Liburan Sudah Usai, Kembali Menjadi Guru ‘Sebenarnya’



Kamis, 13 Juli 2023 - 09:24:38 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Liburan guru telah usai. Liburan yang sebelumnya sempat ‘hilang’, sekarang sudah kembali. Sudah puas rasanya pulang kampung atau menikmati ‘hidup’ di rumah sepanjang hari tanpa memikirkan presensi ‘online’ yang begitu melelahkan. Istirahat sebentar memikirkan ‘hiruk pikuk’ Kurikulum Merdeka.

Sudahlah, guru janganlah terbuai dengan ‘nikmat’ libur, tahun pelajaran baru sebentar lagi dimulai. Mulailah membuka ‘kitab kitab’ pembelajaran mulai dari mendisain dan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang sebenarnya, kemudian aktif kembali meng-upgrage dan update ilmu dengan mengikuti pelatihan terpercaya, dll.

Berhubungan dengan perubahan kurikulum. Guru mestinya punya prinsip: apapun namanya: KBK, KTSP, Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka: tempat belajar tetap di ruang kelas, tugas guru tidak berubah, yaitu mengajar, mendidik, membina, membimbing. Cara guru bekerjapun tetap, yaitu merencanakan, melaksanakan, menilai dan subjek pembelajaran tetap sama yaitu siswa dan hasil akhirnya diharapkan siswa menjadi ‘orang’ baik.

Jadi perubahan kurikulum bukanlah hal baru dan bukan pula berangkat dari nol, guru sebenarnya sudah punya modal untuk perubahan ini. Yang menjadi perubahan mendasar Kurikulum Merdeka ini adalah analogi sekolah dan kehidupan. Di sekolah, kita diajari sebuah pembelajaran dan kemudian diberi tes sedang dalam kehidupan, kita diberi tes dan mengajarkan kita sebuah pembelajaran. Jadi setiap orang yang kita temui adalah guru, setiap tempat yang kita jalani adalah kelas dn setiap kejadian yang kita alami adalah pelajaran

Diawal tahun pelajaran baru, kembalilah membuka pikiran untuk memulai tahun pelajaran baru dengan mengenal siswa secara komprehensif dengan asesmen diognastik baik kognitif maupun non-kognitif, mencermati pembelajaran berdiffensiasi, memantapkan konsep ‘teaching at the right level’, memprioritaskan pembelajaran berpusat pada siswa (Kemdikbud).

Selamat untuk keputusannya tetap memilih untuk tetap belajar, walau sebagian guru masih beranggapan ‘sudah terlalu tua’ untuk belajar. Menjadi guru memang tak selalu mengajar tapi juga harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan peserta didik. Janganlah berhenti belajar, bisa jadi siswa jauh lebih pintar dari kita. Alangkah tidak enak hati kita apabila yang disampaikan ‘tidak berarti’ bagi siswa.

Memulailah kembali ke rutinitas di awal tahun pelajaran sudah jadi agenda tetap, memplototi kalender akademik, menentukan minggu efektif pembelajaran, program tahunan, semester dan diterjemahkan kedalam modul ajar atau RPP, dan semua perangkat ‘suci’ administrasi harus terus dibereskan, agar selamat apabila ‘diperiksa’.

Setoran perangkat administrasi sedang ditunggu oleh wakil kepala bagian kurikulum. Setiap ketemu, selalu ditanya, mana perangkat pembelajaran, kapan dikumpul, kapan? sampai membuat ‘list’ di grup WA guru, daftar nama nama guru yang sudah ‘setor’ perangkat. Ada guru yang mulai sibuk menyiapkan perangkat, ada yang berkilah ‘belum diprint’, ada yang mem-photo copy perangkat zaman ‘bengen’. Pada kondisi ‘terdesak’ seperti ini, prinsipnya: ‘pokoknya dikumpul’.

