Oleh: Amri Ikhsan
Wa m? arsaln?ka ill? ra?matal lil-'?lam?n: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
Rasulullah itu adalah rahmat, bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran, tetapi juga sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah Swt kepada beliau. (Quraish Shihab). Pembelajaran yang rahmatan lil alamin merupakan kegiatan berbasis kasih sayang untuk semua tanpa kecuali seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Pembelajaran yang rahmatan lil ‘alamin memberikan kesejukan, kedamaian, ketenteraman, dan keharmonisan dalam ruang kelas dalam bentuk kasih sayang, kemanusiaan, tolong menolong, dan saling menghormati (Fuad Jabali. 2011).
Guru dalam ruang kelas berusaha mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif yang memungkinkan siswa leluasa melakukan aktivitas dengan penuh kegairahan dan kebahagiaan (Ash Shabuni) tanpa rasa takut salah. Siswa berlomba lomba ‘berbuat salah’ demi berpartisipasi dalam pembelajaran, berbuat salah menuju kesempurnaan.
Keberadaan guru diibaratkan sama seperti air hujan yang turunkan ke permukaan bumi. Ketika hujan itu turun, semuanya mensyukurinya, hujan itu adalah rahmat dan rizki yang sedang Allah limpahkan. Dirindukan banyak orang. Hujan membuat cuaca panas menjadi dingin dan sejuk, membuat petani kegirangan karena tanaman mereka tumbuh subur.
Pembelajaran ini merubah kegiatan yang penuh dengan kesulitan menjadi penuh kegembiraan, sebuah kegiatan yang penuh dengan beban menjadi sesuatu yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang. Ini dilakukan guru untuk memproduktifkan lisan, pikiran dan hati. Guru dalam komunikasi pembelajaran diilustasikan: apa yang akan diucapkan oleh lisan; disinkronkan dengan akal pikiran; dan disaring dengan hati nurani dan diimplementasikan dengan perbuatan.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menegur seorang sahabat yang memberi beban yang terlalu berat terhadap seekor unta hingga perutnya menyentuh tanah. Begitu juga dalam pembelajaran, guru ‘dilarang keras’, memberi tugas ‘melebihi’ kemampuan, agar siswa tidak merasa ‘tersakiti’. Jika kepada binatang saja dilarang menyakitinya, apalagi terhadap manusia.
Pembelajaran rahmatan lil alamin mengelaborasi kegiatan belajar santai tapi serius, yang diarahkan untuk mengembangkan pribadi siswa untuk memperkuat rasa hormat kepada orang lain. Dan bertujuan untuk memanusiakan manusia (Mas’ud, 2002), menjunjung tinggi harkat martabat siswa dan menghargai siswa sebagai manusia. memperlakukan siswa secara adil, menerima kekurangan dan kelebihan masing masing siswa.
Prinsip pembelajaran yang Rahmatan Lil Alamin. Pertama, berperikemanusiaan (Khairan), pembelajaran selalu disesuaikan kebutuhan dan kepribadian siswa. Kegiatan, bahasa, tugas, nilai, komunikasi, interaksi, perintah, dan larangan yang ditetapkan harus memenuhi kemampuan dan kebutuhan siswa. Tidak ada kegiatan pembelajaran yang melanggar fitrah siswa sebagai manusia, dan tidak ada hukuman yang membuat siswa ‘mederita’. Pembelajaran tidak membeda bedakan siswa, baik dari asal daerah, rona kulit, status ekonomi dan juga status sosial.
Pembelajaran selalu mengakomodir semua kebutuhan dan karakter siswa. Pembebanan pembelajaran disesuaikan dan selaras dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Materi pelajaran disesuaikan dengan akal, hati, emosional, fitrah dan fisiknya. Pelaksanaan pembelajaran diimplementasi untuk dapat dimengerti, dirasakan dan diamalkan oleh siswa.
