Tripusat Pendidikan



Senin, 21 Maret 2022 - 15:49:40 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Boleh dikatakan bahwa 60 % keberhasilan sekolah/madrasah ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah/madrasah (Kamaruddin Hidayat). Selengkap apapun sarana prasarana, sehebat apapun tenaga pendidik, semahir apapun tenaga kependidikan, sepintar apapun siswa yang masuk tidak akan berarti apa apa bila kepemimpinan kepala sekolah/Madrasah tidak responsif

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama keluarga, sekolah/madrasah, dan masyarakat. Tiga institusi ini populer disebut tripusat (trisentra) pendidikan (Ki Hajar Dewantara).  Tidak seharusnya tanggung jawab pendidikan hanya diserahkan pada sekolah/madrasah. Orang tua dan masyarakat juga memiliki kewajiban membantu pendidikan para siswa.

Para guru memang diberi amanah untuk melaksanakan proses pembelajaran. Tetapi tugas itu terbatas selama siswa berada di sekolah. Ketika berada di luar sekolah, pendidikan siswa menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Justru lingkungan keluarga dan masyarakat itulah ‘pembelajaran’ yang sebenarnya terjadi, siswa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di ruang kelas ke kehidupan nyata.

Tetapi jujur harus diakui bahwa ada sebagian sekolah/madrasah yang tidak responsif terhadap tuntutan orang tua/wali siswa terhadap perkembangan anaknya di sekolah/madrasah. Bahkan ada sekolah/madrasah yang cenderung ‘lambat’ dalam membelajarkan siswanya. Padahal kebijakan kepala sekolah/madrasah sangat ditungggu untuk berinovasi membuat pembelajaran menjadi lebih berkualitas.

Peran sekolah/madrasah, keluarga dan masyarakat idealnya menunjang tercapainya pendidikan bagi siswa, bukan sebaliknya. Ketiga elemen ini harus saling mengisi dan memperkuat satu dengan yang lainnya. Ketiga pihak ini harus saling memantau dan saling mengingatkan, kalau ada pihak yang mencoba ‘mengabaikan’ pembelajaran maka selanyak pihak ini harus mengambil tindakan preventif.

Harus diakui hubungan yang terjalin harmonis antara sekolah/madrasah, orang tua/wali murid, dan masyarakat dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif serta menyenangkan. Lingkungan sekolah yang menenangkan dapat membuat siswa nyaman untuk belajar. Saling menghormati, menghargai, dan saling mendukung tentu dapat memupuk solidaritas sesama warga sekolah/madrasah sekaligus kunci membangun lingkungan sekolah yang berkualitas.

Sekolah/madrasah tidak boleh menutup diri dari kemungkinan berkolaborasi dengan orang tua siswa dan masyarakat. Partisipasi dan pelibatan orang tua dibutuhkan karena sekolah/madrasah tidak dapat melaksanakan visi dan misinya sendiri. Karena itu, berbagai macam bentuk kolaborasi dan kerja sama sangat diperlukan untuk menjamin terlaksananya pembelajaran berkualitas. Sekolah/madrasah dapat melakukan berbagai kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai mitra untuk menjalankan visi dan misi sekolah/madrasah secara maksimal.

Sinergitas antara tripusat pendidikan itu membutuhkan suasana atau 'aura positif', yang saling mendukung, saling mengisi. Pihak sekolah/madrasah bekerja sama dengan cara menjalin komunikasi dengan keluarga dan didukung pula masyarakat sekitar. Jika ingin mengembangkan suasana positif, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk mengungkapkan ‘kehendak’ mereka, menanyakan ke orang tua mereka, apa yang kurang dari kebijakan sekolah/madrasah.

Orang tua berkewajiban ‘mengawal’ proses pembelajaran bagi anak mereka. Contoh sederhana: menemani anak belajar, membantu anak menyelesaikan tugas sekolah, mengawasi anak ketika menonton telivisi, dll. Pihak sekolah/madrasah harus membuka diri berkomunikasi dengan pihak orang tua, menyampaikan program program sekolah/madrasah. Kalau ada masukan dari pihak orang tua, sudah selayaknya sekolah/madrasah merespon dengan positif, karena memang orang tua punyak hak untuk memberi masukan yang konstruktif.

