Kehidupan Kampus Pasca Pademi



Minggu, 18 Desember 2022 - 17:30:11 WIB



Oleh: Abdul Jamil Al Rasyid*

 

 

Pandemi covid sudah berakhir, akan tetapi hal tersebut secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan social di tengah masyrakat. Selama lebih kurang dua tahun, pandemic covid sudah sangat meresahkan masyarakat. Misalnya saja di  bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Banyak hal yang terhambat dari hadirnya pandemic covid ini, kita tidak boleh menyalahkan bahwa sebuah virus itu bisa membuat semua roda kehidupan seakan berputar. Perubahan akibat dari adanya pandemi ini sering dikaitjan dengan dampak negatif. Dampak pandemi ini sudah mengelakar dari segi negatif dalam kehidupan umat manusia.

Selama lebih kurang dua tahun terssebut, manusia dipaksa untuk berhenti  bersosialisasi antar a satu sama lain. Aturan yang diterapkan oleh pemerintah akibat dari virus tersebut secara terpaksa harus dilakukan oleh elemen masyarakat. Pembatasan social berskala besar membuat masyarakat tentu mau tidak mau mematuhi aturan tersebut agar terhindar dari wabah. Menurut penulis tidak ada yang perlu disalahkan akibat dari pandemic selama kurang lebih dua tahun tersebut.  Kita bisa menafikan bahwa kesehatan lebih penting dari segalanya.

Dari pandemi ini kita akan  mellihat dampak positif dan negatifnya, misalnya saja dampak positif dari pandemi tersebut adalah semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang pendidikan contohnya dengan sekolah dari rumah, semua orang tahu bahwa sekolah dari rumah tersebut dapat mengungari biaya, tahu dengan perkembaan internet dan lainnya. Salah satu dampak yang paling besar dari pandemi ini adalah hal tersebut. Penulis yakin, dengan tidak adanya pandemic ini membuat perkembangan teknologi informasi dan komukasi tidak secepat sekarang.

Disamping dampak positif tentu ada dampak negatif yang dihadirkan oleh  pandemi ini. Salah satu dampak yang paling signifikan adalah social masyarakat. Penulis sudah melihat orang yang dibatasi sosialnya di saat pandemic akan terasa hinnga pandemi telah berakhir. Penulis sangat merasakan perbedaan social masyarakat khususnya di lingkungan kampus penulis dengan sebelum pandemi. Hal ini adalah salah satu kemirisan yang diakibatkan oleh pandemi  itu sendiri. Setelah pandemic banyak dari mahasiswa yang tidak tahu bagaimana hidup bersosial yang baik di tengah masyarakat.

Hal diatas adalah salah satu  contoh dampak negatif yang harus ditemukan solusi secara cepat. Penulis merasakan sekarang bahwa pasca pandemi, slogan siapa lo siapa gue tersbut sangat berlaku karena tidak adanya edukasi yang baik akibat social masyarakat sudah terputus. Sekarang para mahasiwa sudah bias melakukan sendiri tanpa butuh bantuan dari orang lain. Kemirisan seperti ini yang sering penulis lihat di dunia kampus, bagaimana para mahasiwa senang dengan sendirinya. Mengerjakan sesuatu hal tidak butuh bantuan orang lain. Penulis terkadang  ter tawa melihat mahasiwa sebelum pandemi dengan sesudah pandemic. Banyak mahasiswa  tersebut berlagak sok oke padahal apa yang dia lakukan tersebut belum sepenuhnya benar.

 Sekarang  tidak ada yang perlu disalahkan, secepatnya kita seluruh elemen mahasiwa bersatu untuk menemukan solusi yang tepat untuk kejadian seperti ini di masa depan. Kita tidak akan pernah tahu bahwa akan ada pandemi  berikutnya yang membuat siosial masyrakat kita itu terputus. Manusia tidak akan bias hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sekecil apapun yang kita buat, akan dibutuhkan bantuan orang lain untuk menyukseskan apa yang kita buat tersebut. Jangan pernah kita berjalan sendiri karena kereshan yang  timbul akibat dari perbuatan kita akan kita terima hasilnya nanti.

Di masa depan kita akan mengetahui bahwa uluran tangan orsng lain itu akan sangat penting. Hal ini bisa kita nafikan bahwa segala sesuatu kita butuh pertolongan. Hidup ditas dunia tidak pernah sendiri, karena sebuah system masyarakat akan sukses apabila dilakukan secara bersama. Tidak ada kesuksesan yang dilakuan dengan sendiri tanpa melibatkan orang lain. Tidak ada kesuksesan satu golongan hanya dilakukan oleh satu golongan saja. Penulis yakin setiap apapun yang dilakukan diatas dunia ini pasti selalu ada orang yang bekerja keras di belakang layar.

Untuk itu penulis berpesan, jangan pernah melakukan sesuatu hal dengan sendiri. Karena suatu saat uluran tangan dari orang lain sangat dibutuhkam di masa depan. Kita tidak boleh menyalahkan keadaan tetapi semua elemen yang terlibat mencarikan solusi yang  tepat agar nostalgia kita di masa lalu tidak pernah hilang. Jangan jadikan nostalgia kebersamaan di masa lalu hanya tinggal kenangan, tetapi jadikan nostalgia tersebut akan cambuk perubahan. Penulis bedoa agar setiap elemen yang terlibat akan merasakan bagaimana keresahan yang penulis lihat khususnya di lingkungan penulis. Pandemi telah berakhir, semoga sosial masyarakat di kampus lebih baik di masa depan.(*)

 

 

Penulis Adalah: Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas, Anggota Lembaga Mahasiswa Jurusan(Lmj) Sastra Minangkabau, Penulis Pernah Menerbitkan Tulisan Di Berbagai Media 34 Provinsi Indonesia, Penulis Sekarang Berdomisili Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek.



Artikel Rekomendasi