Kedua, mendunia, tidak dibatasi oleh geografi pada wilayah tertentu, suku, ras dan bangsa tertentu bahkan iklim serta geopolitik tertentu (Zainun). Pembelajaran dapat berguna untuk kehidupan siswa. Pembelajaran mengajarkan tentang silaturrahmi antar manusia, memberi pelajaran tentang saling membantu antar manusia. Pembelajaran didisain untuk meniadakan adanya permusuhan, ketidaksukaan, kebencian antara manusia apapun masalahnya.
Ketiga, komprehensif, bermakna mencakup masa, segala bidang (Abi Ishaq Ibrahim) dalam kehidupan siswa, dan perwujudan diri pribadi siswa tersebut. Pembelajaran dapat digunakan di setiap tempat, berlaku kapan saja dan berlaku dimana saja, tanpa adanya pembatasan dan diskriminasi.
Pembelajaran yang rahmatan lil ‘alamin bersifat menyeluruh dan mengatur semua aspek kehidupan, meliputi seluruh atau semua aspek kehidupan siswat, mengatur kehidupan siswa dengan orang sekitar dan hubungan siswa dengan lingkungannya, termasuk aspek politik, ekonomi, budaya, sosial, teknologi dll.
Keempat, realistis (Yusuf Al-Qardhawi), pembelajaran tidak memaksa ketika siswa tidak mampu melaksanakannya karena kondisi-kondisi tertentu. Pembelajaran tidak memaksakan tugas yang sulit, tidak memaksakan pakai HP bagi yang tidak punya kuota, tidak memaksakan menggunakan laptop, tidak memaksakan membeli sesuatu bagi yang tidak mampu.
Pembelajaran rahmatan Lil Alamin bersifat lemah lembut tanpa kekerasan (Khairan). Pembelajaran melarang dengan tegas melakukan perbuatan yang mengandung kekerasan baik fisik maupun mental apapun kesalahan siswa. Hukuman yang diberikan mesti diniatkan untuk mendidik.
Pembelajaran yang rahmatan lil alamin selalu menerapkan rasa saling menghargai (Gulen) dimana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, meskipun jika sesuatu tersebut tidak sejalan ‘kesukaan’ siswa. Pembelajaran memberikan ruang dan peluang untuk berpendapat dan mengutarakannya. Perbedaan pendapat itu biasa jika disikapi dengan baik maka akan menambah ilmu pengetahuan karena diutarakan dari sudut pandang berbeda dan hal ini tentu akan membawa siswa semakin dekat dengan kebenaran.
Pembelajaran Rahmatan lil alamiin itu memudahkan dan keringanan (Khairan). Pembelajaran menghindari kesulitan bagi siswa dalam memahami dan mengimplementasikannya. Ini bukan berarti semua pembelajaran seluruhnya mudah, secara proporsonal, ada kalanya pembelajaran sulit, perlu pemikiran tingkat tinggi, dikesempatan yang lain, pembelajaran cenderung mudah. Itulah belajar.
Memudahkan dalam konteks memberi pilihan yang termudah dan terbaik bukan yang sulit dan buruk atau yang membebani, menyediakan alternatif kemudahan dengan pilihan-pilihan yang mudah, bukan sengaja menawarkan pilihan-pilihan yang sulit dan susah untuk membuktikan guru itu ‘hebat’.
Pembelajaran yang Rahmatan lil alamin menggunakan bahasa yang santun, dan lembut, kosa katanya paling sopan, dengan kata-katanya tepat, jelas kepada siswa. Pembelajaran penuh dengan kata kata puja puji yang menyemangati siswa untuk terus belajar. Semakin santun bahasa guru, semakin semangat siswa belajar (Ikhsan, 2021). Pembelajaran terdeteksi segembira, sesenang, seriang, seikhlas selayaknya sedang bermain.
Adakah pembalajaran model ini? Pembelajaran ini diniatkan, diikhtiarkan dengan penuh keikhlasan, bukan ‘mengikuti’ apa kata orang apalagi ‘dipaksa’ meniru sesuatu yang belum dipahami. Wallahu a'lam bish-shawab!
*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah
Optimisme HMI dalam Percepatan Eskalasi Perekonomian Nasional


Hesti Perkuat Keperdulian Sosial Via Pojok Berkah TP PKK Provinsi Jambi



