SAD Berkeliaran di Kota Jambi, Arief Munandar: Perlu Penanganan Bersama



Rabu, 10 Juli 2019 - 16:02:42 WIB



Arief Munandar
Arief Munandar

JAMBERITA.COM - Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinsosdukcapil) Provinsi Jambi Arief Munandar menyebutkan, perlunya penanganan bersama dalam memberdayakan Suku Anak Dalam (SAD) yang berkeliaran di Kota Jambi.

"Saya dapat informasi di media sosial (medsos) ada katanya, SAD ini di kota Jambi ni mengganggu ya, mengganggu meresahkan kenyamanan masyarakat," katanya Rabu (10/7/2019).

Misal dengan minta minta di pinggir jalan, di Pom bensin dan di rumah dan rumah makan.

Untuk itu kata Arief, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan emerintah Kota (Pemkot) Jambi melalui Satpol-PP untuk bersama sama mengamankan dan mengembalikan SAD.

"Nanti kita sama-sama lah mengembalikan, kalau memang kota siap ya silahkan karena ini antar Kabupaten, tapi kalau antar provinsi tugas kami, namun provinsi siap untuk mendampingi kota Jambi untuk memulangkan kalau memang itu jadi masalah," terangnya.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, pemulangan SAD itu sebenarnya bukanlah solusi yang tepat. Tetapi yang paling penting itu bagaimana pihaknya bersama pihak terkait dapat memberdayakan SAD tersebut.

"Karena SAD ini ada dua macam, ada yang sudah menetap, itu ada kurang lebih 17.000 jiwa kalau nggak salah, ada kurang lebih 7000 jiwa lagi yang masih kehidupannya melangun (berpindah-pindah) dan masih perlu penanganan," ujarnya.

Menurut Arief yang pernah jadi penjabat Bupati Kabupaten Sarolangun ini mungkin kedepan, harus adanya regulasi yang bersifat khusus. Apabila diizinkan maka akan dibangunkan tempat permukiman yang ramah lingkungan dan berdekatan dengan sungai sehingga kehidupan SAD dapat menjadi lebih baik lagi dan tidak berkeliaran ke kota.

"Ada yang memang pinginnya main di hutan lah, jadi tidak ada salahnya kalau kedepan mungkin kita akan bisa mendapat izin membangun rumah-rumah yang sifatnya ramah lingkungan, mungkin di tepi sungai, yang mungkin dia bisa nanam jenang, karet, sehingga kehidupan mereka lebih baik lagi," tambahnya.

Atau dipikirkan lagi, diberikan peternakan atau ikan sehingga mereka ketika mengalami masa krisis ekonomi tidak lagi pergi berkeliaran ke tengah kota dan terkesan mengganggu kenyamanan.

"Bukan membuat keonaran sih, mengganggu kenyamanan lah orang kota, jadi harapan kita ke depan SAD ini ke depan perlu diberdayakan sama ekonominya, artinya banyak semua pihak yang dilibatkan," jelasnya.

Memang fenomena sekali, dimana sekarang ini secara luas masyarakat sudah mendunia kenal media sosial, bahkan informasi dengan hitungan detik sudah didapat sedangan SAD masih tinggal di hutan tidak punya listrik. Dari itu, penanganan masalah SAD perlunya perhatian dari pemerintah dan semua pihak untuk memberdayakan SAD.

"Tapi itulah alamnya, kenyamanan mereka begitu, jadi perlu memang perhatian dari pemerintah dan semuanya untuk memberdayakan SAD tadi, sekali lah lagi perlu sama-sama lah dalam menyelesaikan masalah ini," pungkasnya.(afm)







loading...






JA Bacok Pantat Tukang Urut Sampai Robek

JA Bacok Pantat Tukang Urut Sampai Robek

Jumat, 05/06/2020 17:00:33