Oleh: Yuli Farida*
Dua tahun sudah covid-19 menyebar diseluruh penjuru negeri. Kini Organisasi kesehatan Dunia ( WHO) menyebutkan bahwa ada varian baru lagi yang muncul yaitu varian Omicron. Varian ini berpotensi lebih menular dari pada virus corona sebelumnya. Namun, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, sistem kesehatan nasional saat ini telah siap menghadapi lonjakan kasus akibat varian Omicron. Namun, ia menekankan langkah preventif dari kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci utama untuk menekan laju penularan. “Perlu saya tegaskan sekali lagi, bahwa pemerintah memastikan sistem kesehatan kita hari ini sudah cukup siap untuk menghadapi Omicron ini. Luhut memperingatkan, puncak gelombang kasus varian Omicron di Indonesia akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret nanti. Prediksi tersebut berdasarkan data perkembangan kasus Covid-19 di Afrika Selatan. Menurut dia, pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi agar peningkatan kasus yang terjadi lebih landai dibandingkan negara lain. Dengan demikian, kenaikan kasus pun tak akan membebani sistem kesehatan nasional. Ia juga menekankan, upaya penegakan protokol kesehatan dan akselerasi vaksinasi menjadi sangat penting. Selain itu, kata dia, upaya pengetatan mobilitas masyarakat akan menjadi opsi terakhir yang akan dilakukan untuk memperlambat laju penularan kasus. Meskipun terjadi peningkatan kasus yang cukup signifikan, namun angka kasus kematian hingga saat ini masih terus terjaga. Bahkan, Luhut menyebut belum tercatat adanya kasus kematian akibat varian itu. (republika.co.id 16/01/2022 ).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Koordinator Penanganan PPKM wilayah Jawa dan Bali, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, tingkat kasus kematian akibat virus Covid-19 varian baru Omicron hingga kini belum ditemukan.
Nol kasus kematian
Masih nol kasus kematian virus varian Omicron, mantan Jenderal Kopasus ini percaya diri bahwa pemerintah lebih siap menghadapi serta mengatasi virus varian dari Covid-19 yang bermutasi. Dibandingkan,kejadian pada pertengahan Juni 2021, angka kasus Covid-19 varian Delta yang mencapai 50.000 perharinya.
RS dan obat-obatan lebih siap
Malah kata Luhut, kapasitas rumah sakit beserta fasilitas dan obat-obatannya telah disiapkan sejak dini. Sehingga tidak lagi menimbulkan kepanikan mengatasi dan menampung para pasien pada pertengahan tahun lalu. "Dilaporkan bahwa kesiapan kita menghadapi Omicron ini sudah sangat terkendali tetapi tetap dengan kehati-hatian. Mulai dari vaksinasi terus digencarkan. Kemudian, obat dan rumah sakit telahdisiapkan. Semua yang dibutuhkan untuk itu kita sudah siapkan.
Kasus Omicron di Indonesia masih rendah
Luhut bilang, sampai sekarang, posisi kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain seperti India, Amerika Serikat, maupun Inggris. "Mengenai Omicron sudah berkembang di 132 negara, kita masuk ranking 40. Jadi, jumlah kasus Omicron di Indonesia sudah 152 dan yang sudah sembuh ada 23 persen dari 152. Angka ini memang masih kita lihat cukup baik dibandingkan (negara) yang lain," sebutnya. "Kenapa kita lebih bagus dari negara lain, katakanlah India yang sama sekarang juga mengalami Omicron, saya ingin sampaikan dari pengamatan kami, lebih disiplin pemakaian masker misalnya. Dibandingkan dengan Negara Amerika dan Inggris.
Negara lain ingin tiru cara Indonesia atasi Covid-19
Mitigasi pemerintah lainnya adalah kerap melakukan evaluasi secara rutin sehingga kondisi apapun langsung sigap diatasi. Bahkan, pemerintah juga melibatkan para pakar-pakar dari jebolan universitas ternama. "Kita juga melakukan pemantauan secara rutin yang hampir tidak pernah terjadi di berbagai belahan dunia sehingga demikian, ketika terjadi sesuatu dengan cepat kita bisa mendeteksi. Melibatkan pakar-pakar kita, ada yang dari UI bekerja dengan kami sekarang, dari UGM dan Unair itu kualitasnya sangat mumpuni,malah ingin meniru cara Indonesia mengatasi virus varian Covid-19. "Kita tidak perlu merasa bahwa kita ini kalah dengan negara lain. (kompas.com 03/01/2022).
