Belum Usai ?



Jumat, 16 September 2022 - 07:49:17 WIB



Oleh: Inneke Clara Desty*

 

 

 

Mahasiswa Universitas Andalas angkatan 2019 melaksanakan Kuliah Kerja Nyata dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) tahun 2022. KKN-PPM merupakan suatu kegiatan intrakurikuler yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode mempersembahkan pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Tahun ini, KKN-PPM diselenggarakan selama 32 hari yang berlokasi tersebar di Sumatera Barat. Ribuan Mahasiswa Universitas Andalas dilepas ke masyarakat dengan beberapa pembekalan kuliah sebelumnya. KKN-PPM yang mulanya akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2022 harus diundur karena masalah KKN-MBKM, sehingga KKN-PPM dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2022. Dalam proses lokasi penempatan mahasiswa KKN banyak kendala, karena lambatnya pemberitahuan lokasi KKN diumumkan oleh UPT-KKN. Kabar baiknya disampaikan oleh pihak UPT-KKN pada tanggal 18 Juli 2022, dengan menyebarkan informasi terkait lokasi penempatan mahasiswa KKN.

Saya Inneke Clara Desty mahasiswa Kebidanan angkatan 2019. KKN-PPM masuk menjadi 3 SKS dalam sistem penilaian semester 6. Lokasi KKN-PM saya ditempatkan di Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Sebelum hari keberangkatan menuju lokasi KKN, anggota kelompok KKN yaitu 26 orang mengikuti pembinaan bersama DPL yaitu Bapak Drs. Yulizar Yusuf,MS pada hari Rabu, 20 Juli 2022 di salah satu gedung kuliah Universitas Andalas. Pembinaan membahas tentang tujuan pengadaan KKN-PPM, Lokasi, Teknis Survei Lokasi dan Keberangkatan, serta membahas mengenai program utama selama KKN berlangsung, juga mengenai pendokumentasian kegiatan selama KKN.

 

 

Senin, 25 Juli 2022 merupakan hari dimana semua sepakat untuk dijadikan sebagai hari keberangkatan anggota kelompok menuju lokasi KKN. Ditemani suara hujan, kami berdiskusi kecil dimana dan jam berapa kami akan berkumpul meskipun hanya melalui group whatsapp. Hujan bukanlah alasan kami untuk ga berjumpa dengan masyarakat Nagari Pakandangan, karena kami tetap melanjutkan rencana keberangkatan pada hari Senin tersebut. Kelompok melakukan perjalanan menggunakan “minibus abang jamet”, teman saya menamainya seperti itu karena selain pintu mobilnya yang tidak bisa di tutup, ada abang sopir yang warna rambutnya mengalahkan cerahnya matahari pagi. Tidak semua dari kami yang pergi dengan minibus, ada total 5 motor yang setiap motor nya diisi 2 orang dari kami. Saya dan teman laki-laki dari kelompok pergi dengan salah satu dari 5 motor tersebut. Walaupun hujan, angin kencang serta sangat teramat dingin dan kami hanya terbalut jas hujan 10 ribuan yang dibeli di sekitar Pasar Baru yang walaupun baru tapi tetap membuat basah bagian celana karena jas hujannya sangat tipis, tidak mematahkan niat kami untuk melanjutkan perjalanan menuju posko di Nagari Pakandangan yang harapannya akan sangat berkesan manis dari Korongnya.

