JAMBERITA.COM- Sekitar 60 sarang lebah menggantung di pohon-pohon berukuran besar di hutan Dusun Transad, Desa Sepintun Kabupaten Sarolangun yang menjadi ekosistem lebah sialang.
Hutan ini menjadi tempat tinggal warga rimba suku anak dalam (SAD) Batin telisak bagian dari wilayah Batin sembilan.
Madu ini menjadi salah satu madu langka karena merupakan jenis madu sialang yang kini semakin sulit ditemukan karena berkurangnya luasan hutan. Rasanya juga khas karena ada rasa buah.
Kelompok petani dari SAD kini sudah mendapatkan edukasi khusus dari Perkumpulan hijau dan beberapa lembaga lain yang memiliki perhatian ke lingkungan.
"Kita sudah mengajarkan ke mereka cara produksi yang baik dan higenis. Misalnya dari tempat yang bersih, cara pengambilan juga bersih dan ada proses dokumentasi saat pengambilannya," kata Ferry, Direktur Perkumpulan Hijau saat ditemui Selasa (31/5/2022).

Madu sialang dari Dusun Transad Sepintun
Pihaknya sengaja memberikan pendampingan untuk membantu pemasaran dengan memberikan harga yang lebih tinggi dari biasa mereka jual. "Biasanya mereka jual 30 ribu per kg, kami beli Rp150 ribu per kg," lanjutnya.
Tujuannya agar bisa memberikan motivasi mereka agar mau menjaga hutan karena manfaat ekonomi dari usaha madu mereka.
" Karena menjaga hutan berarti menjaga ekosistem mulai dari kembang hutan hingga lebah. Masyarakat senang karena madunya punya nilai ekonomi, hutan kita juga terjaga," harapnya.
Apalagi secara ekonomi menjanjikan. Ini karena dalam satu pohon, sarang lebah yang menempel itu bisa mencapai 20-200 sarang. Jadi satu pohon saja sudah memiliki nilai ekonomis yang tinggi asal dibantu pemasaran yang baik.
Ia mengatakan, nama pohon sialang sendiri bukan merupakan nama spesies pohon, melainkan sebutan bagi pohon yang biasanya berukuran tinggi dan besar yang dihuni atau pernah ditinggali oleh lebah hutan.
Ciri-ciri pohon sialang biasanya adalah merupakan pohon yang paling tinggi dan besar dibanding pohon-pohon di sekitarnya, memiliki dahan yang tidak terlalu rimbun sehingga memungkinkan penetrasi cahaya matahari, dan memiliki dahan dengan sudut yang cenderung datar
Ia mengatakan hutan di Dusun Transat ini sekitar 2000 hektar yang isinya ada garuh, jernang, meranti, kedondong hutan dan masih banyak lagi.
Karena madu sialang ini menempel di hutan besar. Jika ada lebah berarti pohonnya ukurannya besar. "Jadi jika masyarakat bisa hidup dari madu, otomatis, masyarakat akan menjaga hutannya," kata aktivis yang berperan di film dokumenter KINIPAN ini.
Ia mengatakan madu ini akan dipamerkan di acara pameran konsultasi nasional Lingkungan hidup Indonesia di Jambi yang akan digelar 1-5 Juni.
"Insya Allah petaninya hadir, sehingga masyarakat bisa bertanya langsung bagaimana cara produksinya," katanya.(sm)
Bupati Anwar Sadat Tinjau Pengerjaan Box Culvert Tanjung Bojo
Uji Materi KUHAP Baru, Empat Mahasiswa FH UNJA Gugat Aturan Salinan BAP ke MK
Mencuat Isu Siswa di Jambi Dilarang Ikut Ujian Karena SPP, Ombudsman Datang Urusan Kelar!
Rapat Tindaklanjut Temuan BPK RI Kembali Digelar, DPRD : Semua Wajib Hadir
Ketua Komisi II Minta BPPRD Kota Jambi Selesaikan Pajak yang Belum Dibayarkan
Kapolda Jambi Patroli Udara Pantau Titik Rawan Karhutla di Wilayah Provinsi Jambi


