Penulis : Budi Hartono,S.ST., M.Si*
Kehadiran Ramadhan dan kemeriahan Idul Fitri biasanya ditandai dengan kenaikan harga-harga, terutama pangan. Tak mudah memang keluar dari persoalan ini. Kegembiraan menjalani bulan suci Ramadhan serta keinginan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan makan minum saat sahur dan berbuka puasa dengan berbagai macam menu biasanya banyak mendongkrak jumlah permintaan di pasar, dan kuantitasnya akan semakin bertambah menjelang Idul Fitri.
Hukum supply-demand menerangkan bahwa saat ada tekanan di sisi permintaan dengan pasokan tetap, harga akan terpantik tinggi. Akhirnya, inflasi pangan yang tinggi saat Ramadhan dan Idul Fitri dianggap menjadi sebuah kelaziman.
Ramadhan dan menjelang Idul Fitri tahun lalu, pada bulan Mei 2021, BPS mencatat bahwa Kota Jambi dan Kota Muara Bungo mengalami inflasi, masing-masing sebesar 0,39 persen dan 0,21 persen. Komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Jambi Bulan Mei 2021 antara lain: ikan nila, daging ayam ras, udang basah, cumi-cumi, ikan dencis, emas perhiasan, ikan gabus, minyak goreng, tomat, dan daging sapi.
Sementara itu komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Muara Bungo adalah ikan nila, emas perhiasan, bawang merah, daging ayam ras, jengkol, minyak goreng, angkutan antarkota, petai, baju muslim wanita, dan kentang.
Sedangkan dua tahun lalu, pada bulan Mei 2020, Kota Jambi dan Kota Muara Bungo mengalami inflasi, masing-masing sebesar 0,29 persen dan 0,49 persen. Komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Jambi Bulan Mei 2020 antara lain: angkutan udara, bawang merah, kangkung, rokok kretek filter, tempe, bayam, rokok putih, ikan dencis, ikan lele dan santan jadi.
Sementara itu komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Muara Bungo adalah bawang merah, daging ayam ras, ayam hidup, petai, rokok kretek filter, tarif kendaraan travel, angkutan antar kota, telepon seluler, daging sapi dan celana panjang jeans pria.
Potret Inflasi pada Januari 2022, Kota Jambi mengalami inflasi sebesar 1,13 persen dan Kota Muara Bungo inflasi sebesar 1,39 persen. Komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Jambi bulan Januari 2022 antara lain: daging ayam ras, mobil, bahan bakar rumah tangga, angkutan udara, ikan nila, rokok kretek filter, telur ayam ras, cabai rawit, roti manis, dan sabun detergen bubuk/cair.
Komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Muara Bungo bulan Januari 2022 adalah daging ayam ras, ikan nila, minyak goreng, telur ayam ras, ikan patin, kangkung, mobil, bayam, bawang merah, dan bahan bakar rumah tangga.
Kenaikan harga selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri adalah fenomena yang wajar terjadi, inflasi salah satunya muncul ketika kenaikan permintaan melebihi supply yang ada di pasar. Namun demikian, antisipasi kenaikan atau gejolak harga yang berlebih tetap perlu dilakukan oleh pemerintah.
Lalu, apa yang harus dilakukan agar inflasi saat Ramadhan terkendali?
Pertama, memastikan kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas penyumbang inflasi. Perhatian ekstra harus diberikan pada komoditas penyumbang inflasi. Kerja sama sinergis Bulog, Kementan,dan Kemendag mutlak diperlukan. Pemerintah juga harus memastikan ongkos transportasi tidak mengalami kenaikan yang tinggi.
Kedua, perhatian ekstra harus diberikan ke pasar tradisional. Menurut Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman, 85-90% warga masih menggantungkan pada pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sisanya berbelanja di pasar modern. Jika pasokan dan harga di pasar tradisional bisa dijaga, harga pangan akan stabil.
Ketiga, spekulasi harga dari beberapa pengumpul dan pedagang, sering mereka sebut dengan alasan “mumpung”. Menurut mereka, pembeli akan tetap mencari barang yang dibutuhkan meski harganya naik secara tak wajar. Inilah salah satu yang perlu diawasi oleh pemerintah, beberapa pasar bahkan telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) khususnya bahan pangan yang sangat dibutuhkan selama bulan Ramadhan seperti minyak goreng, daging, telur, dan lain-lain. Ini akan membuat inflasi terkendali dan daya beli warga terjaga.
Keempat, operasi pasar tetap perlu dilakukan untuk memastikan harga tetap stabil atau bergerak dalam rentang yang wajar di pasaran. Akan tetapi, agar tidak menimbulkan respons negatif dari pasar, Satgas Pangan sebaiknya mengerem diri untuk tidak agresif masuk ke pasar. Pengecualian berlaku bila Satgas sudah memastikan ada bukti awal yang mengarah pada tindak pidana di bidang pangan.(*)
Penulis adalah: Statistisi BPS Provinsi Jambi


Kanwil Kemenkum Beri 'Paham' Pemprov Jambi Soal Jabatan Fungsional di Bidang Hukum

