JAMBERITA.COM - Di bawah rindangnya kanopi hutan Pulau Lintang, Kabupaten Sarolangun, jemari terampil generasi muda Suku Anak Dalam (SAD) telah berabad-abad menganyam cerita. Melalui jalinan cincin dan gelang etnik, mereka merawat ingatan leluhur. Namun, selama itu pula, mahakarya kearifan lokal ini terisolasi oleh sekat geografis dan keterbatasan ekonomi. Berada di pusaran zaman modern, komunitas adat ini kerap kali terpinggirkan dari roda perputaran ekonomi arus utama.
Melihat realitas tersebut, menara gading universitas memilih untuk runtuh dan turun ke bumi. Tim dosen dan mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi (UNJA) hadir di Pulau Lintang, bukan sekadar untuk melakukan riset teoretis, melainkan membawa misi besar: mengentaskan keterbatasan ekonomi warga SAD tanpa mencabut akar budaya mereka.
Selama ini, kendala terbesar pemuda SAD dalam mengembangkan potensi kerajinan tangan mereka terletak pada efisiensi. Pembuatan perhiasan etnik yang bernilai estetika tinggi ini memakan waktu yang sangat lama karena masih mengandalkan alat seadanya. Akibatnya, jumlah produksi sangat terbatas dan aspek ekonominya mandek.
Dipimpin oleh Prof. Dr. Drs. Andiopenta, M. Hum., Tim Pengabdian UNJA mengintervensi masalah ini dengan menghadirkan teknologi tepat guna. Mereka memberikan bantuan peralatan kerja modern yang dirancang khusus untuk mempercepat proses produksi.
Menariknya, modernisasi ini tidak menggerus nilai otentik produk. Alat-alat baru tersebut berfungsi sebagai akselerator kerja, sementara sentuhan rasa, estetika, dan filosofi pembuatan tetap berada sepenuhnya di tangan para perajin muda SAD.
Dampak paling revolusioner dari kolaborasi akademis ini adalah perombakan total pada rantai pasok dan sistem pemasaran. Produk kerajinan tangan SAD yang awalnya hanya menjadi konsumsi internal atau dijual secara sangat terbatas di sekitar wilayah konflik lahan, kini bersiap melompat jauh ke etalase digital.
Melalui pendampingan intensif, tim UNJA mempersiapkan produk-produk ini untuk menembus pasar yang lebih luas melalui pameran daerah hingga platform marketplace dan media sosial.
“Harapannya, ke depan produk ini dapat kita komersialisasikan dengan manajemen yang baik. Digitalisasi pemasaran ini akan menjadi keran pemasukan baru yang berkelanjutan guna meningkatkan perekonomian komunitas SAD Pulau Lintang,” ujar Prof. Andiopenta dengan optimis.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dunia akademik untuk membangun kemandirian finansial komunitas adat, sehingga mereka tidak lagi bergantung pada belas kasihan eksternal atau eksploitasi sumber daya hutan yang kian menyusut.
Bantuan dan kehadiran para akademisi ini disambut dengan keharuan yang mendalam oleh masyarakat setempat. Bapak Curiga, selaku Tumenggung (Ketua RT) Masyarakat SAD Pulau Lintang, mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi dan pemikiran dari kampus UNJA memberikan secercah harapan baru bagi dapur dan masa depan keluarga mereka.
“Terima kasih untuk Bapak dan Ibu dosen atas kepeduliannya memberi bantuan peralatan ini. Semoga dengan adanya alat baru, pembuatan cincin dan gelang kami bisa lebih cepat, sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan kami,” tutur Tumenggung Curiga, yang diterjemahkan dari bahasa asli Suku Anak Dalam Pulau Lintang.
Keberhasilan program yang menyentuh akar rumput ini tidak lepas dari kerja keras tim kolaboratif FKIP UNJA. Di lini dosen, Prof. Andiopenta didampingi oleh para pakar pendidikan yang memiliki kepedulian sosial tinggi: Sri Indri Harianja, M.Pd., Junita Yosephine Sinurat, M.Pd., dan Tohap Pandapotan Simaremare, M.Pd.
Tak kalah krusial, denyut nadi pengabdian ini diperkuat oleh kehadiran empat mahasiswa UNJA, Putri Sitanggang, George Jhosepi Siagian, Sri Nurtati Ritonga dan Rijal Bahri Lumban Gaol.
Merekalah yang menjadi ujung tombak di lapangan, tinggal bersama komunitas, membaur, dan memastikan transfer pengetahuan serta teknologi digital berjalan secara humanis dan dapat dipahami dengan baik oleh pemuda SAD.
Apa yang dilakukan oleh FKIP UNJA di Pulau Lintang adalah potret ideal dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sesungguhnya. Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya menjadi tumpukan kertas di perpustakaan, ia harus menjadi alat pembebasan bagi kemanusiaan.
Dengan meruntuhkan sekat keterasingan geografis dan digital melalui pendekatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, UNJA telah membuktikan bahwa memajukan masyarakat adat tidak harus dengan mengubah identitas mereka menjadi orang kota. Cukup dengan memberi mereka ruang, alat, dan akses pasar yang adil, Suku Anak Dalam mampu mengangkat harkat hidup mereka sendiri, berdikari di atas tanah leluhurnya.
Sumber : www.unja.ac.id
Merajut Masa Depan di Balik Hutan: Ketika Akademisi UNJA Bawa Jari-jari SAD Menembus Pasar Digital
Borong Rentetan Penghargaan Sekaligus, Mahasiswa UNJA Ini Bikin Bangga RI di Malaysia-Singapore
Antisipasi Karhutla Ekstrem, Rektor UNJA Tegaskan Pencegahan Harus Mulai Ubah Mindset
Dobrak Ilusi Media Sosial, Dosen UBR Jambi Ajak Ibu Modern Waras dan Berdaya dari Rumah
Strategi Baru UNJA: Mengubah Peran Dosen PA Demi Selamatkan Mental dan Studi Mahasiswa
HIMATRO UNJA Gelar Seminar Nasional Energi Terbarukan, Dorong Kemandirian Nasional
Promosikan Produk Unggulan Daerah, Kanwil Kemenkum Jambi Ikuti Rakor Video Indikasi Geografis