Perlu diperhatikan keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dengan pembelajaran intensif di sekolah/madrasah. Keberhasilannya tidak cukup dengan hanya didukung oleh buku yang lengkap, media yang ‘modren’, internet yang ‘kencang’, atau guru yang ‘rajin’ presensi online. Itu belum cukup, ini harus didukung penuh partisipasi orang tua dalam keluarga, yang selalu ‘memperlancar’ urusan anak yang berhubungan dengan pendidikan.

Oleh sebab itu, guru harus mampu meyakinkan orang tua siswa bahwa orang tua/wali juga bagian dari proses pembelajaran anak. Idealnya, tidak ada pihak yang saling ‘menegasikan’ peran masing masing, tidak ada pihak yang saling curiga. Semua pihak harus bergandengan tangan mensukseskan pendidikan anak, saling mengingatkan bila ada yang lupa atau khilaf dalam menjalankan program sekolah/madrasah.

Secara umum, keterlibatan orang tua pada pendidikan sekolah/madrasah bisa dikategorikan pada dua macam, yakni involving dan engaging. Involving itu keterlibatan orang tua pada proses pendidikan anak-anak mereka di sekolah/madrasah atas permintaan guru agar terlibat dalam perogram-program sekolah, atau mungkin juga di rumah. Sedangkan engaging adalah keterlibatan orang tua dalam pengembangan program pembelajaran anak-anak mereka di sekolah/madrasah bukan atas permintaan guru tapi justru atas inisiatif mereka sendiri untuk bersama guru mengembangkan program pembelajaran bagi anak-anak mereka (Rosada).

Kepala madrasah memainkan perannya sebagai pemimpin. Dia tidak mesti ‘duduk manis’ di depan meja di ruangnya, tapi dia harus ‘keluar’ menyapa, membantu, berkomunikasi dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Tidak harus menunggu orang tua/wali datang, tapi pimpinan ini mengunjungi rumah orang tua/wali untuk bersilaturrahmi dengan mereka, sekaligus menanyakan keadaan anak.

Kemampuan komunikatif seorang kepala madrasah sangat penting agar mampu mensosialisasi visi dan misi sekolah/madrasah secara utuh ke orang tua/wali murid dan masyarakat sekitar, dan tentu ‘mohon bantuan’ untuk mensukseskan program madrasah baik materil mapun non-materil. Kehebatan suatu madrasah dalam menarik dukungan dari orang tua/wali siswa dan masyarakat merupakan sebuah kesuksesan yang luar biasa.

Kalau memang orang tua/wali dan masyarakat memiliki informasi, nasehat, masukan, kritik yang perlu disampaikan ke pihak sekolah/madrasah, maka sampaikan dengan cara yang baik: 1) niat tulus hanya karena Allah SWT, hanya mengharapkan ridha Allah dan balasan di akhirat.

Kemudian 2) berdasarkan ilmu dan menguasai materi yang akan dinasihatkan. Jangan hanya ‘ikut-ikutan’ atau hanya berdasarkan ‘apa kata orang’, 3)  berhias diri dengan akhlak lemah lembut, bahasa yang santun.

Selanjutnya, 4) memilih cara yang tepat disesuaikan dengan situasi, kondisi. Menasihati anak-anak berbeda dengan menasihati orang dewasa dan 5) tidak bertujuan mencela atau menyebarkan keburukan, 6) lakukan secara rahasia dan bersabar bila orang itu tidak bersedia menerima nasihatnya. (Syekh al-Mishiri).

Mari bersinergi, kepala sekolah/madrasah, orang tua dan masyarakat. Itulah salah satu cara ‘menyamankan’ siswa belajar.



Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*



Artikel Rekomendasi