Oleh: Herni Susita*
Baru-baru ini Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartiko dituding rasis karena menulis status 'manusia gurun' berkaitan dengan peserta beasiswa LPDP. Pihak kampus pun buka suara.
"Terkait dengan pemberitaan tentang tulisan Prof Budi Santosa Purwakartiko oleh salah satu media online yang kemudian tersebar ke berbagai kanal media online lainnya dan mendapat tanggapan dari para netizen, dengan ini kami informasikan bahwa, tulisan Prof Budi Santosa Purwakartiko tersebut merupakan tulisan pribadi, dan tidak ada hubungannya dengan jabatan beliau sebagai Rektor ITK," bunyi keterangan pers ITK, Sabtu (30/4/2022).
Sungguh sangat disayangkan, bahwa intelektual hari ini sudah banyak tercekoki pemikirannya dengan islamofobia, sehingga ucapan-ucapan yang dilontarkannya pun tak lagi mencerminkan kecerdasan karena penolakannya terhadap ketaatan pada agama. Hal ini pun semakin membuktikan betapa rusak dan merusaknya sistem yang diterapkan hari ini, yaitu Kapitalisme sekuler. Akibat dari dasar sistem itu sendiri yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga orang-orang yang terbawa oleh arus sistem ini pun dirusak mentalitasnya hingga akhirnya memiliki pemikiran yang sekuler pula. sistem ini sejatinya memang sangat berbahaya, asas kebebasan yang diusungnya menjadi perisai bagi siapa saja untuk dapat menyampaikan kebenciannya atau ketidaksukaannya terhadap sesuatu secara terang-terangan walaupun hal tersebut bersifat senstif bagi sebuah golongan atau agama tertentu.
Inilah freedom hakiki ala sekuler sistem kapitalis. Mereka akan melindungi kebebasan siapa saja yang dapat menguntungkan kapitalis. Sebaliknya yang dianggap tidak menguntungkan akan disingkirkan.
Kaum intelektual sejatinya diisi oleh orang-orang cerdas yang tinggi pemikiran serta baik akhlak dan budi pekertinya. Orang-orang yang tergolong dalam Kelompok ini harusnya dapat lebih baik dalam memberikan contoh pada masyarakat dengan perbuatan dan perkataannya yang baik. Bukan malah sebaliknya, menyampaikan ucapan yang akhirnya justru melukai perasaan sebagian orang atau golongan.
Kaum intelektual juga sebenarnya merupakan harapan masyarakat untuk keadaan bangsa dan negara yang lebih baik, namun nyatanya sistem demokrasi kapitalisme hari ini hanya menciptakan para intelektual pengidap islamofobia. Mereka membenci aturan dan syariat yang dibawa oleh islam dalam dirinya dan menyampaikan kebenciannya secara terbuka. Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan para intelektual yang ada dalam sistem islam. Sebagaimana kita tau, bahwa islam telah mengukirkan sejarah dengan tinta emas peradabannya selama 13 abad yang banyak melahirkan para intelektual yang luar biasa dalam bidang ilmu dunia serta agama. Dunia mengenal Al-Khawarizmi sebagai penemu angka nol, yang mana hal ini sangat bermanfaat dalam ilmu matematika saat itu bahkan hingga sekarang, Ibnu Sina, yang dikenal sebagai bapak kedokteran modern. Bahkan ilmunya masih digunakan dan dipelajari oleh banyak dokter dari seluruh dunia hingga hari ini. Nama-nama para intelektual islam lainnya adalah Al-Farabi, Al-kindi serta seorang perempuan hebat bernama Maryam Al-Asturlaby serta masih banyak lagi. Mereka dikenal sebagai para intelektual hebat yang penemuannya sangat bermanfaat bagi masyarakat bahkan hingga zaman modern hari ini.
Ilmuwan-ilmuwan dan kaum Intelektual dalam sistem islam dahulu tentu saja mereka tak hanya sekedar ahli dalam bidang ilmu dunia, namun banyak dari mereka juga merupakan seorang ahli fikih dan hafiz Qur’an yang menjadikan akhlak mereka semakin indah karena kedekatan dan ketaatan mereka dalam beragama.
Sudah saatnya kita mengakhiri segala kebobrokan yang disebabkan sistem kapitalisme demokrasi yang diterapkan hari ini dengan mencampakkannya dan menggantikannya dengan sistem islam yang aturannya sempurna lagi paripurna, sehingga kaum intelektual tidak lagi tercekoki pemikirannya dengan pemikiran sekuler yang menebabkan mereka membenci aturan sang pencipta. Hanya dalam sistem islam sajalah akan lahir para intelektual yang hebat sebagai orang-orang yang paling besar kedudukannya dan takut pada murka Rabb-Nya.
Sekarang kunci utama ada pada pilihan dan sikap kita. Apakah tetap dalam kubangan sekuler sistem kapitalis. Atau pindah ke sistem yang sudah teruji dan berhasil menerapkannya selama kurung waktu 13 abad ( 622 M – 1924 M). Jawabnya yaitu sistem Islam.(*)
Penulis adalah: Pegiat Literasi dan Media*
Lewat Virtual, Kanwil Kemenkum Jambi Bahas Pengembangan Karier Jabatan Fungsional


