Oleh: FERY T SIHOTANG,SKM,M.KES
Pembangunan suatu bangsa erat kaitanya dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Pembangunan sumber daya manusia dimulai sejak masih dalam kandungan sampai usia balita. Salah satu masalah gizi yang berdampak pada kualita sumber daya manusia di masa depan adalah balita dengan panjang/badan menurut umur tidak sesuai atau dikenal dengan pendek (stunting).
Peringatan Hari Gizi Nasioal (HGN) ke 62 yang diperingati setiap tanggal 25 Januari mengangkat tema “aksi bersama cegah stunting dan obesitas”. Tujuan dari tema ini adalah untuk menggalang perhatian dan komitmen seluruh pihak dalam upaya penanggulangan masalah stunting dikarenakan stunting disebabkan oleh multifaktor yang memerlukan keterlibatan tidak hanya sektor kesehatan saja tetapi perlu keterlibatan sektor lain disemuai lini baik itu pemerintah, swasta maupun organisasi kemasyarakatan.
Saat ini Indonesia masih mengalami masalah stunting meskipun ada penurunan prevalensi stunting tahun 2019 sebesar 27,7% menjadi 24,4% tahun 2021 dari hasi Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) (ambang batas WHO < 20%). Sedankan prevalensi stunting di Provinsi Jambi mengalami kenaikan yaitu 21,03% tahun 2019 menjadi 22,4% tahun 2021 dari hasil survei yang sama.
Apa defiinis stunting ? Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya Kegagalan tumbuh yang tejadi dalam kandungan ditandai dengan bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu kurang dari 2.500 gram serta panjang badan kurang dari 48 cm. Kegagalan tumbuh yang dimulai dari kandungan bisa terus berlanjut setelah lahir apabila tidak dilakukan intervensi yang tepat.
Apa dampak stunting ?Stunting menjadi perhatian dunia belakangan ini adalah karena dampak stunting yang bersifat jangka panjang dan menimbulkan kerugian sumber daya manusia maupun ekonomi apabila tidak ditangani secara serius. Dampak stunting adalah gangguan perkembangan otak, gangguan pertumbuan dan ganguan sistem metabolisme. Anak pendek sebagai tanda gagal tumbuh dapat berakibat pada kegagalan perkembangan otak sehingga tejadi gangguan tumbuh kembang yang berdampak pada berkurangnya kemampuan kognitif anak. Ada potensi kehilangan 10 – 15 poin IQ (inteligence quetion) pada anak yang pendek. Anak dengan pendek juga karena tinggi badan yang tidak sesuai maka akan meningkatkan resiko obesitas pada anak sehingga meningkakan resiko obesitas pada saat dewasa. Obesitas merupakan faktor resiko terjadinya penyakit yang terkait sistem metabolisme yang dikenal dengan penyakit tidak menular (PTM) seperti pennyakit jantung,penyakit diabetes,hipertensi dll. Selain itu dampak stunting juga berkontribuasi terhadap ekonomi dimana akibat stunting potensi kehilangan Gross Domestic Product (GDP) 2 – 3%
Lalu bagaimana cara mencegah dan menanggulangi stunting? Stunting bisa dicegah dan ditanggulangi dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat.
Waktu yang tepat adalah pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu dimulai dari dalam kandungan (280 hari) sampai usia 2 tahun (720 hari). Cara yang tepat dalam mencegah stunting adalah melalui upaya perbaikan gizi pada ibu hamil yaitu dengan pemberian asupan makanan yang bergizi sesuai dengan pedoman gizi seimbang, pemberian suplementasi gizi, menjaga kesehatan ibu hamil serta mencegah agar ibu hamil tidak mengalami masalah gizi (anemia, kurang energi kronis) dan kesehatan. Untuk mencegah ibu hamil dari masalah gizi dan kesehatan selama kehamilan seorang ibu hamil perlu memeriksakan diri melalui pelayanan ante natal care (ANC) minimal 6 kali selama kehamilan.
Upaya pencegahan diperiode 720 hari atau setelah lahir sanga perlu dilakukan untuk memastikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan umurnya. Upaya yang dilakukan adalah inisiasi menyusu dini, pemberian ASI Ekslusif serta pemberian Makanan Pendamping ASI yang tepat jumlah dan tepat jenis. Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses pengenalan pertama kepada bayi baru lahir terhadap sumber makanan yaitu Air Susu Ibu. IMD sangat menentukan keberhasilan proses menyusui selanjutnya juga meningkatkan kesempatan anak untuk mendapatkan zat antibodi pertama dalam kehidupannya yaitu kolostrum. ASI Ekslusif adalah pemberian hanya Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi tampa tambahan apapun kecuali obat selama 6 bulan. Sedankan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) adalah pemberian makanan selain ASI yang dimulai sejak 6 bulan dengan prinsip 5 T yaitu : Tepat tekstur,Tepat waktu,Tepat jumlah dan Tepat jenis.
Selain upaya diatas perlu dilakukan upaya deteksi dini terhadap adanya kecenderungan gangguan pertumbuhan pada anak melalui pemantauan pertumbuhan yaitu penimbangan berat badan dan tinggi badan. Penimbangan dilakukan setiap bulan atau minimal 8 kali setahun sedankan untuk tinggi badan 2 kali setahun. Pemantauan pertumbuhan bertujuan untuk mendeteksi dini apabila ada gangguan pertumbuhan pada balita sehingga bisa diintervensi secara cepat.
Stunting adalah masalah yang penyebab langsungnya memang masalah asupan makan dan penyakit infeksi namun penyebab langsung tersebut disebabkan oleh faktor-faktor lain diluar sektor kesehatan misalnya pendidikan,ekonomi, akses pelayanan kesehatan,akses air bersih,kemiskinan. Kontribusi sektor diluar kesehatan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting sebesar 70% sedankan sektor kesehatan sebesar 30%. Untuk itu Kesemua ini membutuhkan kerjasama dan komintmen bersama antar lembaga,pemangku kepentingan dan masyarakat dalam menggerakan sumber daya yang ada untuk menanggulangi stunting. Cegah Stunting Itu Penting.(*)
Penulis adalah: Praktisi Gizi/Staf Seksi Kesga Dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Jambi*
Jebakan Ekonomi Ekstraktif, Kolase Kerusakan Lingkungan di Jambi


Genjot Kinerja Pembinaan Hukum, Kakanwil Jajaran Ikuti Arahan BPHN


