Oleh: Amri Ikhsan*
Hal yang menentukan kualitas pendidikan dalam konteks output siswa adalah kualitas proses pembelajaran. Ini berhubungan dengan strategi, metode guru dalam ruang kelas untuk membuat siswa lebih nyaman, lebih asyik, serta lebih menikmati proses pembelajaran.
Tentu saja, guru memegang peranan vital dalam menyampaikan informasi dan mengelola pembelajaran. Guru bisa saja menemukan strategi sendiri atau membuat ‘teacher theory’, tapi ini sangat jarang dilakukan. Guru lebih banyak merujuk pada teori yang dikembang oleh pihak lain. Dalam konteks ini, guru hanya menjalan ‘teori’ yang sudah ada yang sudah dikembang oleh para ahli.
Memang harus begitu dalam rangka memperkaya khasanah pembelajaran guru dalam ruang kelas. Sudah lumrah, guru merujuk hasil pemikiran dan penelitian para pakar ‘umum’, tapi yang sering terlupakan adalah menjadikan pembelajaran sebagai ‘amal ibadah’ dengan melipat gandakan ‘pahala’ yang inshaallah yang didapatkan dari pembelajaran.
Ini bisa dilakukan dengan merujuk cara Rasulullah dalam melaksanakan ‘pembelajaran’. Rasulullah ini adalah seorang pengajar dan pendidik (Republika). Beliau memberikan pembelajaran dan pendidikan tentang makna dan maksud ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, hikmah (as-Sunnah), dan berbagai hal yang belum diketahui sahabatnya (baca- siswanya).
Pertama, kesabaran dan kontekstual, belajar itu merupakan proses yang komplek dan panjang dan dikuti oleh siswa yang memiliki latar belakang, kebutuhan, kemauan yang berbeda beda. Proses pembelajaran ini tentu memerlukan waktu yang panjang dan daya juang yang tinggi. Kesabaran guru sangat menentukan kualitas pembelajaran.
Seperti bagaimana kitab suci Alquran diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Al-Qurán ini diturunkan secara berangsur-angsur, tidak seketika utuh (Shihab). Maka dalam pembelajaran, guru harus bertahap, sedikit demi sedikit, tidak boleh dipaksa harus menguasai banyak materi dalam satu waktu demi mengejar target kurikulum. Ini menutut kesabaran guru.
Rasulullah SAW itu mengajarkan Alquran kepada ‘siswanya’ seiring dengan tahapan-tahapan turunnya, berdasarkan pesan ayat Al-Qur’an yang diturunkan (kontektual). Begitu juga ketika sebuah materi disampaikan, guru harus menemukan konteks penjelasan yang dekat dengan siswanya, sesuatu yang bisa ditemukan dalam kehidupan siswa. Sehingga muncul diskusi ‘hangat’ yang memberi pencerahan kepada siswa. Kalau tidak, siswa hanya ‘pendengar setia’.
Kedua, akrab, Nabi Muhammad berkedudukan amat mulia di tengah umat manusia, Dia merupakan ‘kekasih’ Allah SWT, tapi dalam pembelajaran Rasulullah SAW memilih rendah hati (Sopian Muhammad), Beliau akrab dengan sahabatnya (Azhari). Diyakini, keakrabanlah yang membuat komunikasi dan relasi sosial menjadi lebih baik dan bermakna.
Keakraban dalam pembelajaran bisa menumbuhkan komunikasi dan interaksi yang bisa diterima dengan simpati dan mendapatkan perhatian para siswa. Hampir tidak mungkin, umpamanya, seorang guru ‘tinggi hati’, sombong, bisa berkomunikasi elegan dengan siswanya.
Ketiga, tak monoton. Salah satu sifat manusia adalah cepat bosan. Apa yang dilakukan guru ‘yang itu saja’, metode dan strategi yang itu itu saja. Yang dilakukan siswa setiap pertemuan ‘itu saja’.
Rasulullah SAW melaksanakan pembelajaran secara variatif untuk membuat para sahabatnya lebih terkesan. Hadist riwayat Ibnu Mas’ud berikut: “Nabi SAW memilih hari-hari tertentu untuk menyampaikan mauidzah kepada kami karena beliau khawatir kami merasa bosan.”
