OLeh: M. Ali Surakhman
Di tengah gempuran transformasi di segala sisi, dan dunia sudah tak bersekat lagi, yang di namai masa 4.0 dan sekarang memasuki era 5.0, dunia sudah digengaman tangan, tak bisa kita tolak budaya urban hidup dan tumbuh subur di tengah tengah kita, pop, kotemporer, liberal culture, dan segala bentuk budaya eksperimental, menguasai ruang ruang hidup masyarakat urban, multicultural hal yang tak bisa ditolak, di tahan karena kebudayaan itu berubah dan berkembang seiring masa dan waktunya.
Pengunaan teknologi komunikasi yang semakin canggih juga menjadikan masyarakat secara instan dan mudah mengikuti budaya yang biasa dilekatkan pada masyarakat lain. Masyarakat sekarang lebih senang megikuti apa yang sedang trend dibandingkan memperdalam pengetahuan nilai nilai tradisional atau ilmu pengetahuan lain untuk meningkatkan kemampuan diri. Baik di desa maupun di kota, setiap orang tua dan muda dilalaikan dengan penggunaan handphone yang dipakai untuk berbagai keperluan. Maraknya penggunaan media sosial yang notabenenya lebih terarah pada dunia maya, secara langsung atau tidak langsung dapat menurunkan nilai-nilai sosial di kalangan masyarakat. Jika sebelumnya setiap kegiatan kemasyarakatan dilakukan dengan partisipasi langsung atau dengan cara berkomunikasi langsung, akan tetapi setelah kemunculan media sosial, orang disibukkan dengan komunikasi melalui media sosial. Perubahan yang cukup kentara lainnya adalah penerimaan seseorang terhadap budaya lain tanpa melalui filterisasi, akibat kecenderungan sering mendengar dan membaca tentang budaya orang, dan dianggap lebih menarik untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan mereka.
Namun di tengah gempuran transformasi budaya dari segala sisi dan sudut, ternyata masih ada yang berusaha menegakkan seni tradisi Melayu Jambi, dengan kekuatan dan daya kecil bergerak menghidupkan tradisi Tanah Pilih Pusako Bertuah ini, “Sekintang Dayo” bisa kita artikan “apalah daya, daya yang kecil”, akhirnya nama ini diberikan untuk nama sebuah sanggar Sekintang Dayo, yang menurut pendirinya Eri Argawan, mereka memulai dengan melatih tari beberapa orang anak saja, tidak gampang untuk menghidupkan tari tradisi di tengah budaya urban kota yang heterogen, multikultur, karena untuk mengangkat tradisi yang hamper hilang mesti melalui studi, research, yang panjang, namun ia merasa beruntung karena dari remaja sudah ikut menari tradisional Jambi, hingga memori itu tak hilang.
Namun untuk memulai sebuah pekerjaan butuh mental, keberanian, karena kita belum bisa menjawab hal yang belum terjadi, apakah bisa ?, berhasilkah ?, atau gugur di tengah jalan, maupun kalah sebelum bertanding. Namun segala sesuatu mesti dimulai dan berproses, bersama sang istri bu Lis yang juga mantan penari beliau memulai proses itu, melatih anak anak di sudut Taman Budaya Jambi, dan penulis melihat lansung proses itu, hingga anak anak sanggar Sekintang Dayo dari kelompok kecil hingga melalang buana melakukan pertunjukan ke keluar Jambi bahkan sampai ke luar negeri, dalam mengenalkan tradisi Jambi Tanah Pilih Pusako Bertuah ini. Untuk menguatkan proses itu mereka rutin menggelar festival tari yang diberi nama “Lah Puar Jalipung Tumbuh”.
Di tengah masa dan waktunya masa 4.0 menuju 5.0, di mana pergeseran nilai nilai budaya hal yang dianggap lumrah, namun tak semuanya cocok dengan kehidupan moral etika baik yang telah diwariskan para leluhur kita, karena sang pencipta alam raya telah membuat skenario yang sempurna untuk semua makhluk penghuninya, bak prosa tua “Lain ikan lain lubuknya, lain padang lain ilalangnya”, namun dengan nilai nilai lokal yang luhur kita bisa hidup berdampingan, bagaimanapun kita warnai rambut kita dengan warna kuning seperti orang barat, kita akan tetap menjadi Melayu dan disebut Melayu.
*Penggiat Budaya
Silahkan Daftar! Kemenaker Kembali Buka Pelatihan Vokasi Batch 2 untuk 24 Kejuaruan, Berikut Caranya
Pangkas Birokrasi, RSUD Raden Mattaher Siapkan Layanan Uronefro Terpadu Pasien Gagal Ginjal
Pedagang Ketiban Berkah Iduladha : Harap APPSI Jambi Selalu Hadir Bawa 'Keajaiban' ke Pasar!
Pemuda Kreatif, Inovatif, Berjiwa Wirausaha di Komunitas Rumah Kreatif Pemuda Siginjai Kota Jambi
Pangkas Birokrasi, RSUD Raden Mattaher Siapkan Layanan Uronefro Terpadu Pasien Gagal Ginjal



