Idul Fitri : Kembali Takwa



Selasa, 17 Mei 2022 - 08:56:43 WIB



Oleh: Salamatul Fitri*

 

 

Bulan Ramadan yang mulia telah berlalu. Di dalamnya kaum muslim telah ditempa dengan amalan-amalan wajib yang diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti puasa ramadan dan zakat fitrah. Begitu juga dengan amalan-amalan sunnah seperti tilawah Al-Qur’an, salat tarawih, itikaf, sedekah dan lain-lain. Tentu semua dilakukan demi meraih apa yang menjadi tujuan diwajibkannya berpuasa di bulan ramadan yakni takwa.  

Hari raya idul fitri adalah hari kemenangan bagi umat islam. Namun perlu dipahami bahwa kemenangan bukanlah ditandai dengan perlengkapan yang serba baru. Akan tetapi takwalah yang seharusnya baru atau meningkat. Apakah umat islam secara keseluruhan sudah benar-benar meraih gelar takwa? Takwa sebagaimana dijelaskan para ulama adalah menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa saja yang dilarang-Nya, baik dalam lingkup individu, masyarakat maupun negara. Perintah takwa ini juga terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Imran ayat 102: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”.

Ketakwaan individu yakni melaksanakan perintah Allah yang bisa kita lakukan sendiri tanpa memerlukan orang lain, misalnya melaksanakan salat, puasa, menutup aurat, berdakwah dan zakat. Serta meninggalkan larangan-Nya misalnya tidak mencuri, tidak berzina, tidak merampok, tidak pacaran. Ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna manakala ketakwaan yang diraih hanyalah ketakwaan individu. Karena takwa kepada Allah mengharuskan menaati Allah pada seluruh aspek kehidupan, baik ibadah mahdah maupun ghairu mahdah. Orang bertakwa tidak hanya sesuai dengan aturan Allah pada saat salat, puasa, zakat, berhaji tetapi menjalankan aktivitas lain yang juga sesuai dengan aturan Allah.

Sayangnya ketakwaan individu yang terlihat selama ramadan hilang saat idul fitri datang. Aurat yang kembali terlihat, pacaran yang diumbar, penyimpangan seksual yang di pertontonkan serta masih banyak lagi. Ramadan ibarat ajang kembali taat, saat ramadan pergi maka maksiat kembali terjadi. Kehidupan sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan membuat masyarakat berlomba-lomba menuju ketaatan hanya saat ramadan, ketika ramadan pergi maka ketaatan pergi dan kembali maksiat yang terjadi. Padahal, ketaatan tidak hanya saat bulan ramadan tetapi menyertai sepanjang tahun.

Ketakwaan masyarakat bermakna masyarakat yang terdepan melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar. Masyarakat yang terdepan mengajak kepada kebaikan, membantu fakir-miskin, mengadakan bakti sosial, menolong korban bencana, melakukan tadarus bersama, meramaikan masjid, memuliakan ulama dan pengemban dakwah islam dan lain-lain. Masyarakat yang bertakwa bukan hanya menyeru kepada kebaikan tetapi juga mencegah tindak kemaksiatan yang terjadi, masyarakat yang “berisik” saat kemaksiatan di perlihatkan terang-terangan dan berupaya menghentikannya, masyarakat yang melakukan muhasabah (koreksi) kepada penguasa yang lalai dalam mengurusi rakyatnya serta tidak berdiam diri ketika saudara muslimnya di belahan dunia lainnya tersiksa dan tersakiti.  

Syukurnya, masyarakat saat ini terdepan dalam mencegah kemaksiatan. Saat pelaku penyimpang seksual di beri panggung, netizen beramai-ramai berkomentar dan akhirnya akun pelaku hilang. Sosok pemberi “panggung’ di kritik dan mentake down video yang dibuat. Inilah bentuk masyarakat yang masih peduli dan tidak ingin kemaksiatan semakin merajalela di negeri mayoritas muslim ini.

Selama ramadan, tayangan-tayangan media yang bernuansa religi kembali sarat pornografi dan kesia-siaan. Tempat-tempat hiburan yang tutup selama ramadan, kembali terbuka dan ramai dikunjungi orang. Tak ayal, ramadan demi ramadan hanyalah dijadikan sebagai bahan skorsing maksiat sementara. Karena masyarakat kadung beriman dengan akidah sekuler yang meminggirkan peran agama. Di masyarakat yang menganut akidah sekuler, agama hanya eksis saat ramadan saja. Ramadan berlalu, hawa nafsu dan akal manusia yang menjadi kendalinya. Meski, ramadan adalah jalan menuju takwa, namun semua itu hanya jargon semata.

Inilah, ironi negara yang menerapkan ideologi kapitalis-sekuler. Negeri hanya berbasa-basi menghormati bulan suci namun membiarkan sebelas bulan lainnya ternodai. Negeri yang mengaku berketuhanan tetapi hukum Allah diabaikan.

Walhasil, bertakwa tidak sebatas secara individu semata akan tetapi menuntut umat islam melaksanaakan seluruh perintah Allah secara menyeluruh dengan ikhlas dan meninggalkan larangan Allah dalam skala masyarakat hingga negara agar keberkahan selalu menyertai kehidupan ini. Dengan demikian merupakan suatu keharusan agar puasa yang dijalankan umat islam mencapai derajat takwa. Bertakwa juga mengharuskan umat islam memperjuangkan persatuan kaum muslim, memperjuangkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup serta bernegara dan memperjuangkan islam kaffah demi tegaknya sistem islam yang mulia. Wallahu’alambisshawab.(*)

 

 

Aktivis Muslimah*



Artikel Rekomendasi