Satu minggu pertama kehidupan KKN-ku, manis seperti senyum si Dia namun juga hambar seperti indomie rebus yang ku masak karena overdosis airnya. Rumah yang dijadikan sebagai posko cewek sangat layak huni, besar, dan fasilitas yang lebih lengkap dari pada posko cowok. Tapi terasa hambar karena di posko cewek kamar mandinya belum bisa digunakan, yang akhirnya membuat saya dan teman-teman cewek lainnya harus bangun subuh untuk berpencar mencari tempat pemandian umum sebelum melakukan kegiatan kelompok setiap hari. Meskipun begitu, karena hal yang menyulitkan tersebut menjadi jembatan untuk kami menjadi saling kenal satu dengan yang lain dan akhirnya seperti saudara. Sangat klise, saya tipikal pribadi yang susah bertegur sapa duluan, pribadi yang susah untuk hidup berdampingan dengan orang asing apalagi ini dengan 15 orang asing yang saya bahkan baru hafal namanya setelah bermalam di posko untuk malam pertama kami sebagai mahasiswa KKN. Namun dengan anggota KKN ini saya seperti bukan pribadi saya sendiri, karena saya bahkan mau berbagi kamar mandi, saya bahkan mau berbagi tempat makan, saya bahkan mau tidur dilantai dan sempit-sempittan dengan orang asing tersebut. Saya senang dengan pengalaman yang luar biasa ini, saya senang bisa mengalaminya. Saya mengerti bagaimana kami untuk bisa saling menerima orang asing, yaitu dengan saling mengerti dan memahami satu sama lain. Saling berlapang dada dan sabar apa pun yang terjadi. Saling mengungkapkan tanpa harus dipendam. Saling menerima tanpa nantinya berkomentar dalam diam. Satu minggu pertama menjadi waktu yang menyenangkan untuk saling berkenalan dan hidup berdampingan dengan teman-teman KKN Pakandangan. Kami melakukan setiap kegiatan bersama, saling berkoordinasi, saling berdiskusi, saling menyampaikan ide dan sarannya masing-masing. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada beberapa pribadi yang memilih untuk mengikuti saja tanpa berkomentar apa pun salah satunya yaitu saya sendiri.

Sisa minggu-minggu KKN, kami habiskan dengan banyak cerita dan kisah yang takkan pernah hilang. Banyak masalah yang membuat kami belajar menjadi lebih baik, membuat kami bisa memahami karakter individu yang kami temui, membuat kami terlatih mencari solusi untuk setiap kendala yang kami hadapi. Mungkin ada yang tidak sampai tuntas kami selesaikan namun untuk kemampuan sudah sepenuhnya kami berikan. Dari KKN kami belajar banyak hal, kami belajar bahwa tidak semua orang akan mau bermulut manis untuk membela dan memuji kami yang katanya dari “Kampus Favorit”. Kami juga melihat seberapa besar harapan masyarakat dengan kehadiran kami diantara mereka untuk membawa perubahan terhadap lingkungannya. Dari KKN pun saya dapat melihat berbagai tipe kepemimpinan yang sebelumnya saya pelajari di Kampus serta saya juga melihat dan melakukan secara langsung banyak materi yang dipelajari di Kampus dalam kehidupan selama KKN.

Mulai dari paragraf ini, saya akan sedikit menceritakan bagaimana kesan saya pada teman-teman kelompok selama 32 hari hidup berdampingan dengan saya. Kisah yang sangat indah namun seperti katanya sesuatu yang berlebihan akan ada sisi buruknya. Biarkan kisah buruk menjadi pelajaran untuk diri saya sendiri karena saya sangat berterima kasih untuk itu, hehe. Kehidupan KKN kami tidak akan berjudul manis jika tidak ada Bang Mul a.k.a Irfan si Ketua kelompok yang kerutan didahinya selalu memancing keributan padahal sudah seperti itu sejak dilahirkan, namun karena ada ketua kelompok menjadi lebih terkoordinasi dan semua kegiatan juga proker berjalan lancar dan sesuai yang dibayangkan. Tidak akan pernah muncul sebutan “Makhruf Amin” dalam kisah KKN kami jika tidak ada Rizki si Wakil Ketua dengan motor legendanya yang kalau kata Ibuku “motor preman”, waket yang berperan banyak dibalik layar yang walaupun didepan layar selalu mode “Aamiin” saja, waket yang mampu mengingatkan dan menegur Ketua jika keadaan kelompok yang sudah tak terkondisikan lagi, waket yang rajin dalam semua kegiatan dan piket masak (sekelompok piket sama Rizki enak guys, karena dia selalu standbye diposko saat piket dan serba bisa), jadi “Makhruf Amin” sebenarnya banyak peran kok hanya tidak terlihat didepan layar saja, ya kan Ki?. Lanjut, tidak akan pernah ada keluhan “Minggu ini Aku belum bayar kas” di dalam posko setiap akhir minggu jika tidak ada Hasanah si bendahara rasa emak dalam cerita KKN kami. Anah, orang yang sangat teramat mengerti pribadiku dan yang lain, orang yang menerima beban dapur sepertiku karena tidak semahir yang lain memasak, orang yang dengan lapang dada menyelesaikan semua kendala yang kami hadapi selama 32 hari KKN walaupun sering dengan keadaan moodnya yang dibuat badmood sama ketua kami, terima kasih ya Anah, hehe. Tidak akan pernah ada ucapan selamat pagi “Aku nasi uduk Mama Verra aja” jika tidak ada Verra si Sekretaris kelompok, Verra yang setiap malam di hadapan laptop entah apa yang dia kerjakan yang penting hidupin laptop, Verra yang rugi beberapa hari tidak ikut serta kegiatan kelompok karena Verra jadi orang penting perwakilan UNAND ke Jakarta, canda Kak. Verra yang dihari-hari terakhir KKN masak nasi uduk+pecel ayam jadi menu makan malam kelompok sampai semuanya pada nagih karena selama 30 hari kami makan tahu tempe sebagai menu utama.