Hadist ini mengisyaratkan guru harus memiliki banyak alternatif dalam pembelajaran, dia hendaknya menyiapkan metode, strategi pilihan untuk memvariasikan pembelajaran, memiliki pilihan waktu untuk menjelaskan dan berdiskusi, beragam media untuk mempermudah pemahaman dan aneka kegiatan untuk latihan.
Keempat, meminta diam untuk mengingatkannya. Meminta siswa untuk diam adalah salah satu cara yang paling baik untuk menarik perhatian mereka. Rasulullah Saw pernah bersabda ketika haji Wada, “Wahai manusia, tenanglah kalian!” (Al Nadawi. Shahih al Sirah al Nabawiyyah, 662). Kemudian melanjutkan lagi,
Diam sejenak di tengah-tengah penjelasan diniatkan untuk menarik perhatian para siswa, membuat perasaan dan kejiwaan seorang guru kembali rileks dan memberikan waktu kepada guru untuk mengatur pemikirannya. Bagi siswa, ‘berhenti sejenak’ merupakan waktu mereka untuk ‘memantapkan’ pemahaman mereka tentang satu topik. Waktu jeda ini bisa dimanfaatkan siswa untuk ‘menarik napas’ untuk pekerjaan ‘berat’ berikutnya.
Kelima, memanfaatkan ekspresi wajah. Harus diakui memanfaatkan ekspresi wajah di ruang kelas akan membantu seorang guru untuk dapat mewujudkan tujuan pembelajaran. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah melihat ludah pada arah kiblat. Hal itu membuat beliau marah hingga kemarahannya terlihat pada wajah beliau.Beliau pun berdiri dan mengelapnya dengan tangan beliau.
Ini mengindikasikan bahwa ‘kemarahan’ tidak selalu elegan diungkapkan dengan bahasa yang ‘keras’ atau tindakan fisik. Tapi bisa dilakukan dengan’ mengubah’ ekspresi wajah. Biasanya, bila siswa rebut, kemudian guru diam dengan wajah ‘serius’, maka siswa akan langsung diam. Ini bentuk komunikasi bermakna tanpa kata kata.
Kelima, tersenyum, Jarir bin Abdulullah al Bajli berkata, “Tidaklah Rasulullah Saw melarangku (untuk masuk ke rumahnya setelah aku minta izin) sejak aku masuk Islam dan tidaklah beliau melihatku kecuali beliau selalu menampakkan senyuman di depan wajahku.” (Shahih al Bukhari, no. 3035 dan Shahih Muslim, no. 135).
Senyuman itu pun memberikan pengaruh yang berarti bagi Jarir bin Abdulullah. Begitu dalam pembelajaran, senyum guru sangat berpengaruh pada motivasi siswa. Senyum guru adalah obat bagi siswa yang sakit, penyemangat bagi yang lelah, penstabil bagi yang berhasil, pemicu bagi siswa yang sedang berusaha, dll.
Keenam, etika bertanya. Rasulullah SAW bersabda, “ sesungguhnya kaum muslimin yang terbesar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lalu ia diharamkan karena pertanyaannya.”
Bertanya tentang apa yang belum diketahui untuk mendapatkan jawaban atas ketidaktahuan tersebut. Namun, bertanya bukan untuk menguji, atau untuk mempermalukan atau terlalu banyak bertanya tapi tanpa makna. Guru dan siswa perlu bertanya, tapi harus memperhitungkan kapan mestinyabertanya, tentang apa, siapa yang ditanya, dan bagaimana cara bertanya.
Tentu banyak strategi yang digunakan Rasulullah SAW dalam pembelajaran, digitalisasi pembelajaran sesuatu yang tidak bisa dielakkan, tapi mencontoh cara Nabi, jangan diabaikan, agar pembelajaran di ruang kelas ’bernilai ibadah’.
*) Penulis adalah seorang pendidik di Madrasah
Lewat Virtual, Kanwil Kemenkum Jambi Bahas Pengembangan Karier Jabatan Fungsional


