PUAN: Sang Maharatu



Kamis, 29 September 2022 - 12:14:09 WIB



Antony Z Abidin
Antony Z Abidin

Oleh: Antony Z Abidin*

 

 

Puan berarti nyonya.
Maharani, maharatu. Beruntunglah Maharatu cucu Sukarno dan putri Megawati.

Akankah generasi ketiga Sukarno, alumni Jurusan Komunikasi Massa FISIP UI ini meraih jabatan presiden RI? Seperti kakek dan ibunya?

Jalan terbuka lebar. Dia ga perlu dukungan partai lain utk melenggang jadi capres. PDIP sdh cukup.

Beda dgn Prabowo
maupun Airlangga, dua ketua partai yg tdk bisa jalan sendiri.

Prabowo, perlu PKB. Airlanggga membagun koalisi dg PAN dan PPP

Prabowo Menhan. Airlangga Menko Perekonokian.

Puan Ketua DPR-Ri. Pertama wanita indonesia menjabat posisi itu. Dia juga pernah menjabat Menko Kesra, juga perempuan pertama pd posisi tsb.

Proses pencalonan setahun lagi. Prabowo Puan, pasangan yg pernah digadang-gadang bubar sebelum pesta Februari 2024.

Siapa gerangan pasangan maharatu?

Tokoh ulama? Seperti Hasyim Muzadi, ketua PBNU yg pernah berduet dg Megawati pemilu 2004? Kalah!

Atau militer? Pasangan sang ibunda pd pemilu berikutnya? Prabawo?Kalah juga!

Atau kader internal PDIP Ganjar Pranowo yg elektabilitasnya selangit?

Tentu saja maharatu tak sudi jadi wapres meskipun elektabilitasnya minus satu. Ganjar 3 besar.

Siapakah pangeran yg bakal mengaet sang maharatu?

Anis? Pernah masuk daftar. JK pernah membuka jalan ke arah itu. Tapi, dilemanya sama. Anis dg elektabilitas tinggi apakah layak di posisi wapres?

Adakah jalan Maharni keturunan 2 presiden ini kembali merebut tahta?

Tentu banya jalan ke Roma. Dg tidak mengulang ibunya: 2 kali maju nyapres. Dua kali kalah.

Begitu juga Prabowo yg sejak TK hingga SLA hidup dan sekolah di negeri orang. Proses sosialisasinya jauh dari 200 jt rakyat pemilih.

Mega sejak balita hingga remaja hidup di istana. Bawah sadarnya bisa merendahkan tukang bakso.

Tak beda dg Prabowo. Dlm pidato politiknya dia enteng2 saja ngeledek veteran tua yg giginya ompong.

Makro sosiologi dg gamblang dpt menjelaskan fenomena struktural ini.

Artinya, Mega maupun Prabowo kimia kulturalnya ga nyambung dg rakyat.

Hal yg menjadikan SBY, anak kolong yg bapaknya pensiun letnan dua jadi pemenang ketika 2 kali berhadapan dg Mega.

Bahkan pasangan Mega Prabowo pun tak berkutik pd pemilu 2009 ketika berhadapan dg anak kolong itu.

SBY, proses sosialisasinya di lapisan terbesar rakyat Indonesia yg hudup masih pas-pasan.

Dgn semangat prajuritnya Prabowo masih mencoba ikut 2 pemilu selanjutnya. Lawannya figur kurus, tukang mebel, rakyat biasa. Secara sosiologis, Prabowo ga bakal bisa menang jika tdk banting setir. Memilih cawapres bukan hanya pertimbangan dukungan fulus.

Sang Maharatu, yg pernah belajar sosiologi di FISIP UI itu, dg ilmunya mestinya bisa beradaptasi. Dan memilih wakil yg kimianya nyambung dg rakyat.

Membalik budaya “langit” yg pernah membentuk sistem kepribadiannya.

Menjadi tokoh wanita yg menjiwai hati nurani rakyatnya.

Akan menjadi penyambung lidah rakyat Indonesia.

Presiden pertama wanita RI dipilih langsung rakyat.

Sayang, belum apa2 sudah salting lagi. Lempar kaos ke masa sambil merengut.

Nampaknya, ga mudah tugas Bu Mega.

Menjadikan Maharatu berjiwa kerakyatan. Menghayati kehidupan kaum marhaen.

Wong cilik dlm arti sesungguhnya.

Zuriich, 28 Sept 2022.



Artikel Rekomendasi