 

 

Jangan lupakan anggota kelompok yang berperan sangat penting dalam kisah ini. Tidak akan pernah ada per-couple an di kelompok jika tidak ada Asep si cowok cool punya Frisca, Asep yang setiap pagi datang ontime hanya untuk nganterin motor ke posko cewek dan setelahnya Asep akan berusaha sendiri mencari tebengan, Asep yang udah dianggap jadi penghuni posko cewek karena jika yang datang Asep maka semuanya tetap tenang dan tidak akan ada kata-kata “ada cowok ada cowok”. Tidak akan pernah ada tawa di larut malam karena drama “Del udah tidur atau belum?” (hehe maaf Del) jika tidak ada Bu Delfina besti-nya Anah, Dedel namanya kalau kata Mia, si paling mau aja apa pun yang kita mintain tolong, ga banyak omong tapi serba bisa apa lagi masalah permainan UNO selalu menang soalnya. Tidak akan pernah ada suasana ceria dalam setiap pertemuan KKN jika tidak ada Yasir si moodbooster kelompok, Yasir dengan segala tingkahlaku mengundang tawanya disaat semua anggota kelompok lelah karena kegiatan KKN kebanyakan goro-nya namun dianggap ga berkontribusi, eh. Next, tidak akan pernah ada menu nasi goreng andalan jika tidak ada Saripah si mama kelompok karena setiap pagi masak nasi goreng untuk anak cewek di posko, Ipah yang buat suasana posko setiap hari rame karena suaranya, karena tawa recehnya, Ipah si pendiam saat eval yang selalu duduk diujung, tapi kalau duduk makan selalu ditengah, minggu-minggu awal yang ga bisa betah di posko dan selalu pulang ke Padang terus malamnya update story lagi nongki cantik. Pah, terima kasih banyak buat dekapan hangat sepanjang perjalanan Lubuk Bonta menuju Posko di bawah merdunya rintikan hujan ya, sangat berkesan. Tidak akan pernah ada sebutan “act fool” dalam video KKN jika tidak ada Dani si cowok full act of service yang dijadikan mata kuliah wajib cewek untuk cowok dikelompok. Dani dengan senyum manis, pembawaan diri yang tenang namun ternyata juga suka bercanda, yang selalu baik pinjamin motornya untuk dibonceng tiga sama yang cewek-cewek, dan Mama Dani yang kalau bawa in cake selalu 2 kotak untuk masing-masing posko. Tidak akan pernah ada perjalanan singkat untuk healling kelompok dan perjalanan manis dengan terik matahari menuju pantai jika tidak ada Raditya dengan mobil pick-up nya. Radit, cowok Pariaman pride yang sangat mencintai jurusannya hingga selalu budayakan berbahasa minang setiap saat, orang yang rela pinjamin motornya ke anak cewek juga. Maaf ya Dit, Niken sama Rani pernah jatuhin motornya tapi kami berdua aman kok ga ada luka. Tidak akan pernah ada panggilan “Rang” di posko jika tidak ada Nurul sipaling pulang ke Padang, Nurul dengan masakan enak tapi pedasnya.

