Laksamana Maeda, Akbar Tandjung Dan Gubernur Banten



Jumat, 14 Agustus 2020 - 21:30:42 WIB



Oleh: Antony Z Abidin*

 

Orang Jepang yg punya peran penting dlm peristiwa proklamasi kemerdekaan RI adalah Laksamana Maeda.

Di rumah Kepala Penghubung Angkatan Laut Jepang di jalan Diponegoro 1 itu, disusun naskah proklamasi. Dia bersahabat dg Bung Hatta dan Achmad Subardjo sejak Maeda bertugas sebagai atase Kerajaan Jepang di Den Haag. Saat itu sang Proklamator dan Subardjo sedang kuliah di sana.

Rumah bersejarah itu kini menjadi Musium Perumusan Naskah Proklamasi.

Di musium itu pulalah Akbar Tandjung merayakan hari ulang tahunnya, 14 Agustus tahun lalu.

Hari kelahiran yang sama dengan Wahidin Halim. Bedanya Akbar Tandjung (AT) lahir tahun 1945, hari ini berulang tahun ke- 75. Wahidin Halim ( AH) lahir 1954, hari ini berulang tahun ke-66.

Dua tokoh ini punya hubungan istimewa dengan saya.

AT, lebih dari 3,5 Tahun satu ruangan kerja berukuran 3 x 4 meter dg saya di Harian Pelita. Ketika itu AT (1985) mejadi pemimpin redaksinya dan Aburizal Bakrie (ARB) pemimpin perusahaan. Saya mendampingi AT untuk membenahi bidang redaksi. Tetapi kemudian ARB juga meminta saya utk membenahi bidang marketing koran itu. Dalam tempo singkat, sekitar setahun koran Pelita secara bisnis sehat. Tidak rugi lagi, malah untung.

Dengan Wahidin, saya tidak pernah satu ruangan kerja. Tetapi satu rumah, satu tempat tinggal. Yaitu Asrama UI Daksinapati Rawamangun. Dia yunior saya, seangkatan dengan Wikrama, adik saya. Sedangkan AT, alumni FT UI.

Namun, saat ini ada sedikit kesamaan. AT sekarang.menjabat Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, saya   anggotanya.

WH, selain menjabat Gubernur Banten, sejak tahun lalu juga  menjadi anggota Dewan Kehormatan Paguyuban Daksinapati UI (PDUI). Saya, ketua paguyuban itu.

Selama lebih 3 dekade bersama AT dalam berbagai aktivitas, cukup banyak peristiwa penting saya saksikan dan alami.

Ketika Cendana menghubungi AT pada tahun 1997, saya yang menerima telponnya di kantor Pelita.  AT sedang menghadiri acara pernikahan di Manggala Wanabakti. Waktu itu belum ada HP, saya ke tempat pesta itu utk menyampaikan informasi penting tersebut. Presiden Soeharto meminta AT utk jadi Menteri Pemuda dan Olahraga.

Begitu juga ketika Gus Dur bertemu AT di kantor DPP Golkar menjelang Sidang Umum MPR Oktober 1999, saya dan Aulia Rachman yang mendampingi AT ketika itu.

Gus Dur minta dukungan Golkar untuk pencalonannya menjadi Presiden. Maka, pada SU MPR 20 Oktober 1999, terpilihlah Gus Dur menjadi Presiden. Banyak sekali peristiwa penting atau dan menarik di seputar pergantian kekuasaan itu. Nanti akan jadi bagian dari novel trilogi Kabut Zaman yg saat ini bagian keduanya sedang saya tulis.

Dengan Wahidin Halim, sekalipun sudah lama kenal, saya praktis bergaul inten setahun terakhir ini. Sejak saya dipilih jadi ketua Paguyuban Daksinapati 27 Juli tahun lalu. Melalui berbagai kegiatan di Kampus UI Depok atau di Banten. Termasuk juga program mendirikan Politeknik Daksinapati -- saat ini sedang proses pengurusan perizinan --   serta berbagai kegiatan dan usaha utk mendukungnya.

Pada hari ini tidak ada acara ulang tahun AT yg lebih dari 30 tahun selalu saya hadiri. Karena Covid19.

Digantikan dengan acara melalui zoom selama 30 menit, utk memberikan kesempatan kerabat dan sahabat menyampaikan selamat ulang tahun.

Selamat ulang tahun Bang Akbar dan Bung Wahidin. Saya berdoa utk mereka berdua.

 Bersamaan dgn itu pula, saya berdoa dan mengenang ibu saya yang wafat pada hari yang sama, 14 Agustus  1981.(*)



Artikel Rekomendasi