ini soal kemanusiaan,” tambahnya.

Terkait hal ini, salah seorang orang tua dalam kegiatan ini menyebutkan akan kembali menyampaikan aspirasi mereka ke DPRD.

Mengenal Thalasemia

Dr Sabar mengatakan thalasemia adalah kelainan darah karena kurangnya hemoglobin (Hb) yang normal pada sel darah merah. Kelainan ini membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah.

Thalasemia terjadi akibat kelainan genetik yang diturunkan. Artinya, kondisi ini sudah bisa terjadi sejak masa kanak-kanak. Umumnya, gejala awal yang akan muncul adalah gejala anemia, yang menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas.

Thalasemia disebabkan oleh kelainan genetik yang memengaruhi produksi sel darah merah. Kelainan genetik ini diturunkan dari orang tua meski orang tua tersebut tidak mengalami gejala.

Penderita thalasemia akan mengalami anemia yang membuat penderitanya mudah lelah dan lemas. Gejala ini biasanya muncul pada 2 tahun pertama kehidupan. Akan tetapi, bagi penderita thalasemia ringan (minor), anemia mungkin tidak terjadi.

Waktu kemunculan dan tingkat keparahan gejala yang dialami penderita tergantung pada jenis thalasemia yang diderita. Pada thalasemia mayor, penderitanya akan merasakan gejala kurang darah yang berat. Kondisi ini dapat merusak organ tubuh, bahkan berujung pada kematian.

Thalasemia adalah penyakit jangka panjang yang memerlukan perawatan seumur hidup. Penderita thalasemia perlu menjalani tranfusi darah berulang untuk menambah sel darah yang kurang.. Biasanya disebut thalassemia mayor. Sementara Thalasemia minor atau disebut alpa hanya membutuhkan tranfusi darah di saat tertentu.(sm)





Artikel Rekomendasi