Anggota selanjutnya, Dinda si ahli masak kelompok yang sambel pecel nya sangat enak, Dinda yang buat feed instagram KKN Pakandangan jadi cantik, dan keroyalan Papa Dinda saat traktir kami makan dan beliin Ayam. Tidak akan pernah ada candaan “piw piw” saat melihat monyet jika tidak ada Risna si happy virusnya posko cewek. Risna yang menampung semua keluhan cewek dan akhirnya dapat tersampaikan saat eval, Risna dengan pribadinya yang giat dalam semua kegiatan sangat membantu kelompok disaat-saat keadaan darurat. Tidak akan pernah terlihat cowok calm hobi nunduk saat forum jika tidak ada Zikrie, yang ditunggu-tunggu untuk berbicara saat eval, yang diisengin kelompok cewek karena terlalu calm, tapi juga yang suka dikeluhin karena kalau siang ga hadir piket. Tidak akan pernah ada sebutan “kantong doraemon” dalam kisah ini jika tidak ada sosok Mia dalam kelompok KKN, Mia dengan semua barang dan makanannya yang mau dijadikan milik bersama, Mia dengan sisi positif nyi selalu berbagi dan meminjamkan, Mama Mia yang selalu bawain makan dari Padang hingga sangat memudahkan piket masak karena udah dibawain lauk untuk makan malam (terima kasih Mama Mia DPL kedua kita). Tidak akan ada panggilan “Adek” dari Anah jika tidak ada Huzaimi a.k.a Ami 1, Ami partner tidurku yang selalu hadap-hadapan, Ami dengan vibesnya yang ceria dan semangat. Tidak akan ada sebutan “istri Ajo” jika tidak ada Aliffia, Pia yang hobi meluk orang saat tidur, partner mandi berdua untuk pertama kalinya juga jadi partner makan pertama kali di KKN. Tidak akan ada “Cewek Mamba” jika tidak ada Rani, yang hobi ngegas tapi katanya emang kayak gitu cara ngomongnya. Rani, “teman semua hal” aku selama KKN, teman ribut saat masak dikelompok piket Anah, teman julid pertama kali juga. Tidak akan ada per-couple an jika tidak ada Frisca di kelompok cewek, karena semuanya di couple-kan sama Frisca. Frisca yang 2 malamnya melamun dan mainin rambut karena Hp nya rusak, dan Frisca yang balik KKN bawa adik cowok.

Tidak akan pernah ada sebutan “bedemede” jika tidak ada Rizka, yang fi nya ke saya katanya sangat tidak mengenakan. Rizka partner mandi sikok bagi duoku, cuci bajupun berdua, tapi kalau Rizka badmood selalu saya kurang peka, maaf Rizka. Selanjutnya cewek imut, Thahirah a.k.a Rittuh alias Ami 2, Ami yang selalu bonceng tiga dengan cewek yang badannya kecil-kecil katanya kasian motor Ami kapasitasnya kecil dan Ami yang ternyata tetangga rumah tapi baru kenal saat KKN. Ada Ika dari Kampus 3 UNAND, terlihat calm diluar tapi ternyata suka cerita-cerita. Tidak akan ada drama bangun pagi jika tidak ada Haris dikelompok, yang hobi cari durian sampe subuh yang akhirnya bangun kesiangan dan memancing amarah ibunda kita alias Anah. Farhan, teman kelompok yang saya pikir akan sombong dan tidak akan pernah kenalan dengan saya, karena emang terlihat begitu. Tapi ternyata Farhan baik dan enak diajak ngobrol, rajin juga piket posko, ontime tiap kegiatan dan ikut berkontribusi jika ga ada masalah. Dan yang terakhir, yang selalu panggil kami Mbak karena dia emang cocok jadi adek kami, Taufiq. Yang awal-awal KKN udah demam karena tidur dengan AC alami katanya, yang kalau minum obat harus ke luar ruangan dulu karena ga mau diliatin yang lain, dan yang paling menghargai masakan anak piket karena selalu ngabisin nasi dan lauk yang dihidangkan.

Saya sadar, beberapa ungkapan saya seperti ungkapan pesan dan kesan yang teman-teman kelompok harapkan saat malam perpisahan yang lalu (emang benar begitu). Tapi saya sampaikan disini aja biar semua orang bisa ikut membayangkan bagaimana senyum kecil saya ikut terbit saat mendeskripsikan kalian semua. Saya sadar, tidak akan pernah ada pertemuan tanpa perpisahan. Tapi saya sadar, akan selalu ada kata “nongki yuk” yang dapat di lontarkan d group whatsapp untuk melepas rindu dengan kalian semua. Terimakasih untuk satu paket kisah indah dan buruk, dan terimakasih untuk kesempatan luarbiasa dalam mengenal pribadi satu sama lain. Belum usai kan teman-teman? Akan ada episode KKN Pakandangan selanjutnya kan? Jangan pernah usai ya, sayang kalian semua.(*)

 

 

Penulis adalah: Mahasiswi KKN-PPM Nagari Pakandangan, Universitas Andalas 



Artikel Rekomendasi