Dari Peti Ke Perak



Senin, 16 Mei 2022 - 08:26:21 WIB



Oleh: Antony Z Abidin*

 

 

Bertahun-tahun sungai tercemar, dan rakyat menjadi kambing hitam dari keruhnya sungai2 dan dampak serius dari kerusakan alam.

Usaha rakyat itu dicap Penambangan Emas Tanpa Izin.

Berulangkali bentrok antara rskyat dan polisi, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Apa hal? Apa inti masalahnya?

Mengapa bertahun-tahun rakyat tdk diberi izin?

Toh, diizinkan atau tidak diizinkan, aktivitas perekonomian rakyat melalui sektor pertambangan itu tetap berlangsung.


Sudah saatnya ada terobosan tepat, realistik dan manusiawi.

Sudah waktunya ada aturan baru sebagai solusi kepada rakyat penambang di Pulau Emas “Swarnadwipa” ini.

Emas adalah anugerah Allah utk rakyat Sumatera dan hrs digunakan sebesar-besarnya utk kepentingan dan kemakmuran rakyat. Ekonomi monokultur karet yg selama ini cenderung memarjinalkan rakyat jambi, mesti menjadikan PERAK sebagai substitusi dan solusi pemerataan pemvangunan.

Batubara dan biji besi boleh saja menjadi porsi investor besar, penguasa dan pengusaha. Tetapi, tambang emas, sepenuhnya harus
untuk rakyat. Sejak dahulu kala juga begitu.

Rakyat biasa hidup sehari-hari dari motong getah. Tetapi ketika harga anjlok
mereka menderita.

Tambang emas rakyat (PERAK) itu solusi rakyat utk keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Bebaskan rakyat mendulang, negara hadir menanggulangi aspek lingkungannya melalui teknologi yg mestinya tdk selalu harus mahal.

Rakyat makmur, Sungai kembali alami: jernih dan ikannyo banyak.

16 Mei 2022





Artikel Rekomendasi