Kapitalisme Menglobal Dimasa Pandemic
Namun harus kita sadari bahwa kita hidup dalam system sekuler kapitalis yang memisahkan peran agama dari kehidupan system yang orientasinya hanya membunuh keuntungan materi dan tidak mau rugi dan kita bisa lihat bagaimana system ini menangani pandemic, gagal total. Kegagalan kapitalisme global tersebut jelas karena kepentingan ekonomi menjadi prioritas utama ketimbang keselamatan dan nyawa manusia. Dari awal kasus Covid-19 muncul, sistem dunia tidak melakukan lockdown karena menganggap biayanya yang mahal. Padahal, itu adalah kunci penanganan penyebaran Covid-19. Yang bisa kapitalisme lakukan saat ini termasuk semua rekomendasi WHO adalah upaya tambal sulam. Ini membuktikan kesalahan berpikir sistem kapitalisme yang mementingkan ekonomi di atas segalanya. Akhirnya, memungkinkan akan muncul varian baru Covid-19. Tentu kita semua tidak menginginkan hal ini terjadi berlarut-larut karena solusi gagap sistem kapitalisme terhadap kasus penyebaran Covid-19.
Solusi Islam
Berfikir ala system kapitalis jelas berbeda dengan system islam. Islam bukan hanya mementingkan kepentingan ibadah saja, tetapi islam juga mengatur kepentingan nyawa manusia dan tidak mengedepankan kepentingan ekonomi semata. Rasulullah saw. bersabda, ????????? ????? ??????????? ???? ??????????? “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari). Daulah Khilafah Islamiah sebagai pelindung warga negara. Ini adalah tanggung jawab besar bagi negara Islam.Untuk menangani pandemi penyakit menular semisal Covid-19 ini secara fundamental, sistem Islam kafah memiliki solusi, setidaknya dalam lima hal.
Pertama, pemimpin dalam sistem Islam kafah (Khalifah) akan melakukan lockdown atau menutup wilayah sumber penyakit. Harapannya, virus tidak menyebar luas dan daerah yang tidak terinfeksi dapat menjalankan aktivitas sosial ekonomi mereka secara normal tanpa takut tertular. Selain itu, upaya ini membuat penguasa Islam fokus menyelesaikan kasus di daerah terdampak wabah.
Kedua, melakukan Test-Tracing-Treatment (3T) dan memisahkan orang sehat dari orang sakit. Kemudian akan memberlakukan tes massal, baik rapid test maupun tes usap secara gratis bagi warganya. Bagi mereka yang sakit, negara mengurus pengobatannya hingga sembuh.
Ketiga, menyediakan segala kebutuhan pokok bagi masyarakat di daerah wabah yang tidak terinfeksi penyakit. Juga berupaya menjamin agar semua rakyat dapat melaksanakan protokol kesehatan guna memutus rantai penularan virus penyakit.
Keempat, menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup dan memadai bagi rakyat, juga memberikan tunjangan yang layak bagi tenaga medis/instansi kesehatan.
Kelima, mendukung penuh dengan menyediakan dana yang cukup untuk melakukan riset terhadap vaksin terbaik untuk menangani penemuan virus varian baru. Allahu a’lam bishshawab.(*)
Heboh Panic Buying Minyak Goreng Bagaimana Dalam Pandangan Islam
Mengurai Akar dan Solusi Konflik Areal Konsensi di Provinsi Jambi
Pertanian Penyelamat Ekonomi Nasional, Sebuah Catatan Pelantikan HKTI Jambi


Hesti Haris: Semangat Kartini Harus Dijawab dengan Aksi Nyata Perempuan Jambi di Era Digital


