“Ibadah” Pendidikan



Sabtu, 27 Mei 2023 - 08:56:30 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

"Tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Adz Dzariyat)

Tugas manusia di muka bumi adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Begitu juga guru sebagai manusia memiliki tanggungjawab yang besar selama hidup di muka bumi. Oleh karena itu, guru harus meniatkan setiap aktivitas yang dilakukan yang berhubungan dengan tugas guru diniat sebagai ibadah.

Kalau tidak, maka tugas yang ‘maha berat’ ini akan menambah ‘beban baru’ karena akan ‘terselip’ unsur keterpaksaan, ketidakikhlasan dalam menjalankan tugas. Tugas guru bukan tugas ‘individu’, tapi tugas yang berhubungan dengan banyak pihak. Seandainya guru ‘lalai’ dalam menjalankan tugas, bukan saja siswa yang ‘marah’ tapi semua stakeholder akan marah.

Ibadah harus menjadi niat utama guru, menjadikan seluruh kegiatan pembelajaran sebagai pengabdian kepada Allah SWT. Kemudian, meniatkan diri dengan ikhlas sebagai khalifah, yakni pemimpin, pengelola, dan pemelihara pendidikan khususnya pembelajaran dengan tujuan utama menyeru untuk kebajikan dalam pembelajaran.

Proses pendidikan yang inti proses pembelajaran, interaksi dan komunikasi di ruang kelas, guru harus pula menjadi contoh dalam menjalankan dan menegakkan ibadah. Karena pendidikan sejatinya memanusiakan manusia (Mangunhardjana) dalam jalan agama untuk mejadi pemimpin dalam mendekatkan diri dengan Alllah yang maha kuasa. Sidi Gazalba (1970: 86-88) berpendapat ‘kebebasan’ sering mendorong kepada hal yang baik, namun tak jarang bisa mengajak kepada jalan kemungkaran. Maka di titik inilah pendidikan membutuhkan firman-firman Tuhan. Melalui keteladan guru dalam beribadah, ilmu yang semula bebas nilai menjadi begitu bermakna dalam membentuk akal dan juga jiwa peserta didik melalui ekosistem pendidikan di sekolah.

Guru sebenarnya ‘dermawan sejati’ yang mampu bersedekah banyak hal. Guru bisa menyumbang pemikiran, gagasan untuk siswanya. Sedekah guru bukan berbentuk materiil untuk membangun masjid, atau musalla, tapi sedekah guru untuk membangun paradaban siswa. Bukan terbangunnya pembangunan fisik, tapi tumbuhnya karakter dan tingkah laku siswa. Bukan terlihat megahnya masjid atau tempat ibadah lain, tapi sholehnya tingkah laku siswa, beradabnya siswa di tengah masyarakat.

Ibadah guru paling utama adalah belajar, kemudian baru mengajar. Jika tidak mementingkan belajar, maka guru tidak bisa ‘beribadah’ dalam pembelajaran. Padahal pembelajaran merupakan tempat ‘paling mustajab’ bagi guru unruk beribadah, banyak ‘amalan’ yang bisa dilakukan guru untuk beribadah: menyiapkan pembelajaran dengan baik, melaksanakan pembelajaran dengan sempurna, menilai hasil kerja siswa dengan niat memotivasi, dan banyak lagi ‘tugas tambahan’ yang bisa menopang ibadah guru.

Mesti disadari, jika guru tidak punya kemauan untuk belajar, maka tidak akan banyak ’ibadah’ yang akan dilakukan selama pembelajaran. Yang dikhawatirkan adalah guru akan ‘terkalahkan’ ibadah belajarnya oleh siswa, karena siswa juga memiliki banyak kesempatan untuk beribadah kalau mereka memang belajar. Jangan sampai ibadah belajar guru terlampaui oleh motivasi siswanya untuk belajar. Kalau ini terjadi, maka kekhusukan ibadah guru akan sedikit ‘terganggu’.

