Kebimbangan Di Balik 50:50; Mondok Atau Kuliah



Kamis, 28 Maret 2019 - 19:33:12 WIB



Oleh: M. Anggoro Kasih, SP*

Ujian nasional akan usai! Selamat buat adinda siswa SMA/SMK/MA yang akan menyelesaikan ujian nasional. Saat ini adinda pasti merasakan lega yang luar biasa optimis akan melakukan dan menyelesaikan ujian nasional, tetapi juga dag-dig-dug menunggu pengumuman hasil ujian. Sembari menunggu berita kelulusan, apakah adinda sudah memiliki rencana setelah lulus sekolah, akan kemana……? Adinda akan di hadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti mau kuliah atau lanjut mondok atau kerja atau nikah….? Sudahkah adinda dalam hati dan konsul keluarga untuk memutuskan pilihannya…….? Atau saat ini masih bingung mau kemana setelah lulus sekolah..?

Kuliah atau lanjut mondok atau kerja atau nikah setelah lulus SMA/SMK/MA memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Agar tidak bingung dalam merencanakan tujuan hidup maka adinda harus mencari referensi sebanyak mungkin dalam membuat keputusan dengan niat mengharap ridho Allah SWT, sehingga Allah SWT dapat selalu memberikan keberkahan dan kelancaran kita dalam bertindak dan memutuskan cita-cita masa depan.

Tulisan ini saya buat untuk anak pondok yang galau akan pertanyaan-pertanyaan diatas, Sejauh ini saya pribadi sebagai penulis menikmati proses di pondok pesantren walau dahulu belum memiliki kesempatan untuk belajar di pondok pesantren. Tetapi ada satu hal yang membuat saya terus berpikir sampai saat ini, yaitu dawuh seorang Kyai dan putra-putranya (Gus dan Ning) yang coba saya serap dan cerna "dua hal yang tidak bisa digabungkan adalah dunia dan akhirat" tapi saling sangat erat kaitannya. Sesuatu yang bisa disimpulkan dari dawuhan ini adalah bahwa kampus dan pesantren adalah dua hal yang berbeda dan sama-sama penting, tidak bisa disatukan dan memang terpisah (di dalam kurikulum) namun apabila keduanya disatukan itu akan menjadi keluarbiasaan bagi yang melaksanakan karna menuntut ilmu itu adalah sebuah kewajiban.

Pertanyaan tersebut memunculkan persepsi yang membuat banyak anak muda takut dengan hanya mendengar kata mondok. Mereka menggangap bahwa tinggal dan belajar di pondok membuatnya menjadi cupu, ketinggalan zaman, dan susah mencari pekerjaan setelah lulus nanti.

"menuntut ilmu di pondok dan di kampus tidak akan bisa maju bersama-sama, mesti ada yang kalah salah satunya, entah pondoknya atau kampusnya" dawuh seorang Gus di salah satu pesantren itu….! Saya rasa memang benar karena saya benar-benar masuk ke dalam kehidupan pondok pesantren dan memiliki sahabat yang merasakan hal itu.

Mengutip dari pernyataan sabahat saya yang menjadi salah satu Ustd di pondok pesantren. Tinggal di pesantren membuat saya banyak berubah, mulai cara saya berpakaian, berbicara, dan bertingkah laku. Mungkin memang wajar. Tapi satu yang tidak wajar, yaitu "saya lebih malas kuliah". kuliah saya sering telat, tugas terbengkalai (semester lalu) dan lain sebagainya, entah apa yang membuat saya seperti ini. Apakah kata-kata itu yang menghipnotis ataukah pikiran dan tingkah laku saya saja yang memang berubah menjadi malas.

Sampai di penghujung pertemuan, sahabat saya pun sempat berdiskusi bersama Gus nya, satu kata dari Gus yang lain yang membuat saya berpikir lagi "kuliah mungkin tidak bisa seimbang dengan pondok, tapi cobalah untuk birrul walidain". Teman saya berfikir apa makna dari kata tersebut, dan ternyata:

"Mencari ilmu yang sebenarnya bukanlah sekedar mencari nilai atau IP, tapi yang orang tua tau hanya hasil mu melalui nilai aatu IP mu. maka cobalah banggakan orang tuamu dengan nilai atau IP yang bagus." lanjut Gus menjelaskan. Dari keterangan ini saya menemukan apa yang saya cari yaitu ilmu agama di pesantren dan birrul walidain di kampus. Lagi-lagi semangat birrul walidain yang saya bawa saat ini. apalagi semester ini saya mulai menyusun proposal skripsi.

Maka Bismillah, dengan Ridho orang tua dan pesantren, saya berangkat kuliah :)

Inti dan tujuan saya nulis ini semua semata-mata ingin berbagi cerita sekaligus menjawab semua rentetan pertanyaan Sahabat, peserta didik dan wali santri di pondok pesantren yang saya abdikan baik secara langsung maupun yang tidak langsung. Pilihan ada di tangan kita, mau kuliah atau mondok saja atau kuliah sambil modok semua baik tergantung niatan awalnya. Nggak lupa buat selalu bersyukur atas apa yang udah Allah beri kepada kita, Qodar Manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Qodar tersebut, bisa diubah dengan doa dan usaha. Selain itu, qodar juga ditentukan oleh pilihan hidup Manusia. 

Manusia diberi hak untuk memilih, mana yang akan dilakukan atau mana yang tidak ingin dilakukan. Sedangkan berhasil atau gagal suatu pilihan, Allah lah yang menentukan. Maka selalu lah berdoa, “Ya Allah, Engkau tuhan yang maha mengetahui. Engkau Tuhan yang maha berkehendak. Ya Allah tiada Tuhan selain Engkau, hanya Engkaulah tempatku meminta. Ya Allah, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat, luluskanlah aku tepat waktu dan di waktu yang tepat. Ya Allah berkahilah ilmuku, rizky ku, hartaku, dan hidupku. Ya Allah sesungguhnya Engkaulah Dzat yang maha melihat lagi maha mendengar. Hanya kepada-Mu lah hamba berpasrah diri, hamba hanya memohon rahmat, rahim serta ridhomu. Aamiin.

*Staf Pendidik di SMK Asy’ariyah Muaro Jambi

 










loading...