JAMBERITA.COM - Simpang Tiga Sipin menjadi salah satu saksi bisu dari perjuangan rakyat Jambi dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI. Untuk memperingatinya, Korem Garuda Putih bersama dengan unsur Forkompinda Provinsi Jambi melaksanakan upacara peringatan Pertempuran Simpang Tiga Sipin pada 4 Januari lalu.
Dalam catatan sejarah sendiri, Simpang Tiga Sipin menjadi lokasi penting perlawanan rakyat Jambi terhadap agresi militer Belanda terutama pada agresi militer ke-2.
Sejarahwan yang juga Peneliti Seloko Institute Jumardi Putra menjelaskan bahwa pada tanggal 29 Desember tahun 1948 terjadi sebuah pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Simpang Tiga Sipin. "Sebenarnya secara bersamaan itu juga terjadi di Kenali Asam, Tempino dan Bajubang," jelas Jumardi.
Jumardi menjelaskan bahwa titik-titik strategis ini memang direncanakan oleh pihak Belanda untuk menguasai pusat Kota Jambi. Sebelum terjadinya pertempuran pada tanggal 29 Desember 1948 di Simpang Tiga Sipin.
Jumardi mengatakan bahwa kondisi pada saat itu sudah sangat mengkhawatirkan. Dimana pihak Belanda mengerahkan sekitar 40 pesawat pemburu dan mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk pasukan payung untuk menyerang pertahanan Jambi.
"Dalam situasi yang seperti itu, keputusan yang diambil oleh pimpinan sipil maupun militer TNI pada waktu itu harus sesegera mungkin untuk keluar dari Kota Jambi, karena sudah tidak bisa dikendalikan" kata Jumardi.
Sehingga pada waktu itu, pusat pemerintah sipil dan juga pusat militer terpaksa dipindahkan. Jumardi menjelaskan bahwa Bangko dipilih sebagai lokasi sementara pusat militer karena berdekatan dengan pusat militer Sumatera Selatan dan Rantau Ikil sebagai pusat pemerintahan sipil. Dipilihnya Rantau Ikil karena berdekatan dengan pusat pemerintahan sipil Sumatra Tengah.
Sebanyak 100 orang yang terdiri dari Pejuang Laskar Naspindo dan Ibu-ibu petugas dapur umum dari Komando Militer Kota (KMK) yang dipimpin oleh Kapten Abu Bakar melakukan perjalanan untuk pergi keluar Kota Jambi menuju lokasi yang sudah di sepakati sebagai pusat militer dan pusat pemerintahan sipil yang baru.
"Dalam proses untuk keluar dari kota inilah terjadi perang dan mengakibatkan separuh dari sumber yang saya baca yang ditulis oleh dewan harian daerah angkatan 45 provinsi Jambi itu separuh dari 100 dinyatakan tewas, termasuk pimpinan pasukan kapten Abu Bakar," kata Jumardi.
Selain menewaskan pasukan militer, Jumardi mengatakan bahwa warga sipil yang pada saat itu berada di sekitar Simpang Tiga Sipin juga ikut menjadi korban. Dirinya mengatakan bahwa korban dari Pertempuran Simpang Tiga Sipin ini dimakamkan di Makam Taman Pahlawan The Hok.
Sementara itu, beberapa arsip penting yang waktu itu akan dibawa menuju pusat pemerintahan yang baru berhasil diselamatkan. "Dokumen dan surat penting yang direncanakan untuk dibawa ke Rantau Ikil itu berhasil selamat," pungkasnya.
Peristiwa ini juga dapat dilihat di monumen bersejarah Tugu Juang Simpang Tiga Sipin. Yang menjadi titik lokasi perlawanan rakyat Jambi terhadap Belanda pada agresi militer ke-2 pada 29 Desember 1948. (sap)
Update Data Covid-19 Provinsi Jambi, Kasus Covid-19 Bertambah 20 Orang dari 7 Kabupaten Ini
Di Tebo, Kapolda Jambi Sambangi 142/Ksatria Jaya hingga Cek Persiapan Peresmian Kompi Brimob
Proyek Di Kenali Asam Bawah Tak Kantongi Izin, Warga Keluhkan Rumahnya Banjir
IW Fasilitasi Dewan Muaro Jambi dengan BPJN, Atasi Keluhan Warga Soal Genangan Air di Pijoan
SAH: Pemberian Izin Edar Vaksin Covid 19 Harus Dengan Prinsip Kehati-hatian
Hari Ketika Pelatihan Parelegal : Peserta Wajib Paham, Apa yang Jadi Kebutuhan Masyarakat


