Milir Bangkit



Sabtu, 15 Januari 2022 - 13:18:19 WIB



Oleh: Antony Z Abidin*

 

 

 

 

PASAR ANGSO DUO, yg dulu dikenal sebagai pelabuhan Tanah Timbun adalah tempat bersejarah bagi mantan Gunernur Jambi Pak Hasan Basri Agus (HBA) yg kini snggota DPRRI, dan juga saya. 

Di sinilah rakit yg ditumpangi HBA dan kapal motor yg saya naiki berlabuh, ketika kami melanjutkan sekolah di kota Jambi lebih dari setengah abad lalu.

HBA milir dari Sarolangun, saya dari Bamgko. HBA menelusuri 

Sungai Tembesi, saya beranyut di Sungai Merangin. Berlabuh di Tanah Timbun, pelabuhan tradisional, tempat nyandar kapal2 kecil yg menggandeng tongkang, termasuk rakit2 kala itu.  

Pelabuhan Tanah Timbun kala itu betul2 berupa timbunan tanah dengan turap dari bambu. Berbentuk jalan memanjang dari daratan selebar sekitar 6 meter dan pajang 100 meter. 

Dari hulu, mengangkut karet. Ke mudik, kapal2 motor itu mengangkut bahan kebutuhan pokok: beras, gula, garam, minyak goreng, ikan asin dll.

Di sebeleh hilir pelabuhan Tanah Timbun, terletak dermaga Pelabuhan Kota Jambi. 

Detmaga itu terbuat dari kayu yg kokoh, tempat bongkar pasang barang dari berbagai pelabuhan besar di dalam negeri, bahkan dari luar negeri. Kapal2 itu bertonase sekitar 3000 ton. Tak jarang berbendera asing, Panama dll.

Dari pelabuhan yg sekarang jadi Mall WTC itulah saya naik kapal Takari tahun 1967. Melanjutkan sekolah ke SMA di Jakarta.

Ketika saya dan HBA menghadiri pembukaan Lomba Mulukis Murid2 SD di terminal Angso Duo (5/12) kami berdua sempat bernostalgia. Bahkan timbul ide napak tilas: naik rakit.

Lomba Lukis itu diselenggarakan satu hari menjelang HUT Jambi oleh

Yayasan Sahabat Sungai Batanghari. Diikuti 200 peserta. Hasil lukisannya banyak yg bagus. Yg terbaik diberikan hadiah. Gubernur Al Haris berjanji akan memajang lukisan para pemenang lomba.

Lomba lukisan ini akan menjadi agenda tahunan Yayasan Sahabat Sungai Batanghari. Selain tingkat SD, juga tingkat SMP dan SLA. Di Kota Jambi dan juga di Kota2 Kabupaten hulu Sungai Batanghari.

Tujuannya: mendekatkan anak2 dan para milenial dg Sungai Batanghari yg punya peran dalam sejarah dan peradaban sejak puluhan abad lalu

Mereka, umumnya tidak dekat lagi dengan sungai yg semakin diangkat, penuh lumpur, keruh, semakin sempit dan tercemar merkuri itu.

Tiga hari kemudian, 8 Januari 2022, pengurus YSSB menyelenggarakan rapat. Antara lain diputuskan program “MILIR BERAKIT” yg akan dilaksakan bulan Maret nanti, bertepatan dengan Hari Air.

Hadir dalam rapat tsb Bupati Sarolangun Cek Endra yg sangat mendukung program ini.

Puluhan rakit akan bertolak dari Sarolangun. HBA dan CE akan ikut “milir”. Pesertanya di rencanakan dari berbagai desa hulu Sungai Tembesi.

Dari Muara Siau, tempat ulama sepuh Kiyai Abdul Azis “milir” 70 tahun lalu menuntut ilmu di sebersng Kota Jambi.

Juga dari Sekancing, kampung halaman Gubernur Al Haris. Serta dari desa2 Kabupaten Sarolangun di hilirnya. Tentu akan bertambah semarak jika juga diikuti desa2 dari kabupaten

Batanghari dan Muara Jambi yg dilintasi ekspedisi “Milir Berakit” itu.

Puncaknya adalah Fertival Rakit Sungai Batsnghari, yg menurut rencana dilakssnan pada Hari

Sungai, bulan Juli mendatang.

Pada festival tersebut, “milir berakit” lebih kolosal. Puluhan rakit akan bergerak serentak dari Bangko, Bungo dan Tebo.

Selanjutnya ratusan rakit akan berkumpul di Muara Tembesi. Pada malam hari akan menjadi pemandangan yg indah. Pelita, dsn juga lampu batre LED yg menerangi kendaraan tradisional itu sepanjang sungai yg dilewatinya. Ada puluhan ribu warga akan menyaksikannya.

Dari peristiwa ini diharapkan kita akan lebih peduli terhadap sungai yg kini merana itu. 

Sungai terpanjang di Sumatra Sumatera. Panjang pula sejarahnya, termasuk ekspedisi persahabatan Pamalayu 1275-1286. 

Yg kemudian melahirkan konsep Nusantara di bawah bendera Kerajaan Besar Majapit. 

Dua putri Raja Melayu Jambi, menikah dg pembesar Singosari yg menjelma menjadi 

Majapahit. Satu Mulawarman yg bertakhta di Sumatera, satunya lagi Jayanegara yg menjadi Raja Majapahit kedua.

Milir Berakit dan Festival Rakit Sungai Batanghari, akan menjadi bagian dari restorasi sungai sangat bersejarah ini. Ada aspek dan fungsi sejarah, ekologi, sosial, budaya, ekonomi. Termasuk fungsi transportasi yg lama diabaikan. Serta fungsi parawisata yg sangat potensial.



Artikel Rekomendasi