Dinamika Kelompok dalam Kepengurusan Komunitas Rumah Kreatif Pemuda Siginjai di Kota Jambi (RKPS)



Senin, 26 September 2022 - 10:35:19 WIB



Dinamika kelompok atau group dynamic, muncul di Jerman pada menjelang tahun 1940-an, diilhami oleh teori kekuatan medan yang terjadi di dalam sebuah kelompok, akibat dari proses interaksi antar anggota kelompok. Teori ini dikembangkan oleh ahli-ahli psikologi Jerman penganut aliran gestalt psycology. Salah seorang tokohnya adalah Kurt Lewin yang terkenal dengan Force-Field Theory. Mereka melihat sebuah kelompok sebagai satu kesatuan yang utuh, bukan sebagai kumpulan individu-individu yang terlepas satu sama lain.

Rumah Kreatif Pemuda Siginjai atau yang disingkat sebagai RKPS adalah suatu komunitas yang terdapat dikota Jambi yang berjalan dibidang kemasyarakatan, dan memiliki beberapa program untuk kemajuan masyarakat khususnya di kota Jambi. Dan pastinya RKPS memiliki susunan kepengurusan yang akhirnya membentuk suatu dinamika kelompok, dimana terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris 1, sekretaris 2, bendahara 1, bendahara 2 dan 50 lebih anggota tetap yang ada di komunitas ini.

Terbentuknya suatu dinamika kelompok didalam komunitas ini karena suatu tujuan yang sama disetiap individunya, oleh karena proses itula komunitas ini membentuk suatu dinamika kelompok. Dinamika merupakan suatu pola atau proses pertumbuhan, perubahan atau perkembangan dari suatu bidang tertentu, atau suatu sistem ikatan yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi antara unsur yang satu dengan yang lain, karena adanya pertalian yang langsung diantara unsur-unsur tersebut. Dinamika Kelompok adalah suatu metoda dan proses yang bertujuan meningkatkan nilai-nilai kerjasama kelompok. Artinya metoda dan proses dinamika kelompok ini berusaha menumbuhkan dan membangun kelompok, yang semula terdiri dari kumpulan individu-individu yang belum saling mengenal satu sama lain, menjadi satu kesatuan kelompok dengan satu tujuan, satu norma dan satu cara pencapaian berusaha yang disepakati bersama.

Dan komunitas ini telah membentuk suatu dinamika kelompok, karena telah membentuk suatu kesatuan yang memiliki nilai dan tujuan yang sama. Tetapi tetap saja didalam sebuah komunitas yang berbentuk dinamika kelompok pastinya ada beberapa konflik dan kesalahpahaman yang terjadi di kelompok, tetap pastinya setiap kelompok memiliki cara untuk mengatasi setiap konflik yang terjadi, baik dari tidak kompaknya setiap anggota komunitas ini, ataupun sebuah kepengurusannya yang juga sering tidak kompak dan sering terlalu independensi dalam mengutarakan argumen tanpa mendengerkan dan mencoba menerima argumen orang lain disetiap anggota kelompoknya.

Tetapi balik lagi dengan tujuan awal dinamika kelompok pastinya memiliki tujuan yang sama, dan pastinya komunitas RKPS ini memiliki tujuan yang sama disetiap individunya sehingga terjalinnya dinamika kelompok yang memiliki tujuan yang sama, saling keterkaitan, saling berhubungan dan saling relavan di setiap anggota satu dengan yang lainnya. Dan pastinya dinamika kelompok ini membutuhkan tahapan implementasi untuk membentuk tujuan kelompok tersebut, Berdasarkan pada Force-Field Theory, pada tahap implementasi Lewin ada tiga tahap pembaharuan perilaku kelompok, yaitu: 1) tahap unfreezing

2) moving  dan

3) refreezing.

Pada tahap pertama, merupakan tahap menyiapkan perilaku yang dititikberatkan pada upaya meminimalkan kekuatan perlawanan dari setiap anggota kelompok. Pada tahap kedua, merupakan tahap pergerakan, dengan mengubah orang, individu maupun kelompok, tugas-tugas, struktur organisasi, dan teknologi. Pada tahap terahir, merupakan tahap penstabilan perilaku dengan upaya penguatan dampak dari perubahan, evaluasi hasil perubahan dan modifikasi-modifikasi yang bersifat konstruktif. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilaksanakan ialah adanya regulasi proses feed-back melalui optimalisasi Team Building. Tim building adalah suatu metode yang dirancang untuk membantu kelompok-kelompok untuk dapat berperilaku secara lebih efektif dengan mengevaluasi dan meningkatkan struktur, proses, kepemimpinan, komunikasi, resolusi konflik dan kepuasan para anggota kelompok secara umum. Butuhnya implementasi ini agar tujuan kelompok dapat berjalan dengan baik, dan program program pengembangan komunitas ini jugaa akan berjalan dengan baik. Dan komunitas ini juga perlu yang namanya perkembangan di setiap fasenya, dan tidak secara otomatis dinamika kelompok ini akan berjalan dan terlaksana dengan baik tapa melalui fase perkembangan ini, akan menjadikan komunitas ini dapat berkembang secara baik, yaitu forming (fase kekelompokan), fase storming (fase peralihan), fase norming (fase pembentukan norma) dan fase performing (fase berprestasi). Semoga adanya teori pembentukan dinamika kelompok ini, dapat berpengaruh dengan baik oleh berjalannya komunitas ini, dikarenakan sudah memiliki dasar dasar bagaimana berdinamika dalam kelompok secara baik. Agar suatu tujuan Komunitas ini juga dapat terwujud dan berjalan dengan baik sesuai tujuan dari komunitas ini sendiri.(*)

 

Artikel ini dibuat oleh mahasiswi Universitas Sriwijaya Indralaya

Aisyah Putri Cantigi (Pendidikan Masyarakat)

Dosen Pembimbing

Ibu. Dra. Evy Ratna Kartika Waty, M.Pd

Ibu. Yanti Karmila Nengsih, M. Pd

 

 



Artikel Rekomendasi