Oleh: Romualdus Kaju, S.Fil., M.Pd
ISTILAH era industrri 4.0 menjadi isu bangsa kita saat ini. Para calon presiden dan wakil presiden sering mengulangnya dalam debat-debat kandidat. Sayangnya masyarakat banyak yang tidak paham. Pernah penulis mengajak diskusi seorang guru, tentang tanggapannya atas istilah ini.
Dia ternyata masih asing dengan istilah ini. Penulis pun terpaksa mencari-cari informasi dari media internet, apa sih yang dimaksud era 4.0 ini.
Salah satu referensi singkatnya bisa didapat dari penjelasan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto di detik.com, tanggal 24 April 2018 Ternyata istilah era industri 4.0 mengacu pada telah empat kali dunia mengalami revolusi industri.
Penemuan mesin uap oleh James Watt menjadi penanda lahirnya revolusi industri atau zaman industri 1.0. Di Indonesia zaman industri 1.0 dialami di masa Hindia Belanda.
Selanjutnya, zaman 2.0 yaitu penyempurnaan industri berbasis mesin uap setelah ditemukan dan dikembangkan penggunaan energi listrik. Setelah itu zaman industri 3.0 yang ditandai oleh globalisasi dan otomatisasi penggunaan komputer.
Sedangkan era industri 4.0 mengacu pada masifnya digitalisasi pada dunia industri bahkan digitalisasi seluruh aspek kehidupan manusia.
Digitalisasi industri dan aspek-aspek kehidupan lainnya membawa dampak besar bagi perubahan pola hidup manusia.
Keuntungan besar akan diperoleh bangsa-bangsa dan pribadi-pribadi yang mampu menyikapinya dengan benar. Pemerintah misalnya membuat peta jalan pengembangan industri berbasis 4.0 demi mengejar impian menjadi 10 besar kategori bangsa dengan kemampuan ekonomi terkuat di dunia (Kompas.com, 11/6/2018).
Sementara sebagai pendidik yang berkarya di bidang pendidikan dasar penulis menaruh titik perhatian pada pengembangan tiga jenis karakter berikut ini yaitu iman, orisinalitas dan kreativitas. Tiga jenis karakter ini akan coba dibedah dengan analisa konfrontasi, iman dibandingkan dengan sekularisme, orisinalitas dihadapkan dengan plagiarisme, dan kreativitas dilawankan dengan stagnasi.
Iman versus sekularisme salah satu karakter dasar yang penting bahkan yang paling penting dari nilai yang wajib dimiliki anak Indonesia di era 4.0 adalah karakter beriman. Saking seringnya orang menggunakan istilah ini sampai-sampai maknanya menjadi luntur dan mengambang.
Sederhanaya, iman adalah sikap percaya kepada penyelenggaraan ilahi dalam hidup manusia. Teknologi tinggi seringkali membuat manusia lupa akan moralitas yang didasari iman. Hal-hal duniawi atau sekularisme menjadi pengaruh nyata yang menunjukkan bahwa kemajuan bisa membuat manusia lupa aka nasal mula dan tujuan hidupnya. Manusia menjadi larut dalam teknologi dan lupa mengindentifikasi diri sebagai ciptaan Allah yang memiliki awal dan akhir hidup.
Sekularisme yang merambah dunia Eropa jelas merupakan akibat dari revolusi industri,kemajuan teknologi. Digitalisasi sebagai titik tertinggi dari ciri hidup saat ini sebenarnya harus mengajak kita untuk kembali memperkuat akar moralitas tradisional. Iman yang ditawarkan oleh agama-agama yang kita miliki bertujuan untuk memperdalam akar moral sehingga digitalisasi tidak merusak, menghancurkan atau menghilangkan martabat manusia.
Kisah-kisah film tentang robot super hero ciptaan manusia mengingatkan kita bahwa digitalisasi hendaknya dibatasi moralitas. Apa yang merusak kehidupan perlu secara sadar dibatasi demi keselamatan publik. Jangan sampai seperti dalam kisah film superhero, manusia tidak bisa mengendalikan apa yang ia ciptakan hanya demi eksplorasi kemampuan otak dan gagasannya.
Tugas untuk menanamkan karakter iman anak Indonesia genarasi 4.0 bertumpu pada keluarga, dunia pendidikan dan lembaga keagamaan. Keluarga menjadi penanam nilai-nilai moral yang pertama dan utama. Dalam keluarga hendaknya anak-anak mengenal kebaikan Tuhannya melalui orang tua yang mengasihi dan menunjukkan bagaiamana harus hidup, berkerja dan berkreasi.