Cara guru beribadah dalam pembelajaran tidak boleh mengerjakan ‘yang itu itu saja’, perlu ada variasi. Ibadah dalam pembelajaran harus dirancang dalam format yang terbuka agar siswa tersentuh hatinya untuk belajar juga. Format ini diharapkan bisa merangsang siswa agar senang ‘beribadah’ sekaligus belajar, menemukan ibadah ibadah lain dan sehingga muncul ‘ketenangan’ batin siswa untuk konsisten untuk belajar sambil beribadah. Pembelajaran model ini hanya bisa didesain oleh guru-guru yang memiliki referensi ibadah yang bervariasi.

Dalam konteks yang lebih luas, ‘ibadah’ mengajar bukanlah tujuan utama, tapi membelajarkan, siswa dengan sendirinya ingin belajar, siswa termotivasi untuk ‘beribadah’ dalam pembelajaran karena ada ‘stimulus’ dari guru. Bukan zamannya, guru mengajar dan siswa belajar. Yang paling penting, siswa bukan hanya subjek pembelajaran, tapi juga adalah mitra guru dalam berlomba lomba beribadah (belajar). Guru memimpin siswa untuk belajar, guru memfasilitasi siswa untuk beribadah.

Diyakini bila guru konsisten berniat untuk beribadah dan menjadi teladan bagi siswa dalam berlomba lomba beribadah dalam pembelajaran, inshaallah akan muncul lima karakter dasar yang mesti terus dikembangkan oleh guru: integritas diri (peneladanan), welas asih (pengasuhan), disiplin (pembiasaan), cendekia (pembelajaran, dan pelopor perubahan (penerapan) (Republika). Inilah sebagian outcome dari pembelajaran penuh dengan nuansa ibadah.

Berikutnya, metode para guru untuk meningkatkan kapasitas ‘ibadahnya’ dalam pembelajaran sudah tentu dengan dengan memperbanyak bacaan yang “bergizi tinggi”. Buku-buku adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan para guru yang akan ditularkan kepada siswanya. Boleh dikatakan bahwa kadar ibadah guru dalam pembelajaran bisa dilihat dari seberapa banyak buku yang dibaca dan juga dikoleksinya (GMSekolah).

Outcome dari beribadah dalam proses pembelajaran tentu akan membentuk ketaqwaan, mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya (Republika). Guru dan harus menyadari bahwa setiap perintah Allah adalah ’kebaikan’ untuk dirinya; sebaliknya setiap larangan Allah apabila tetap dilanggar maka ’keburukan’ akan menimpa dirinya. Maka, dalam konteks ini, taqwa menjadi ukuran baik tidaknya seseorang, dan seseorang bisa mengetahui ”baik” dan ”tidak baik” itu (NU), maka medianya adalah pengetahuan (ilmu).

Oleh karena itu, harus diyakini bahwa seluruh pola rangkaian kegiatan pendidikan dan pembelajaran merupakan bentuk ibadah kepada Allah. "Belajar adalah ibadah". Tetapi hal ini harus tetap ‘dipromosikan’, maklum manusia sering lupa, sering terlena. Kadang kadang kita mengetahui bahwa sesuatu itu baik tetapi tidak ‘mau’ melaksanakannya. 

Itulah fenomena kompetensi dan performa. Secara singkat, kompetensi itu apa yang kita ketahui, sedang performa, apa yang kita kerjakan. Sering kita sudah tahu banyak hal yang baik, tapi kita sering pula tidak melaksanakan. Kita punya ilmu bahwa ‘shalat diawal waktu itu sangat dianjurkan’ tapi prakteknya kita sering lalai.

Waktunya kita jadi setiap langkah dalam pembelajaran diniatkan untuk ibadah, toh mau tidak mau, suka tidak suka kita harus melaksanakan kegiatan itu. Itu memang tugas dan kewajiban kita. Wallahu a'lam bish-shawab!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi