Oleh: Amri Ikhsan*
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS 2: 183).
Harus diakui bahwa puasa Ramadhan bukan hal yang ‘ringan’ bagi orang awam. Menunai ibadah ini cukup berat bagi orang yang tidak beriman. Sebagian orang akan ‘menderita’ selama bulan ramadhan.
Oleh karena itu, perlu cara yang elegan mengkomunikasikan ibadah ini dikalangan umat Islam yang memiliki ‘kadar’ keimanan yang berbeda beda. Al-Qur’an, Hadits memiliki cara ‘jitu’ dalam mengajak umat untuk menjalankan ibadah ini. Artinya, perlu ‘publik speaking’ yang handal dalam ‘mensosialisasikan ibadah ini.
Dirasakan, tidak sama dengan ibadah ibadah lain, ibadah puasa Ramadhan memiliki diksi dan narasi penuh keagungan, lebih menekankan ‘keuntungan’ lahir batin selama dan sesudah menjalankan ibadah ini. Umat Islam ‘disuguhkan’ dengan narasi ‘kenikmatan’ yang mendorong dan mengajak umat Islam, yang sebenarnya ibadah ini ‘cukup berat’.
Pertama, bulan suci Ramadhan disebut sebuat sebagai bulan yang penuh keberkahan, ampunan dan rakhmat serta kasih sayang dari Allah SWT. Menjalankan ibadah ini puasa memiliki banyak keutamaan baik untuk diri sendiri maupun hubungan sesama manusia serta hubungan dengan Allah SWT.
Kedua, ketika seseorang terperosok lebih dalam lembah dosa serta terperangkap ke berbagai macam kemaksiatan, maka hadirnya bulan Ramadan sebagai penyelamat dari semua itu. Dan mengembalikannya ke jalan yang benar. "Setiap manusia memiliki potensi berbuat dosa dan sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah yang bertaubat" kata Rasulullah SAW. Dan puasa Ramadhan adalah moment yang paling pas untuk melakukan itu (merdeka.com).
Ramadan merupakan masa yang paling pas untuk mengakui kesalahan diri sekaligus meng-upgrade keimanan. Sebelas bulan merupakan bulan penuh dosa dan kemaksiatan, kekhilafan. Allah SWT telah menyiapkan waktu kita untuk bertaubat. Memang kita diharuskan untuk bertaubat di setiap saat, maka taubat pada bulan Ramadan lebih diutamakan.
Ketiga, puasa Ramadhan dapat mensucikan hati dan jiwa dan mempersempit gerak setan (Muhammad Nasib ar-Rifa’i). Menurut Tafsir Jalalain, puasa dapat membendung syahwat yang menjadi pokok pangkal dan biang keladi maksiat dan mempengaruhi kehidupan manusia; syahwat faraj atau seks dan syahwat lapar. Apabila kedua syahwat tersebut tidak terkendali maka manusia akan ‘leluasa’ membuat dosa. Keberhasilan pengendalian diri tersebut akan mengangkat tingkatnya sebagai manusia (Buya Hamka, 2015).
Keempat, kesadaran akan mulut (Safria Andy) dan ‘jari tangan’ yang sering kali berbuat berdosa. Harus diakui ‘mulut dan jari tangan’ telah menjadi keresahan bagi orang-orang yang berada disekitar kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tidak sedikit ‘produk’ menanyangkan upaya untuk menghilangkan rasa bau mulut tersebut. Sesungguhnya, untuk menghilangkan ‘bau’ mulut dengan berhati-hati dalam berkata-kata terutama dalam menghina, meremehkan dan memfitnah diri orang lain.
Ini diistilahkan tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa) dari sifat-sifat dusta, berkata kotor (ar-raniry.ac.id). Puasa inilah sebagai ‘penahan’ manusia untuk menghindari ucapan, perbuatan yang bisa menyakiti orang lain, dan melatih menyingkirkan sifat dusta ini semata-mata karena mencari ridha dan pahala Allah SWT.
Kelima, dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: "Sesungguhnya Nabi SAW bersabda saat datang bulan Ramadan: Sungguh telah datang pada kalian bulan yang penuh barokah, telah diwajibkan atas kalian untuk shaum, akan dibukakan pada bulan itu pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan. Pada bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, siapa orang yang diharamkan kebaikannya maka sungguh diharamkan." (HR. Ahmad, An-Nasai, Al-Baihaqi).
Keenam, Ramadhan merupakan bulan teristimewa dari bulan bulan yang lain. Jangankan berbuat kebaikan kepada orang lain, tidurnya orang yang berpuasa dihitung sebagai pahala, nafasnya orang yang puasa meruapan zikir, semua amalan ibadah pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT, tapi dengan ‘syarat’ dilakukan dengan ikhlas, khusu’.
Ketujuh, “Sungguh di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan, yang akan dimasuki di hari kiamat oleh orang-orang yang berpuasa, tidak ada seorang pun yang bisa masuk darinya selain mereka. Dikatakan (pada hari kiamat): Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka pun bangkit (untuk masuk surga melalui pintu Ar-Royyan), tidak seorang pun yang bisa masuk darinya selain mereka, apabila mereka telah masuk pintu tersebut ditutup, maka tidak seorang pun yang bisa masuk darinya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Kedelapan, dosa-dosa akan diampuni, doa-doa orang yang puasa akan dikabulkan. Sesuai dengan makna Ramadan (panas/terik/membakar), maka hakikatnya puasa Ramadan akan memberikan hikmah dibakarnya atau dihanguskannya dosa-dosa orang yang berpuasa. Diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Sahabat Abu Hurairah ra, Rasul SAW pernah menyatakan bahwa ada tiga golongan orang yang doanya mustajab, yaitu: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai berbuka, dan doanya orang yang dianiaya.
Efeknya, puasa itu menjadikan hati bening (Supriyatna). Puasa mengeluarkan ‘kegundahan’ dalam hati, dan membelenggu dan melemahkan nafsu angkara murka. Hati yang bening mendorong kita sikap yang positif. Bila hati kita bening, kita ceberung berbuat baik, pikiran kita ‘bersih’ dari hal hal negatif dalam berhubungan dengan manusia lain.
Secara medis, ibadah puasa Ramadan memberikan pengaruh pada kesehatan. Selama ini hampir semua makanan masuk ke perut kita, tiada henti organ percenaan kita mengolah makanan yang masuk ke perut kita. Pada bulan Ramadhan, makanan yang masuk menjadi tertata, dan ‘mesin’ pencerna memiliki waktu untuk ‘istirahat’.
Apabila perut kita terus disesaki makanan secara berlebihan, maka lambat laun akan muncul penyakit (Rajasa). Terkait hal ini, Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS 7: 31)
Wahai Diri, yang penuh dengan dosa. Kenapa engkau sia siakan kesempatan untuk berbuat baik. Yaa, Sudahlah. Inilah saat engkau kembali, mencari ridha dan cintaMu yang sekian lama kau lupa. Ramadhan adalah peluang buatmu pendosa.
Ya Allah, ampuni aku. Ya Rahman Ya Rahim, berikan kesempatan buat hambaMu yang penuh dosa sepertiku untuk menikmati Ramadhan ini untuk ‘mengembalikan jati diri’.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1444 Hijriah, mohon maaf lahir bathin!
Demokrasi Indonesia di Era Digital: Harapan Terhadap Digitalisasi Pemilu
Trasdisi Mandi ka ayia (Turun Mandi) Masyarakat Sijunjung (Sisawah)
Tradisi Bajamba Ke Kuburan Panjang Nagari Sisawah (Sijunjung)
Perbedaan Peran dan Fungsi Perempuan di Minangkabau dan Mentawai Sumatera Barat

KPK Warning Keras Pemda di Jambi : Manajamen ASN Rawan Transaksi Jabatan dan Balas Jasa Politik