Selanjutnya, lembaga-lembaga pendidikan juga harus memahami karakter anak-anak tipikal genarasi 4.0 sehingga pendekatan dan proses pendidikan iman bagi mereka menjadi efektif, menarik dan mendalam. Sementara itu lembaga-lembaga keagamaan yang ada harus menyadari perannya di tengah generasi baru sehingga metode penanaman iman bisa mudah diterima oleh anak-anak generasi terbaru.
Originalitas versus plagiarisme
Memasuki era 4.0 oroginalitas menjadi suatu keharusan bagi bangsa yang ingin memimpin bangsa lain. Otentisitas atau originalitas sudah terbukti menentukan perkembangan dunia. James Watt, penemu mesin uap yang adalah tokoh sentral dari revolusi industry 1.0. ia memiliki mentalitas penemu jauh dari kata plagiat.
Ia James Watt mulai melakukan percobaan dengan uap setelah temannya, Professor John Robison, membuat dia tertarik pada mesin tersebut. Watt sering mengalami kegagalan dalam proses penemuan mesin uap itu. Walaupun gagal, dia tetap melanjutkan percobaannya dan mulai membaca apa saja yang bisa dibacanya. Dia kemudian secara terpisah menemukan pentingnya energi panas yang ditimbulkan dan diserap oleh tiap-tiap obyek untuk mengerti lebih jauh tentang mesin. pada tahun 1765 dia berhasil membuat sebuah model mesin yang dapat bekerja dengan baik.
Demikian dengan sokoguru penentu zaman industry 2.0 yaitu penemu listrik Michael Faraday. Ia harus berkali-kali melalukan penelitian dan percobaan sebelum sampai pada kesimpulan bilamana magnet dilalui lewat sepotong kawat, arus akan mengalir di kawat sedangkan magnet bergerak.
Penemuan ini disebut monumental karena hukum Faraday mempunyai arti penting yang mendasar dalam hubungan dengan pengertian teoritis kita tentang elektro magnetik. Meski generator tenaga pembangkit listrik kita untuk mensuplai kota dan pabrik dewasa ini jauh lebih sempurna ketimbang apa yang diperbuat Faraday, tetapi kesemuanya berdasar pada prinsip serupa dengan pengaruh elektro magnetik.
Dua contoh di atas menunjukkan otentisitas karya dan pemikiran berperan besar dalam perkembangan dunia dan kemanusiaan. Bayangkan jika James Watt dan Michael Faraday tidak memiliki orisinalitas atau hanya memiliki semangat plagiarisme dunia kita tidak akan seterang dan segemerlap ini.
Kreativitas versus stagnasi
Industri 4.0 menyasar 5 aspek penting yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, serta kimia. Kelima jenis industri ini membutuhkan anak-anak Indonesia yang kreatif.
Hal ini sangat penting juga untuk menjawab tantangan yang ada dalam era industry 4.0 yaitu faktor keamanan, permodalan, ketenagakerjaan, dan privasi. Mungkin aspek yang paling menantang dari penerapan teknik Industry 4.0 adalah risiko keamanan TI terhadap sistem Industri. Integrasi online ini akan memberi ruang untuk pelanggaran keamanan dan kebocoran data. Pencurian dunia maya juga harus dipertimbangkan.
Dalam kasus ini, masalahnya bukan masalah perorangan, tetapi dapat, dan mungkin akan, membebani para produser uang dan bahkan dapat merusak reputasi mereka. Oleh karena itu, penelitian dalam keamanan sangat penting. Faktor-faktor seperti inilah yang menantang kreativitas. Jika jiwa kreatif anak bangsa tidak dikembangkan dari pendidikan dasar mereka tidak akan terbiasa mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin muncul di era 4.0 ini.
Ketiga hal di atas yaitu keimanan, originalitas, dan kreativitas hendaknya dapat dikemas sebagai satu kesatuan proyek pendidikan nilai yang saling mendukung dan berkaitan. Arah pendidikan karakter di Lembaga-lembaga pendidikan dasar perlu mengangkat dengan sadar tema menyiapkan generasi milenial bersaing dan berjuang di era industri 4.0 ini.(*)
*Pendidik di SD Xaverius 1 Kota Jambi.
Dilema Antara Sumber Daya Manusia (SDM), Lulusan Dan Peluang Tenaga Kerja Serta Honor Pendidik
Tanggapan Terhadap Debat Cawapres: Menebar Harapan Jangan Jauh Dari Bayangan


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