Ketahuilah, tahun pelajaran baru merupakan harapan dan kerinduan bagi orang tua untuk menjadi anak mereka menjadi orang baik, berakhlak mulia, rajin, cerdas, cakap, bertanggung jawab, mandiri, sopan santun. Guru harus menjadikan kerinduan orang ini sebagai pemicu semangat untuk memberikan yang terbaik selama proses pembelajaran.

Bisa dipastikan ‘siswa baru’ memiliki karakter, sifat, intelektual, potensi, kebiasaan dan latar belakang yang berbeda. Oleh karena, sepatutnya guru menjelang berakhirnya libur akademik ini mempersiapkan diri mengakomodir pembelajaran yang berbeda, karena memang siswa itu berbeda beda. Jangan ‘marah’ bila siswa pada kenyataannya tak pernah atau jarang terlibat dalam pembelajaran, karena siswa memang tidak semua bisa mengusai semua mata pelajaran.

Itulah pendidikan, yang merupakan sumber dari segala sumber kehidupan, apapun tujuan hidup manusia, bisa dikatakan pendidikanlah yang akan selalu mewarnai perjalanan hidup manusia. Karena tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” - Tan Malaka 

Pembelajaran pada hakikatnya adalah membangun manusia (indonesiabaik). Ini dimulai dari ruang kelas, yakni interaksi dan komunikasi guru dan siswa. Memanusiakan siswa dalam komunikasi pembelajaran, berarti: bila guru suka dipuji, maka siswapun suka, bila guru senang diperhatikan ‘atasan’, maka siswapun senang. Atau, bila guru tidak suka dimarahi, maka siswapun demikian, atau bila guru tidak senang diber tugas banyak, begitu pula siswa.

Bagi sekolah/madrasah yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, tentu harus banyak belajar dengan kurikulum ini, harus ada penyesuaian dan adaptasi. Pertama, pahamilah konsep pembelajaran paradigma baru, bagi yang sudah mengimplementasi Kurikulum Merdeka, kuasai Merdeka Belajar dang merdeka mengajar yang lebih fleksibel dan berfokus pada materi esensial serta pengembangan karakter dan peserta didik. 

Kedua, pastikan pembelajaran yang digunakan berbasis proyek untuk mengembangkan soft skill dan karakter sesuai dengan profil belajar Pancasila; fokus terhadap materi esensial sehingga terdapat waktu untuk pembelajaran yang mendalam; dan fleksibilitas, pembelajaran yang terdiferensiasi menjadi acuan utama sesuai dengan kemampuan peserta didik. 

Ketiga, persiapan administratif adalah sebagai pedoman pembelajaran: Kalender Pendidikan, Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Capaian Pembelajaran (CP), Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP), Modul ajar, Buku Pegangan, dsb.

Keempat, keberhasilan sangat tergantung pada keberanian guru dalam mengevaluasi diri sendiri. Apakah selama ini sudah menjadi guru yang ‘sebenarnya’ atau hanya untuk menggugurkan kewajiban. 

Hal yang perlu menjadi perhatian guru adalah ‘nafsu’ untuk memberikan semua materi yang ada pada dirinya kepada siswanya. Guru punya peran membantu siswa untuk belajar. Bukan dengan memberikan sebanyak mungkin materi pembelajaran. Menjejali siswa dengan banyak materi sama saja menganggap siswa sebagai gelas kosong yang harus diisi. Bila sudah penuh akan akan tumpah. Gelas tersebut tidak berkembang. seperti itu saja.

Membantu siswa belajar berarti membekali mereka dengan alat untuk belajar. Alat yang dimaksudkan adalah keterampilan belajar. Proses pembelajaran harus mengasah keterampilan belajar ini sehingga siswa mampu menemukan banyak pelajaran pentingdalam belajar, yakni meningkatnya kemampuan belajar. Bukan semata mata menguasai banyak materi.

Bagi guru, jangan bekerja untuk hanya menunaikan tugas. Tapi bekerjalah untuk meningkatkan ilmu, untuk ‘membahagiakan’ peserta didik. Wallahu a'lam bish-shawab!

 

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi