JAMBERITA.COM - Di RT 12 Desa Pematang Gajah, sebuah struktur beton berdiri tegak membelah aliran air. Panjangnya 12 meter, lebarnya 5 meter. Bagi orang luar, mungkin ini sekadar jembatan desa biasa. Namun bagi warga Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko) ini, jembatan tersebut adalah sebuah monumen: Monumen kemenangan harga diri atas janji-janji politik yang lapuk.
Masyarakat menyebutnya Jembatan Janji Manis. Sebuah nama yang puitis, namun mengandung satir yang perih bagi Pemerintah Daerah Muaro Jambi. Awalnya adalah harapan.
November 2025 menjadi titik balik ketika usulan warga untuk pengadaan Box Culvert hanya berakhir di atas kertas. Berbulan-bulan menunggu kepastian dari pemerintah daerah, warga akhirnya sampai pada satu titik jenuh yang sama: Mereka lelah berharap pada tangan-tangan di atas sana.
"Inisiasi ini muncul setelah tidak adanya kepastian. Kami bosan menunggu," ujar salah satu warga di lokasi, Minggu (26/04/2026).
Ketimbang terus memelihara amarah yang sia-sia, warga RT 12 memilih untuk mengorganisir diri. Mereka membentuk kepengurusan mandiri—lengkap dengan ketua, sekretaris, hingga bendahara. Mereka tidak hanya menyumbang tenaga, tapi juga harga diri.
"Untuk mendapatkan dana pembangunan ini, kami 'ngemis-ngemis' untuk dapatnya," bisik seorang warga, menggambarkan betapa kerasnya perjuangan mengumpulkan rupiah demi rupiah dari kantong-kantong swadaya yang tak seberapa.
Sudarmanto, sang Bendahara Pembangunan, mencatat setiap sen yang masuk. Dana awal sebesar Rp30 juta terkumpul. Uang itu mungkin kecil bagi sebuah proyek pemerintah, tapi bagi warga Desa Pematang Gajah, itu adalah manifestasi dari kepercayaan.
Desember 2025: Pembangunan fondasi, dinding kanan-kiri, dan polongan penahan jembatan dimulai. April 2026 Warga kembali berkumpul di bawah terik matahari, mengaduk tujuh kubik semen beton molen untuk pengecoran akhir.
Hari ini, jembatan itu sudah "Manis". Permukaannya mulus, berdiri kokoh di atas air. Bukan hasil dari tanda tangan pejabat di gedung ber-AC, melainkan hasil dari peluh warga yang mengaduk semen dari pagi hingga petang.
Ada nada getir yang tersirat saat jembatan ini akhirnya rampung. Warga kini tak lagi mengejar janji Box Culvert yang dulu mereka dambakan. Mereka sudah membuktikan bahwa tanpa negara pun, mereka bisa mandiri.
"Inilah wujudnya Jembatan Janji Manis," tutur seorang warga dengan nada tegas. "Kalau memang dari Pemda ada bantuan, kami harap itu dialihkan saja untuk pengerasan jalan."
Kebutuhan mendesak kini bergeser. Masih ada akses sepanjang 12 kilometer yang butuh sentuhan pengerasan. Jalan itu adalah urat nadi: akses ke perkebunan, permukiman, hingga jalan menuju pemakaman warga.
Jembatan Janji Manis adalah kritik yang tak perlu diteriakkan lewat pengeras suara. Ia diam, namun ia nyata. Ia adalah bukti bahwa ketika kepercayaan publik runtuh, masyarakat akan membangun jalannya sendiri.
Kini, setiap kali ban kendaraan warga melintasi jembatan mulus itu, mereka akan teringat bahwa di atas jembatan ini, janji manis pemerintah telah basi, dan digantikan oleh kerasnya beton hasil keringat sendiri.
Sebelumnya, jembatan janji manis ini sempat mencuat dan viral sehingga tersiar kabar bahwa pengadaan box culvert dari Pemda Muaro Jambi untuk warga RT 12 Desa Pematang Gajah tersebut akan direalisasikan di tahun 2026 ini. Namun belum diketahui apakah itu hanya sebatas janji, atau saja masih menunggu eksekusi dari Pemda.(afm)
Peringati Hari KI Sedunia, Kanwil Kemenkum Jambi Ikuti Arahan Menteri Hukum via Zoom dari Tugu Keris
Warga Kembali GORO : Jembatan 'Janji Manis' Saat Kekecewaan Berubah Menjadi Beton yang Nyata
Ratusan Massa Ikuti Senam Massal Semarak Hari Kekayaan Intelektual Sedunia di Tugu Keris
Percepat Akreditasi, Kemenag Muaro Jambi Bimtek Pengisian SISPENA Bagi Ponpes
Kadiv P3H Kemenkum Jambi Turun Tangan, Pantau Mediasi Sengketa Lahan di Posbankum Tanjabbar


Peringati Hari KI Sedunia, Kanwil Kemenkum Jambi Ikuti Arahan Menteri Hukum via Zoom dari Tugu Keris


